home about project archives id place




















9 AGUSTUS Tradisi The Day of Wong Jawa di Suriname

oleh: IACC Malang | Sosial Budaya | 8 Bulan lalu

ditulis oleh: Elisabeth Kurniawati

TEPUK tangan disertai seruan ’’God zydank’’ (rasa syukur dalam bahasa Belanda) para penumpang mengiringi landing-nya pesawat KLM dengan nomor penerbangan KL0713 di Bandara Johan Adolf Pengel, Suriname, Sabtu (1/8) pukul 16.05 waktu setempat atau Minggu (2/8) pukul 02.05 WIB. Selain bahasa Belanda, terdengar ucapan yang tidak asing di telinga saya, ’’Lah, wis tekan iki (Lha, sudah sampai ini).’’
Ya, itu adalah ucapan penumpang keturunan Jawa di kursi depan saya. Mereka terdiri atas suami istri dan seorang anak perempuan cantik berambut blonde.
’’Slamet yo Pak. Mengko awak dewe ketemu nang nggone Pak Does (Selamat ya Pak. Nanti kita ketemu di rumah Pak Does),’’ ujar Edwin Marto Semitro, penumpang Jawa itu, kepada saya.
Edwin bersama istri dan anaknya pulang dari Belanda setelah mengunjungi saudaranya di Leiden. Mereka mengenal dengan baik keluarga teman saya, seniman pemilik Kabaret Does, Salimin Ardjooetomo alias Captain Does.
Sebelum terbang, di Bandara Schiphol, Amsterdam, kami sempat berbincang berbagai hal soal Suriname dan Indonesia. Di antaranya, dia bercerita tentang teman saya yang pernah manggung di Festival Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, pada 2007 itu. Selama berbincang, Edwin masih tampak fasih berbahasa Jawa, meski ngoko (kasar) dan kadang diselingi bahasa Belanda.
Pesawat Airbus yang membawa ratusan penumpang dari Belanda itu menempuh perjalanan jauh, melintasi Samudra Atlantik, selama 8 jam. Ditambah penerbangan dari Jakarta, saya mesti duduk di kursi pesawat selama lebih dari 24 jam sebelum tiba di negara bekas koloni Belanda tersebut.
Karena itu, begitu sampai di bandara di Distrik Para tersebut, saya langsung bersyukur bisa menginjakkan kaki di Suriname untuk kali kedua. Sembilan tahun silam, saya juga melakukan tugas jurnalistik, meliput suasana Ramadan dan Lebaran masyarakat di negeri ’’cuwilan Jawa ing pojok donya (cuilan Jawa di pojok dunia)’’ itu.
Di bandara, saya sudah ditunggu dua rombongan. Yang pertama Third Secretary Kedubes RI di Paramaribo Bibid Kuslandinu dan staf serta keluarga Captain Does yang diwakili Argyll Legiran (anak), Roosmi Tambeng (istri), serta tiga cucunya. Kami pun berpelukan lama sambil meneteskan air mata untuk melepaskan rasa kangen setelah sekian tahun berpisah.
’’Wilujeng to Pak Arief. Aku wis kangen tenan karo kowe (Selamat Pak Arief. Saya sudah sangat kangen dengan Anda),’’ ungkap Argyll, anak ketiga Captain Does yang beristri orang Nglipar, Gunungkidul, Jogjakarta.
Tanpa menunggu lama, begitu urusan keimigrasian beres, saya terus melanjutkan perjalanan ke Distrik Wanica. Saya langsung njujug rumah Captain Does di Desa Purwodadi, Lelydorp. Sedangkan Bibid dan staf menuju ke Paramaribo, ibu kota Suriname.
***
Tampaknya, peringatan 125 tahun orang Jawa bermigrasi ke Suriname dirayakan ’’cukup besar’’ oleh masyarakat keturunan Jawa di negara tersebut. Malam itu saja, ada tiga undangan acara. Yang pertama, pembukaan pameran lukisan 13 seniman keturunan Jawa paling kondang di Suriname. Acara bertempat di Gedung De Hal, Paramaribo, mulai pukul 18.30.
Kemudian, pukul 19.30, giliran Pop Song Jawa Open Festival di Gedung Indra Maju (baca: Indra Mayu), sekitar 15 menit dari De Hal. Malam itu, tampil 23 peserta yang memperebutkan 10 tempat di babak final. Peserta bukan hanya keturunan Jawa. Tetapi, ada pula ’’wong ireng’’ dari suku Creol, penduduk asli Suriname, yang berpartisipasi. Lomba yang dipadati penonton dan dihadiri Duta Besar RI untuk Suriname Dominicus Supratikto tersebut berakhir sekitar pukul 22.30.
Puncaknya, pada tengah malam di tempat yang sama, acara yang ditunggu-tunggu anak-anak muda keturunan Jawa di Paramaribo dimulai: Jawa Night. Yakni, acara kelon ngadeg alias dansa-dansi khas Suriname. Maka, begitu musik terdengar berdentuman, floor hall Indra Maju yang luasnya dua kali lapangan futsal itu pun bagaikan kolam ikan. Puluhan anak muda berpasang-pasangan tumplek bleg turun melantai.
Ada yang menari poco-poco (di Suriname tari poco-poco dengan lagu-lagu Manado sedang ngetren). Ada yang asyik masyuk joged sikep (bergojet sambil berpelukan erat). Ada pula yang sekadar menggerakkan badan sambil minum Pabro Bir, minuman khas negara itu.
’’Tapi, ini tidak semata-mata untuk menyambut peringatan 125 tahun orang Jawa di Suriname lho. Ini acara rutin di Indra Maju yang dikhususkan untuk anak-anak Jawa,’’ kata seorang pengurus gedung serbaguna itu.
***
Esoknya, Minggu pagi, giliran KBRI yang punya gawe besar menyambut peringatan para leluhur orang-orang Jawa menginjakkan kaki kali pertama di Suriname pada 9 Agustus 1890 itu. Yakni, mengadakan charity bazaar di kompleks KBRI, Van Brussellaan 3, Uitvlugt, Paramaribo.
Selama sehari penuh, warga keturunan Jawa ’’dimanjakan’’ dengan berbagai produk serba-Jawa. Baik berupa aneka makanan maupun barang-barang yang diperjualbelikan. Bahkan, kesenian yang ditampilkan beraroma Jawa atau setidaknya budaya Indonesia.
Hebatnya, charity bazaar itu dihadiri langsung oleh first lady Presiden Suriname Desire Delano Bouterse, Ny Inggid Waaldring, dan istri Wapres Ny Ashwien Adhin.
Ada 28 stan yang memenuhi halaman kantor kedutaan. Sisi kiri merupakan stan makanan, sedangkan di kanan ada stan-stan produk fashion dan aksesori. Sejak acara dibuka pukul 10.00, warga berduyun-duyun memadati stan-stan, terutama makanan.
Maklum, aneka makanan khas Jawa dijajakan. Misalnya, stan milik Argyll Legiran. Pengunjung bisa merasakan nikmatnya nasi berkat komplet bikinan bapak satu anak itu. Menunya terdiri atas nasi rames, nasi kuning, soto, gudangan, pecel, gule sapi, sate ayam, bakso, lontong tahu, dan bakmi goreng.
Jajanan yang disajikan berupa lemper, lepet, mendut, ireng-ireng, kukis, apem, bakwan jagong, martabak, dan kue lapis Surabaya. Untuk minuman, Argyll menyuguhkan es campur dan es cendol.
Tidak jauh berbeda, di stan Ibu-Ibu Pengajian ’’Hidajaatulloh’’, dijajakan berbagai jajanan pasar ’’Jowo banget’’. Misalnya, klepon, rujak, risoles, boyo, cenil, es dawet, dan es cao. Hebatnya, seluruh stan laris manis. Hingga pukul 16.00, tidak ada yang tersisa.
Pengunjung yang beruntung mendapatkan door prize dari panitia berupa voucher makan nasi rames di Restoran Sarinah (milik orang Jawa), baju kebaya, hingga tiket pesawat domestik dari sponsor.
’’Kami bisanya hanya nyengkuyung (mendorong) masyarakat Jawa di Suriname untuk terus maju. Selain dengan kegiatan-kegiatan seperti ini (bazar), kami sedang mendorong para pengusaha untuk menguatkan jejaring dengan pengusaha Indonesia,’’ ujar Dubes Dominicus Supratikto kepada Jawa Pos.
Menurut dia, sudah banyak kemajuan yang dicapai warga Jawa dalam 125 tahun keberadaan mereka di Suriname. Baik di bidang usaha maupun politik pemerintahan. Di bisnis, misalnya, saat ini ada pengusaha instalasi listrik terbesar di Suriname. Dia adalah Gimardo Kromo Suto. Mantan menteri dalam kabinet lalu itu juga pernah menduduki direktur Bank Tabungan Suriname.
Lalu, ada Elwin Atmodimejo, managing director Solve IT, yang kini juga menjabat presiden Rotary Club Suriname. Ada pula Ny Bajuri, direktur Bank Trust Suriname; dr Rasaam, importer jamu-jamuan dari Indonesia (Sidomuncul dan Borobudur); serta Sudijono (bidang usahanya banyak).
Belum lagi, di politik pemerintahan, orang Jawa cukup maju, meski dalam perkembangannya di antara mereka saling menjegal. Saat ini, di parlemen, orang Jawa diwakili sembilan orang. Mereka berafiliasi di Partai Pertjaja Luhur (Paul Somoharjo, Raymon Sapoen, William Waidu, dan Inggrit Karta). Yang lain bergabung di partai pemerintah, NDP (Nationale Demokratische Partij). Yakni, Yeni Warso Dikromo, Reycki Kromodiharjo, Remy Tarnadi, Glen Sapoen, serta Ella Samidin.
Di jajaran kabinet, orang Jawa juga tampil melalui Menteri Perdagangan dan Industri Don Tosenjoyo serta Menteri Pemuda dan Olahraga Bambang Ismanto Adna.
’’Ini bukti bahwa orang-orang Jawa punya kiprah yang sudah sangat maju di Suriname. Bahkan, dulu kita punya Pak Paul Somoharjo yang pernah menjadi ketua parlemen dan sempat maju menjadi calon presiden. Potensi inilah yang harus kita manfaatkan agar hubungan Indonesia-Suriname makin berkembang,’’ papar Dubes alumnus FE UGM itu.