home about project archives id place




















Ekonomi Kreatif dan Para Pengoprek

oleh: IACC ADMIN | Sosial Budaya | 4 Bulan lalu

Oleh Farid Gaban | The Geo Times Magazine, 9 Februari 2015

Apa yang dipikirkan Beethoven ketika mencipta “Simfoni Ke Sembilan”? Gesang ketika menggubah lagu “Bengawan Solo”? Atau Leonardo da Vinci ketika melukis “Monalisa”?

Paten dan royalti belum dikenal pada era mereka. Hampir pasti, bukan uang yang pertama-tama ada dalam kepala mereka. Kegairahan dan kegembiraan dalam menciptalah yang terutama mengilhami karya agung mereka.

Upaya memformalkan kegiatan kesenian dan inovasi keilmuan dalam sebuah industri ekonomi kreatif mungkin tidak sepenuhnya keliru. Yang salah arah adalah jika kreativitas dan inovasi cuma diukur dari uang, dan hanya demi uang. Itu akan membuat karya seni dan inovasi keilmuan justru kehilangan kandungan luhur kemanusiaan.

Pekan lalu saya membaca ulang “The Hacker Ethic” (2001) karya Pekka Himanen, filosof kontemporer Finlandia. Di situ kita bisa menemukan bahan renungan menarik tentang karya kreatif dan inovatif. Bahkan lebih jauh: tentang cara lain memaknai proses produksi dan konsumsi.

Istilah “hacker” lazim dipakai di dunia komputer. “Hacker” adalah mereka yang suka mengoprek perangkat elektronik, merancang, menulis dan membongkar-pasang perangkat lunak. Ini perlu dibedakan dari “cracker” yang memperkosa sistem pengaman komputer untuk perbuatan kriminal.

Bukan kepada perusahaan raksasa seperti Microsoft, IBM dan Apple kita sebenarnya berutang revolusi komputer yang kita nikmati sekarang. Tapi, pada pengoprek seperti Steve Wozniak, pencipta mesin komputer jinjing pertama Apple. Wozniak, yang tidak seterkenal Steve Jobs, terserap dalam karya itu pertama-tama karena menganggap penulisan software sebagai “dunia yang paling mengasyikkan”.

Revolusi internet juga bukan pertama-tama jasa Google dan Yahoo. Tapi, berkat ketekunan ribuan pengoprek dari seluruh dunia yang rindu menciptakan cara untuk mendorong bebasnya pertukaran informasi dan pengetahuan. 

Sementara Microsoft mematenkan dan menarik royalti sistem operasinya, para pengoprek menciptakan sistem operasi Linux yang bersifat bebas, gratis dan terbuka. 

Linux dikembangkan, disumbang dan disempurnakan oleh ribuan pengoprek seluruh dunia yang bekerja secara kolaboratif pertama-tama karena menyukai dunia komputer dan keinginan berbagi. Linux mendorong munculnya aplikasi komputer yang murah, bahkan gratis, sehingga lebih banyak orang bisa menikmati manfaatnya.

Linus Tovalds, salah satu pengoprek di balik Linux, menganggap komputer itu sendiri adalah hiburan yang “membuat penulisan software sebagai kegiatan menarik dan menyenangkan”.

Kesenangan dan kegairahan sebenarnya tak terbatas dalam dunia komputer. Menurut Pekka Himanen, siapa saja yang secara antusias menekuni sesuatu penuh gairah, dibekali kreativitas dan imajinasi, bisa disebut “hacker”. Mereka bisa pelukis, musikus, penari, ahli astronomi, kimia atau biologi; yang mengerjakan sesuatu lebih karena panggilan jiwa dan hasrat mencipta sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia.
 
Pekerjaan para pengoprek ini menjungkirbalikkan pengertian mapan kita tentang “profesional” versus “amatir”. Alih-alih melecehkan keamatiran, kita justru harus menghargainya. Amatir berasal dari kata Latin “amatorem” atau pecinta. Mencintai pekerjaan dengan motif lebih luas dari sekadar mendapat bayaran.

Para pengoprek menentang pandangan “waktu adalah uang”, dan lebih jauh memberontak terhadap konsep kontemporer kita tentang kerja. Pengoprek bekerja tanpa kenal waktu, sesuai kesenangan. Konsep ini bahkan melawan pandangan dominan sosial-ekonomi kapitalistik yang didefinisikan Max Weber dalam karya klasiknya: “The Protestant Ethic and The Spirit Capitalism” (1904-1905).

Dilihat dari kacamata para pengoprek, istilah “ekonomi kreatif” mengandung paradoks dalam dirinya, apalagi jika direduksi sekadar komersialisasi karya seni atau inovasi sains-teknologi; serta gegap gempita menangguk paten dan royalti darinya.

Ekonomi kreatif bisa sangat menjanjikan dari aspek uang: perluasan pemasaran karya seni dan kegiatan budaya yang pada gilirannya memicu pariwisata. Tapi, untuk ini kita mungkin harus belajar dari Bali.

Bali menjadi surga wisata dunia pertama-tama karena kebudayaan, agama dan tradisi berkesenian melekat tak terpisahkan dalam keseharian warganya. Orang Bali adalah pengoprek. Mereka menjalankan tradisi pertama-tama bukan karena uang, tapi panggilan yang lebih luhur.

Mendorong “ekonomi kreatif” secara benar dan berkelanjutan tidak bisa lain kecuali melestarikan dan memulihkan kecintaan kepada budaya serta tradisi yang menjadi mata air kreativitas dan imajinasi; budaya dan tradisi yang mengilhami kesenangan serta kegembiaraan berbagi sesama umat manusia. Bahkan termasuk di Bali.***