home about project archives id place




















Jalan Panjang Novel Kupu-kupu Fort de Kock

oleh: IACC ADMIN | Seni Sastra | 3 Tahun lalu

Oleh: Maya Lestari Gf.


Seperti hujan, sebuah buku memerlukan jalan yang panjang untuk sampai ke hadapan. Karena itu, setiap kali ditanya proses lahirnya novel Kupu-kupu Fort de Kock, saya selalu pergi ke ingatan 26 tahun lalu, saat saya masih gadis kecil yang suka berdiri di lapak-lapak buku pasar Tembilahan, Kepulauan Riau. Saya tidak suka riuhnya pasar, tapi saya menikmati perasaan bahagia saat berada di tumpukan buku. Sampai sekarang saya bahkan masih mengingat aroma lapak-lapak buku tempat saya berdiri. Tak mungkin saya melupakan, sebab itulah kali pertama saya jatuh cinta, pada lelaki tampan berjuluk Pendekar Selat Karimun.

Saat usia saya tujuh tahun, saya diberi kebebasan untuk membeli buku-buku yang saya suka. Sepulang sekolah, saya sering berlari ke lapak buku di tengah pasar untuk menemukan Pendekar Selat Karimun dan menikmati kisahnya. Pikir saya, betapa ajaibnya seorang lelaki mampu mengusir kejahatan begitu rupa. Ia sangat luar biasa, dan dalam imajinasi saya, ia tak mungkin dikalahkan. Saya terus menerus mencari kisah-kisahnya hingga menyadari satu hal. Keingintahuan saya terhadap kisah-kisahnya tak sebanding dengan kecepatan menulis sang pengarang. Ketika menyadari tak ada lagi kisah yang tersisa untuk dibaca, saya mulai beralih ke cinta lain. Saya mengunjungi berbagai taman bacaan dan menemukan cinta-cinta baru yang mempesona. Si Buta dari Gua Hantu, Kelelawar,Gundala dan tentu saja pendekar yang bikin perempuan bertekuk lutut, Wiro Sableng.

Tapi dari semuanya cuma satu yang betul-betul bikin saya mabuk kepayang. Jika Pendekar Selat Karimun adalah cinta pertama maka yang satu ini adalah cinta sejati saya. Namanya Kelelawar Bersayap Tunggal, tokoh rekaan SH. Mintardja. Kelelawar adalah seorang kroco di dunia persilatan. Para pendekar bahkan tidak mengetahui bahwa ia ada. Suatu hari, Kelelawar terlibat pertarungan, kalah dan dibuntungi sebelah tangannya. Ia didera kehancuran fisik dan jiwa. Namun, kemudian optimismenya meruak. Ia berupaya bangkit dari kepedihan. Ia belajar silat lebih tekun, menantang pendekar-pendekar tangguh, lalu lambat laun menjadi pendekar nomor satu. Keteguhan hatinya luar biasa. Ketika menamatkan ceritanya, saya berkata dalam hati, suatu saat akan membuat cerita sebagus ini.
Tapi, mewujudkan mimpi tak semudah mengucapkannya. Setelah lima buku saya terbit pada 2005, saya mengalami kebuntuan dalam menulis. Tak satu naskah novel pun yang berhasil saya selesaikan. Seringnya mandeg di sepuluh atau dua puluh halaman pertama. Lalu saya memutuskan untuk membaca saja. Selama empat tahun hanya bersembunyi di antara tumpukan buku. Bila ada kawan yang bertanya apa buku terbaru, saya biasanya diam. Sebab memang tidak ada.
Pada tahun 2009 kebuntuan itu mulai pecah. Ide pertama tentang pertarungan dua musuh bebuyutan yang sebenarnya sepasang kekasih, muncul. Lalu, tanpa tercegah--layaknya dinding bendungan yang jebol--ide-ide baru mengalir begitu saja. Saya menulis sambil melakukan riset yang intens terhadap silat minang dan filosofinya. Saya bahkan berkunjung ke rumah seorang guru besar silat minang dan menonton ia memperagakan gerakan silat. Saya merekam semuanya dalam kepala, lalu mengurainya satu demi satu dalam bentuk bab-bab novel.

Perlu waktu tiga tahun menyelesaikan novel itu. Bagian paling lama ada pada riset dan pencarian struktur cerita baru. Selama ini kisah dunia persilatan diceritakan dengan cara yang sama. Karakter tokoh-tokohnya pun nyaris sama. Saya mencoba menemukan bentuk baru novel silat. Baik dari segi struktur, gaya penceritaan maupun karakter orang-orangnya. Saya tidak ingin novel silat yang hanya menyajikan realitas hitam putih. Semestinya, sebuah novel (silat) memiliki wilayah abu-abu, sebagaimana kehidupan itu sendiri. Itulah sebabnya saya menyajikan akhir cerita yang (menurut saya) menjelaskan, bahwa hidup tidak mesti berjalan menurut prinsip hitam putih tersebut. Kadang-kadang ada sesuatu yang harus jadi tumbal, agar kebenaran lahir dengan caranya sendiri.
Kata orang, menulis merupakan pekerjaan sunyi. Itu benar, tapi saya tidak mau egois dengan kesunyian itu. Setelah draft Kupu-kupu Fort de Kock selesai saya memberikannya pada penulis Zelfeni Wimra dan Romi Zarman. Saya minta mereka melakukan koreksi terhadap karya tersebut.

Saya menerima semua masukan dengan lapang. Termasuk saran Romi Zarman untuk mencoret habis 60 halaman draft novel itu. Apakah saya sedih? Mungkin. Saya tak ingat lagi perasaan saat menghapus puluhan halaman naskah itu. Tapi, kemudian, ketika perbaikan selesai, saya bahagia karena novel itu jadi lebih kuat dari sebelumnya. Seorang penulis cenderung subjektif dengan karyanya. Karena itu, perlu seseorang yang bisa menilai dari jarak yang tepat.

Jika ditanya bagaimana perasaan saya setelah novel itu terbit, maka saya jawab: puas. Saya membaca beberapa review terhadap novel itu di internet, dan rata-rata memberi rating highly recommended, alias sangat direkomendasikan.

Tak ada proses instan dalam kelahiran sebuah buku. Itulah sebabnya, kenapa saya bercerita panjang lebar mengenai kenangan di lapak-lapak buku pasar Tembilahan. Perlu waktu 23 tahun bagi Kupu-kupu Fort de Kock untuk menjadi sebuah ide, dan perlu tiga tahun lagi untuk menjadikannya sebuah novel.
**
(Pernah dimuat di Harian Rakyat Sumbar Utara, Minggu, 10 November 2013)