home about project archives id place




















Bengkulu Bumi Rafflesia

oleh: IACC ADMIN | Sosial Budaya | 4 Tahun lalu

"Selamat Datang di Bumi Rafflesia" kalimat itulah yang menyambut ketika kita keluar dari kompleks Bandara Fatmawati Bengkulu. Di bebarapa sudut kota juga akan terlihat gambar dan logo bunga Rafflesia menghiasi persimpangan jalan hingga pot-pot bunga.

Bunga Rafflesia memang sudah menjadi ikon resmi Provinsi Bengkulu, tidak hanya itu pemerintah daerah setempat telah sepakat menjadikanya lambang daerah. Walaupun bunga Rafflesia tidak hanya tumbuh di Bengkulu, tetapi menurut sejarah pertama kali bunga tersebut ditemukan di kawasan hutan Pino, Kabupaten Bengkulu Selatan oleh seorang pemandu dari Indonesia yang bekerja untuk Dr. Joseph Arnold tahun 1818, dan dinamai berdasarkan nama Thomas Stamford Raffles, pemimpin ekspedisi itu.

Rafflesia Arnoldi sebagaimana jenis Rafflesia lainnya merupakan tumbuhan parasit obligat. Ia tumbuh di dalam batang liana (tumbuhan merambat) dari genus Tetrastigma. Rafflesia arnoldi tidak memiliki daun sehingga tidak mampu ber-fotosintesis sendiri. Nutrisi yang dibutuhkan bunga ini diambil dari pohon inangnya.

Bunga raksasa berbau busuk ini ditetapkan sebagai Puspa Langka Indonesia, salah satu dari tiga Puspa Nasional Indonesia di samping Melati (Puspa Bangsa) dan Anggrek Bulan (Puspa Pesona).Sejumlah pihak meyakini bunga Rafflesia arnoldi atau Patma Raksasa merupakan tumbuhan endemik Sumatera. Bunga raksasa ini paling banyak dijumpai di Bengkulu. Meskipun di beberapa tempat lain seperti di Aceh dan Malaysia pernah dilaporkan tumbuhnya bunga Rafflesia arnoldii, namun dimungkinkan itu adalah Rafflesia dari jenis yang berbeda.Beberapa lokasi yang sering ditemui tumbuh bunga Rafflesia Arnoldii antara lain di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Seblat Kabupaten Bengkulu Utara, Padang Guci Kabupaten Kaur, Hutan Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah, dan Hutan Lindung Bukit Daun Kabupaten Kepahiang.

Sementara negara Filippina dalam lima tahun terakhir sudah berhasil menemukan lima jenis baru Raflesia dan mengklaim sebagai pusat penyebaran puspa langka itu. Padahal, dari 25 jenis Raflesia yang ada di dunia, sebanyak 14 jenis berada di Indonesia dan 11 diantaranya berada di Pulau Sumatera.Di Bengkulu ditemukan empat jenis yaitu Raflesia arnoldii, Raflesia hasselti, Raflesia gadutensis dan Raflesia Bengkuluensis. Sangat disayangkan keberadaan Rafflesia di Bengkulu tidak cukup mendapat perhatian dan tidak dikelola secara memadai, sehingga menimbulkan kekawatiran kepunahan jenis, yang sekaligus menghilangkan kesempatan untuk dapat dimanfaatkan sebagai ikon pariwisata.Disamping rendahnya perhatian pemerintah daerah, bahkan akan mengganti lambang daerah dengan ikon lain karena dianggap secara ekonomis tidak komersial.

Maraknya pembalakan liar dan pembukaan lahan baru oleh masyarakat semakin mengancam habitat Bunga Rafflesia. Bahkan saat ini pelebaran jalan yang membelah kawasan hutan Taba Pananjung semakin memperburuk keadaan. Para peneliti bunga langka ini tergolong minim, sehingga otomatis informasi mengenai bunga ini masih sedikit.Persoalannya sekarang adalah puspa langka seperti bunga Rafflesia dan bunga bangkai (Amorphophalus) di Bengkulu saat ini hanya dipakai sebagai simbol saja, simbol disini maksudnya adalah gambar dan namanya saja yang digunakan atau di eksplorasi, misalnya untuk spanduk selamat datang, background pada baliho calon-wakil rakyat, banner event dan lain-lain.

(Dedi/Bengkulu)
dedigrafer@yahoo.co.id