home about project archives id place




















CINTA TERLARANG RADEN PABELAN

oleh: IACC ADMIN | Seni Sastra | 3 Tahun lalu

Syukur Budiardjo

Sekelompok burung gagak hinggap di pohon kelapa dekat sawah
saling kaok di Bumi Pajang ketika raja siang melangkah ke tengah.

Raden Pabelan titipkan kepada emban di pasar kala ramai menggigit
bunga kenanga meski layu tapi semerbak wingit
terselip surat cinta untuk Sekar Kedaton yang terpingit.

(Raden Pabelan adalah putra pejabat di Kerajaan Pajang
pada abad ke-16 meski umur sudah 30-an lebih masih melajang
layaknya Don Juan terbang melayang-layang bak kumbang
digandrungi gadis-gadis cantik harum semerbak kembang)

Surat cinta Raden Pabelan singgah ke haribaan sang putri jelita.
Tangan menawan Sekar Kedaton gemetar dan wajah terkesima.
Matanya nanar membaca kabar asmarandana.
Jantung berdengung hati tertenung jiwa melambung.
Mengurung Sekar Kedaton hingga limbung.

Bagai gayung bersambut
cinta Raden Pabelan kepada sang putri jelita berpaut.
Hingga tiba waktunya Sekar Kedaton menumpahkan segala resah
ke pangkuan Raden Pabelan yang dimabuk gundah.
Lalu siang dan malam di dalam keputren yang hening
gelombang samudra bergulung dan awan perak beriring.

"Tangkap dia" titah sang raja.
Lalu pasukan menyebar ke mana-mana.
Kepala regu laskar kerajaan mengetuk pintu kamar sang putri.
Jantung Raden Pabelan berdegup kencang sekali.
Meski dicegah Sekar Kedaton, Raden Pabelan berserah diri.

"Atas perintah penguasa negeri ini,
engkau harus ditangkap, maafkan kami.
Karena Raden secara sembunyi-sembunyi
menjalin cinta terlarang yang mesti diganjar dengan hukuman mati"

Keris kepala pasukan menghunjam ke dada Raden Pabelan
disusul tikaman bertubi-tubi para petugas keamanan.
Raden Pabelan rebah ke tanah bersimbah darah.
Lalu langit siang hari berubah merah.

Sekelompok burung gagak hinggap di pohon kelapa dekat sawah
saling kaok di Bumi Pajang ketika raja siang melengkah ke tengah.

Jakarta, 15 Februari 2014