home about project archives id place




















BELAJAR "SADAR" DARI "PREMAN PENSIUN"?

oleh: IACC ADMIN | Sosial Budaya | 3 Tahun lalu

Oleh: Sukur Budiharjo
.....
.....
.....
Mengapa Tidak?

Baik kita sadari maupun tidak kita sadari, kita pernah menjalani "laku preman". Sebab, kita tidak dapat mengalahkan hawa nafsu yang merangsek di urat nadi. Kita lalu menjadi orang yang arogan, pongah, jumawa, sok jagoan, dan ingin selalu menguasai orang lain dengan kekuatan nafsu tadi. Kedigdayaan nafsu setan atau iblis yang selalu mengajak ke hal-hal yang rusak dan nista, sering kali tidak dapat kita elakkan.

Pada bulan ramadhan inilah kita memiliki momen yang tepat untuk mengakhiri jiwa preman itu. Keangkuhan yang dimanifestasikan melalui arogansi kedigdayaan fisik, mental, otak, hati, dan totalitasnya, layaknya kita sudahi. Tak sedap dan tak elok tentunya jika kita masih saja terperangkap oleh keangkuhan preman yang mengeram di dalam jiwa.

Sebaiknya kita belajar "sadar" dari "Preman Pensiun"! Mengapa tidak? Cerita dan pesan moral yang terdapat di dalam sinetron yang ditayangkan oleh RCTI pada bulan puasa ini dapat kita jadikan sebagai bahan pembelajaran yang oleh para politisi, birokrat, dan akademisi dikemas dalam diksi yang angker: pembentukan karakter. Dikisahkan dialam sinetron ini para preman yang menguasai terminal dan pasar yang berusaha keras pangsiun atau berhenti dari perbuatan yang keji dan mungkar dan menyerempet-nyerempet bahaya.

Tokoh-tokoh dalam sinetron komedi yang sangat menarik ini, seperti Kang Bahar, Kang Mus, Kang Komar, Kang Jamal, dan Ubed misalnya, -- yang lekat dan dekat dalam kehidupan keseharian -- layaknya hendak menertawakan kita yang gemar memamerkan "laku preman" dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab, ya itu tadi, kita sadari maupun tidak kita sadari, kita pernah menjalani "laku preman".

Preman (yang oleh penyanyi Ikang Fauzi dipopulerkan melalui lagu Preman Metropolitan), begal, perampok, penodong, pencopet, penipu, pembunuh, sudah ada sejak dulu. Ini sekelas preman jalanan yang mengandalkan kekuatan dan kedigdayaan fisik. Keganasannya setiap hari terliput sebagai berita kriminalitas di berbagai media.

Lalu bagaimana dengan preman kantoran? Preman jenis ini telah menjadi wabah yang mengerikan. Sebab, di seluruh pelosok negeri ia telah bermetamorfosa menjadi penjahat kerah putih yang sepak terjangnya dapat meruntuhkan negeri ini: koruptor!

Wahai, segera sadarlah! Kang Bahar saja bisa bertobat! Mengapa kita tidak mengikuti langkahnya? Apakah kita hanya menjadi penonton?

Cibinong, 13 Juli 2015/ 26 Ramadhan 1436 H