home about project archives id place




















Era Reproduksi dan Sejarah Silang Budaya Asia Tenggara

oleh: IACC ADMIN | Sosial Budaya | 7 Bulan lalu

Oleh: Akbar Yumi

Asia Tenggara, setidaknya Malaysia, pada dasarnya adalah sejarah kawasan yang sangat dipengaruhi oleh geopolitik, sehingga menghasilkan silang budaya yang cukup kental bagi masyarakatnya. Kelahiran negara bangsa paska penjajahan yang berciri kuat di Asia Tenggara, semakin memperkuat silang budaya di Asia Tenggara dengan tidak meninggalkan ciri geo-historis. Sehingga pergeseran budaya di masing-masing wilayah di Asia Tenggara bisa dibaca sebagai ‘relativisme budaya’, yakni sebuah artikulasi budaya yang ‘khas’ karena kesejarahan geografis beserta silang budayanya.

Relativisme kebudayaan selalu mengandaikan adanya suatu proses kebudayaan yang dipengaruhi oleh sejarah dan konteks sosial dimana kebudayaan tersebut berlangsung. Sehingga cara pandang relativisme kebudayaan adalah semangat merayakan perbedaan dan keanekaragaman (multikulturalisme) budaya yang beredar di masyarakat. Multikulturalisme selalu menawarkan hadirnya realitas ganda (dual-reality) sampai dengan realitas ragam (multy-reality), yakni: kebedaan-kemiripan (differences-similarities), keragaman-kesatuan (diversity-unity), identitas-integrasi (identity-integration), lokalitas/partikularitas-universalitas (locality/particularity-universality), nasionalitas-globalitas (nationality-globality). Konstruksi realitas dalam paham multikulturalitas tersebut, setidaknya mampu mengeliminasi ketegangan dikotomis tentang realitas ganda atau ragam di sekitar etnisitas dan budaya yang terdapat pada masyarakat kekiniaan. Sehingga yang diandaikan oleh multikulturalisme itu sendiri adalah merayakan kekhususan (specifity) dari sebuah ciri etnik atau budaya, yang tentu nya adalah dengan menghindarkan diri dari proses keumuman (generality).

Asia Tenggara sendiri pernah mengalami sebuah periode dominasi kolonial yang berdampak pada sebuah praktek cara pandang budaya yang bersifat generality. Periode dominasi tersebut adalah sebuah pelabelan (strotype) bagi kaum pribumi (jajahan) di Asia Tenggara berdasarkan identifikasi lingkungan alam yang bersifat tropis, sehingga menghasilkan sebuah imaginasi geografis tentang masyarakat-masyarakat Asia Tenggara yang berada di ‘pedalaman’. Dampak dari imaginasi geografis para kaum kolonial tersebut adalah penanda-penanda primitivisme bagi masyarakat tropis Asia Tenggara, sebagai idealisasi dari cara pandang Eropa tentang ‘kelampauan’ (eksotisme) yang dilekatkan pada kaum pribumi. Produksi-produksi penandaan dari imaginasi geografis ini adalah adanya identifikasi alam berupa pohon pisang, kelapa yang dihadirkan dalam keseharian masyarakat kaum pribumi. Dalam paham multikulturalisme, penanda-penanda primitivisme yang dilekatkan pada masyarakat pribumi di Asia Tenggara, merupakan ketegangan antara partikularistas dan universalitas, dari pandangan-pandang ekologis kaum pribumi di Asia Tenggara dengan pandangan-pandangan rasionalitas positivistik kaum Eropa.

Politik representasi pada paham ‘naturalisme’ juga memainkan politik tubuh sebagai sebuah kontruksi identitas para kaum pribumi. ‘Primitivisme’ sebagai turunan dari paham naturalism memainkan peran tubuh yang identik dengan kesalarasan alam, sehingga tubuh para pribumi sering kali lebih dibaca dalam kerangka puritan etika Eropa sebagai sesuatu yang masih belum diperadabkan. Kritik terhadap paham naturalisme yang dilekatkan oleh kaum Eropa terhadap masyarakat di Asia Tenggara, adalah memainkan kearifan dan genus local untuk menghapus streotipe idealisasi kaum Eropa terhadap bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Kearifan dan genus local tersebut adalah dengan memainkan simbol-simbol eksotisme yang dikolasekan dalam gesture tubuh kekinian. Fenomena globalisasi kekinian di Asia Tenggara bisa jadi adalah benang kusut dari sebuah kehadiran ide modernism yang berkontradiksi dengan tubuh lokal yang masih terikat dengan tradisi dan etno pengetahuan. Modernism mengandaikan adanya sebuah praktek efesiensi waktu yang bermuara dalam bentuk ideologi instan. Penggunaan-penggunaan ideologi instan seperti penanda plastic, merupakan praktek kebudayaan modern yang berdampak pada tubuh sosial masyarakat yang terikat oleh mekanisme waktu modern.

Identitas sebagai kesadaran yang melekat pada masyarakat kekiniaan, memiliki elemen vital dalam politik tubuh sebagai penyandang identitas. Siasat penggunaan tubuh baik berupa gesture dan model sebagai bahasa simbolis adalah respon-respon terhadap perayaan identitas yang dilahirkan dalam sejarah panjang akulturasi dan adaptasi budaya masyarakat. Identitas tubuh yang merespon simbol plastik adalah respon yang sangat kekinian. Plastik sebagai sebuah simbol identik dengan budaya reproduksi dan daur ulang, dalam lingkaran budaya produksi dan konsumsi. Carut marut silang budaya di Asia Tenggara, tentu berdampak adanya shock tubuh sosial dalam merespon ikon-ikon konsumerisme (plastic).

Kebudayaan selalu ditandai oleh pergumulan antara budaya dominan, residual, dan emergent yang bergerak bertumpang tindih. Kadang pergaulan budaya menjadi sesuatu yang tidak seimbang, namun demikian kebudayaan adalah bukan sesuatu yang memiliki posisi yang permanen. Dalam konteks ‘relatifisme budaya’ yang berlangsung di Asia Tenggara, keberadaan sebuah identitas kebudayaan bisa jadi adalah penanda yang sangat labil, Fenomena klaim terhadap ‘keaslian’ dari sebuah identitas kebudayaan tertentu yang berlangsung di beberapa Negara di Asia Tenggara, adalah puritanisme pasar global yang dapat memberangus keaneragaman budaya di Asia Tenggara itu sendiri. Sesungguhnya tidak ada yang ‘asli’ dalam penanda kebudayaan, hal ini juga di dukung oleh warisan sejarah kawasan di Asia Tenggara, beserta pengaruh kolonialisme yang semakin memperkuat tumpang tindih silang budaya yang berlangsung di Asia Tenggara.

Namun menurut Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa:Silang Budaya, Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris (1990) mengatakan bahwa kukuhnya konsep geohistoris dan geopolitik Asia Tenggara berakar dari kesejajaran sejarah lampau kawasan ini yang melampaui ratusan tahun bahkan lebih dari seribu tahun. Sehingga perkembangan kebudayaan di suatu kawasan Asia Tenggara seiring seirama dengan perkembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara lainnya, menghasilkan sebuah ciri kultural yang mirip di antara masyarakatnya. Yang kemudian relevansinya adalah ada apa yang disebut dengan ‘kesadaran Asia Tenggara’, sebagai sebuah semangat sejarah kawasan yang memang hadir sebelum kedatangan kolonial. Multikulturalisme Asia Tenggara setidaknya membaca warisan kerajaan-kerajaan konsentris ini sebagai sebuah pijakan dari adanya kesadaran kawasan yang membentuk keanekaragaman dan otonomi, khususnya dalam dinamika kebudayaan di masing-masing wilayah kawasan Asia Tenggara.

Membaca jejak multikulturalisme di Asia Tenggara merupakan membaca masa lampau (sejarah) dalam konteks kekinian yang dipenuhi oleh arus penanda-penanda yang silih berganti. Sejarah adalah kemungkinan bagi kekinian, semangat merefleksikan penanda-penanda kekinian yang di kolasekan dalam bahasa pengalaman. Dalam kaidah postmodern, adalah membahasakan pengalaman keseharian sebagai kririk terhadap pengetahuan yang cenderung bersifat generality, sehingga kemungkinan-kemungkinan yang berasal dari parsialitas bisa dibuka lebar sebagai usaha sejarah yang partisipatoris yang bersemangatkan keaneragaman (multicultural). Era postmodern saat ini adalah era reproduksi yang tidak lagi terpaku pada pusat, dan mengakumulasi terhadap segala kemungkinan yang berada di pinggiran.

*Catatan Seri Karya Bahtiar Dwi Susanto,Fragment di RBS Malihom Air Program Penang-My, 2010
*Illustrasi Foto Karya berjudul Message In The Bottle, 80x60 cm (Print on Canvas), 2010