home about project archives id place




















Kerikil Persahabatan

oleh: IACC ADMIN | Seni Sastra | 5 Tahun lalu

Aku mendengus kesal sambil meletakkan sendok dan garpu yang aku pegang ke piring yang berada di depanku kembali.
“Mi, kenapa kita harus pindah ke sini? Aku ingin pulang ke Surabaya.”
Sedari tadi aku tak berselera untuk makan, bahkan nasi yang ada di piringku pun tak aku sentuh sedikit pun. Sedangkan di seberang sana, mamiku hanya menatapku heran.
“Memangnya kenapa, Al? Kita tidak bisa pulang sekarang, karena mami sudah menandatangani kontrak untuk menjadi GM di sini selama 2 tahun. Lagipula seperti di kota-kota lain, kita tetap diberi fasilitas.”
GM adalah singkatan dari General Manager. Ya, beliau adalah seorang pimpinan di sebuah hotel. Seperti biasa, mami lebih tertarik pada kontrak kerjanya daripada aku yang selalu kesulitan untuk beradaptasi mengikuti mami. Kata mami, ia merasa tertantang untuk berkarier menjadi GM di hotel yang berbeda-beda, sehingga tidak pernah menolak ketika dipindahtugaskan.
“Tapi kenapa mami mau menandatangi kontrak itu? Kenapa mami tidak minta ditugaskan saja lagi di Surabaya? Kenapa harus di Manokwari? Kenapa tidak di Jayapura?” Serentetan pertanyaan keluar begitu saja dari mulutku.
“Tidak bisa, Allita sayang. Memang sudah saatnya mami pindah tugas lagi. Mami kan harus profesional. Ini sudah keputusan dari pusat. Bos mami pasti punya pertimbangan khusus kenapa mami ditempatkan di sini, dan memberi kesempatan pada GM lain untuk memimpin hotel di Surabaya. Lagipula, banyak GM lain yang juga ingin merasakan jadi GM di Surabaya. Bukan mami saja. Apalagi Al, gaji di sini jauh lebih besar dibandingkan di Surabaya. Selain bisa menabung, uang jajanmu juga akan bertambah kan sayang?” setelah berkata begitu, mami mengedipkan sebelah matanya padaku, sedangkan aku hanya terdiam membisu sambil memperhatikan beliau selesai bicara.
Perdebatan seperti ini sudah pasti akan berlangsung alot. Sudah pasti aku tidak akan bisa membantah. Ya, terpaksa aku harus tinggal di sini paling sedikit selama 2 tahun...
***

“Mmmm...Pagi teman-teman semua...”
“Pagiiiii temaaannn!!!”
“Perkenalkan...mmm..nama saya Allita Caroline...mmm..” Aku merasa sangat gugup berdiri di depan teman-teman baruku. Sampai-sampai aku terdiam lama di depan kelas. Namun, untungnya wali kelasku membantuku untuk berbicara.
“Sebutkan asalnya, alamat rumah kah..pekerjaan orang tua kah, atau tempat lahir kah...apa saja yang penting perkenalkan diri saja.”
“Mmmm..ya... Saya pindahan dari Surabaya, tepatnya dari SD Internasional Global Jaya. Ibu saya bekerja di sebuah hotel, dan ayah saya sekarang berada di Sumatera. Mmm...saya orang Bandung, tetapi lama tinggal di Jakarta dan Surabaya. Sekarang, saya tinggal di hotel di daerah Reremi. Terima kasih.”
Teman-temanku bertepuk tangan, sedangkan aku membungkuk tanda hormat kepada mereka. Dan seketika suasana kelas menjadi hening dan ada beberapa yang mengatakan “ha???” dan aku pun duduk kembali.
***
Aku membuka kotak makan siangku. Hmm.. telur gulung nasi. Masakan yang tadi pagi sengaja aku pesan di restoran hotel, pasti enak! Ini yang aku suka tinggal di hotel, selain bisa menggunakan fasilitas hotel, aku juga bisa memesan makanan apapun yang aku inginkan di restoran. Sebelum aku menggigit telur gulung itu, tiba-tiba ada beberapa teman-teman baruku yang menghampiriku. Mereka tersenyum melihatku, akupun membalasnya. Kemudian mereka duduk melingkar di dekatku.
“Halo...ko bawa bekal kah?” kata salah satu dari mereka sembari mengintip ke dalam tempat makanku.
“Iya. Kalian sendiri enggak ada yang bawa bekal ya?”
“Ah tidak..kitong ada beli nasi kuning tadi. Yang biasa bawa bekal tu cuma Andre deng dia pu ade sepupu yang nama Victoria itu...” anak itu berbicara dengan logat Papua yang cukup kental. Dan ia menunjuk 2 anak keturunan Cina yang sedang menikmati makan siangnya.
‘Kitong’...? Hmmm...apa artinya ya..? Namun belum sempat aku bertanya, mereka mulai mengenalkan diri mereka masing-masing.
“Oh iyo...tong belum kenalan to?? Kenalkan, nama saya Virginia. Panggil saja Nia.” Aku tersenyum sambil menyalami mereka satu persatu.
“Nama sa Yunita.”
“Sa pu nama Insos.”
“Saya Ike.”
Dan masih banyak lagi. Oh ya...kira-kira... apa sih arti dari kitong? tong? sa? pu? Sejak tadi aku ingin bertanya namun belum ada kesempatan karena mereka terus bicara. Sampai akhirnya aku memotong omongan mereka. “Mmmm..maaf teman-teman...tapi..apa sih arti dari kata dari kitong, tong, sa, pu, itu artinya apa ya..?”
Melihatku bertanya, teman-temanku berusaha menahan tawa, tapi hanya sebuah senyum yang keluar. Mungkin mereka maklum padaku yang memang baru di sini. Lalu Nia mulai menjelaskan.
“Heheh...begini Allita, sini sa kas tahu dulu... Kalau ‘kitong’ artinya ‘kita’ sama dengan ‘torang’ atau ‘tong’, karena itu kependekan dari ‘kitorang’. Kalau ‘pu’ artinya ‘punya’. Kalau ‘deng’ artinya ‘dengan’. Kalau ‘sa’ artinya ‘saya’. Kalau ‘koi’ artinya ‘kamu’. Kalau ‘tara’ artinya ‘tidak’. Ko pernah dengar kata ‘tarada’? Nah..berarti to, itu artinya ‘tidak ada’. Oh ya, kalau ‘pigi’ artinya ‘pergi’. Jadi kalau ko nanti dengar, ‘sa pi sekolah’, itu artinya ‘saya pergi ke sekolah’ bukan karena ada sapi yang ke sekolah.. hehehe. Begitu. Ko su tara bingung to?”
Aku hanya mengangguk sambil mencerna kata-kata Nia. Untungnya, aku cepat mengerti, jadi tak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan bahasa lokal. Dan tak disangka mereka bertanya padaku,
“Allita, tadi ko bikin apa tunduk-tunduk di depan situ??”
Haha! Ini lucu bagiku. Karena di sekolahku yang lama, kami memang diharuskan untuk membungkuk sebagai tanda hormat. “Oh itu...kalau di sekolahku yang di Surabaya, biasanya sehabis maju ke depan kelas, kami harus membungkuk sebagai tanda hormat, begitu..”
Dan serentak mereka menanggapi “Oooohh...” Awal percakapan singkat itu membuat aku dan teman-teman baru menjadi sedikit akrab. Walaupun aku belum terlalu bisa beradaptasi sepenuhnya, tapi setidaknya aku sudah mempunyai teman yang bisa menghiburku disini.
***
Aku menunggu supir mobil hotel yang menjemputku di depan gerbang, tetapi sampai sekolah sepi Pak Jamal tidak juga kunjung datang. Untung Nia masih ada di sekolah. Ia duduk di kantin yang terletak persis di bawah pohon bersama Insos. Aku datang menghampiri mereka berdua.
“Hai Nia, hai Insos.”
“Eh Lita! Kenapa ko belum pulang?” Sapa Nia sambil bertanya dengan mimik heran, sedangkan Insos hanya mengacungkan ke lima jarinya.
“Nggak tau nih...dari tadi aku nunggu jemputanku tapi sampai sekarang belum datang juga.” Aku menjawab dengan nada putus asa. Melihat ekspresiku, Nia malah mengeluarkan serentetan pertanyaan.
“Ko pu mama su di sms? Ko tinggal di hotel yang ada di Reremi itu kan? Biasa dijemput pakai apa? Mobil kah? Merek apa?”
“Sudah...tapi belum ada balasan. Biasa pakai mobil APV war...- eh tunggu sebentar ada sms.” Aku membuka sms cepat-cepat. Betul dugaanku. Dari mami. Dan beliau berkata mobil hotel sibuk semua, ada yang mengantar tamu ke bandara dan ada yang mengantar karyawan ke bank.
“Hmmm...supirku nggak bisa jemput karena mobil digunakan untuk mengantar tamu dan karyawan.” Aku berkata lesu. Lalu sekarang, Insos yang angkat bicara
“Bagaimana ko ikut torang saja jalan kaki? Ko tinggal di Reremi to? Sekalian jalan-jalan saja. Reremi kan di atas bukit, nah nanti tong lewat jalan pintas melalui hutan-hutan.”
“Hah?? Hutan?? Tapi nggak berbahaya kan?”
“Ah tidak, tong su biasa lewat situ to Nia?” Jawab Insos meminta konfirmasi dengan santainya.
“Iyo, ko percaya saja sama torang.” Kata Nia sambil tersenyum.
Akhirnya kami bertiga jalan kaki melewati jalan pintas yang menanjak dan benar-benar dikelilingi oleh hutan. Di jalan, kami banyak berbincang. Dari situ, aku juga menjadi tahu bahwa Nia adalah atlet karate junior dan Insos adalah atlet lari junior yang dimiliki oleh Papua Barat. Sungguh hebat kedua temanku ini. Pantas saja mereka tidak kelihatan lelah sama sekali, meskipun perjalanan yang kami tempuh cukup berat.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras tenaga, akhirnya kami sampai juga di atas puncaknya. Pemandangan jauh di bawah sana, indah sekali. Kami duduk di batu-batu yang berada di hamparan rumput yang cukup luas, namun miring. Di sekeliling kami ada banyak kerikil yang berasal dari batu-batu gunung. Tiba-tiba, Nia dan Insos berlomba-lomba untuk melempar kerikil-kerikil itu dengan sekuat tenaga. Kontan aku bertanya pada mereka,
“Lho? Kenapa kalian lempar-lempar kerikil? Di bawah kan ada jalan, nanti kalau kerikil itu ada yang kena orang gimana??” Nia dan Insos menjawab pertanhyaanku itu secara bergantian
“Ah, tidak akan kena. Kerikil tadi tu jatuh di hutan-hutan sana eeee...” Jawab Insos sambil menunjuk ke bawah.
“Lagipula tidak banyak orang yang lewat jalan pintas ini”. Sambung Nia.
“Kitong lempar batu-batu ini tu, ada tujuannya..”
“Jadi, batu tu ibaratnya kitong pu masalah..”
“Jadi kitong tu buang kerikil anggap saja macam buang tong pu masalah.. biasanya, setelah itu hati langsung tenang..”
“Sa deng Nia biasanya tong dua pigi kesini setiap hari. Tapi sekarang sama koi.”
Ternyata.. itulah alasannya. Setelah itu, aku dipersilahkan oleh Nia untuk membuang kerikil juga. “Ko coba sudah. In, ambil kerikil satu, baru ko coba buang. Sebelum ko lempar, pikirkan ko pu masalah. Jumlah kerikil harus sama dengan jumlah ko pu masalah hari ini.”
Sejenak aku diam, mengingat – ingat apa yang jadi masalahku hari ini. Kemudian dengan segenap tenaga, aku melempar kerikilnya, berrharap semua masalahku pun bisa ikut terbuang. Dan Insos bertanya “Bagaimana? Hati ringan kah tidak?”
Aku mengangguk, tanda mengiyakan. Setelah acara buang membuang kerikil itu selesai, kami mnelanjutkan perjalanan pulang sambil membicarakan banyak hal. Salah satunya adalah tentang karnaval menyambut masuknya injil ke pulau Papua melalui pulau Mansinam.
“Nia, ko dengar katanya sekolah mau ikut karanaval lagi kah seperti tahun lalu?” Insos bertanya setelah kami terdiam cukup lama.
“Iyo, katanya begitu. Tapi ibu guru belum ada kasih pengumuman ke torang.”
“Ada apa sih Nia? Insos?” Tanyaku menyela obrolan mereka.
“Ini, sebentar lagi kan mau ada perayaan masuknya atau pekabaran injil di Manokwari. Biasanya diadakan karnaval di jalan, baru malamnya ada ibadah di pulau Mansinam sana. Katanya tong sekolah juga mau ikut karnaval, tapi tong belum dikasih tau nih. Mungkin besok kah apa.”
Aku hanya mengangguk, lalu terus berjalan.
***
“Besok hari Jumat pertama. Jadi bawa Puji Syukur untuk ibadah di Gereja Agustinus. Lalu, 2 minggu lagi, ada karnaval, dan kitong pu sekolah juga ikut. nah, kelas 5A dan 5B yang wakilkan tong pu sekolah untuk ikut karnaval ini. Dan kitong akan tampilkan Yospan di karnaval nanti. Jadi mulai besok, latihan Yospan setiap jam 3 sore.” Itulah pengumuman yang di berikan wali kelasku. Dan setelah pemberitahuan itu selesai, serentak semua anak berteriak senang,
“Horeeeeee!!!!!”
Dan ibu guru pun mengucapkan salam. “Selamat siang anak-anak.”
“Siang buuuuu...!”
Aku, Nia dan Insos, berjalan keluar setelah anak-anak lain berhamburan keluar kelas dengan berdesak-desakan. Dan sambil berjalan, seperti biasa, aku melontarkan berbagai pertanyaan.
“Nia, Yospan itu apa sih?”
“Yospan itu tarian Papua. Nanti tong menari pakai baju adat. Hahahaha!”
“Baju adat???” Tanyaku dengan wajah panik.
“Iyo to! Baru ko mau pake baju apa lagi?”
“Berarti nggak pakai baju dong?!?!?” Tanyaku yang semakin panik lagi.
“Ya tidaklah Allita...Pakai baju adat yang dari kulit itu...bukan tara pakai baju.” Jawab Nia dengan wajah geli.
“Oooohhh...” Jawabku sambil tertunduk malu.
Sekarang, setiap hari aku pulang bersama Nia dan Insos. Dan setiap hari pula, aku melempar kerikil bersama mereka. Entah mengapa, hatiku juga menjadi ringan ketika kerikil per kerikil dibuang begitu saja, menghilang dari pandangan...
***
“Satu, dua, tiga, putar balik, hentak kaki, terus goyang...!”
Ya, itulah aba-aba dari pelatih Yospan kami. Ini hari pertama kami latihan, dan ternyata menari Yospan tidak sulit, tetapi hanya lelah. Karena apa? Karena tarian itu di dominasi oleh gerakan loncat-loncat di tempat,dan begitulah seterusnya. Mau berubah gerakan teteap saja kakinya loncat-loncat. Hingga malamnya kakiku pegal-pegal. Apalagi lagu Yospannya itu panjaaannnnnggg sekali! Maka gerakannya pun juga banyak, ditambah lagi dengan loncat-loncat di tempat setiap saat, lengkap sudah penderitaanku...
***
Hari ini adalah hari dimana kami mencoba kostum dan mempelajari rute pementasan. Kostumnnya sudah ada, rutenya pun juga sudah kami pelajari sejak lama. Sekarang hanya tinggal mengingat-ingat gerakan dan mematangkan gerakannya supaya kami tidak lupa jika sedang pementasan.
Tak terasa, pementasan sudah tinggal 3 hari lagi. Besok, kami sudah harus gladi bersih bersama para peserta dari berbagai kalangan yang ikut untuk memeriahkan karnaval tersebut. Kami semua sudah tidak sabar rasanya untuk menampilkan tarian yang sudah kami pelajari selama 2 minggu. Terutama aku, Nia dan Insos. Kami paling semangat dari pada anak-anak lainnya. Lama-lama, aku semakin lupa dengan keinginanku yang ingin pulang ke Surabaya.
***
“Pagi mam” aku keluar dari kamar dengan baju kaos putih dan celana jins selutut.
“Pagi Al.. nih sarapan dulu. Mami tadi bikinkan hamburger untukmu. Plus keju 2 lembar. pasti kamu suka.” Kata mami seraya tersenyum padaku. “Oh ya, kamu mau kemana? Kenapa tidak pakai seragam sekolah Al?”
“Kan hari ini libur mi.. hari ulang tahun pekabaran injil di Manokwari. Sekolahku mau ikut karnaval nanti siang jam 2. Oh ya, mami nggak libur?” tanaya ku yang baru menyadari bahwa mami sudah siap dengan pakaian kerjanya.
“Nggak sayang. Mami ada acara di hotel. Menteri kesehatan mau datang hari ini, jadi mami harus siap-siap.” Jawab mami ku dengan entengnya
“Jadi...nanti mami nggak bisa lihat aku karnaval dong..?” Tanyaku dengan mimik penuh harap. Bagaimana tidak? Sudah dari dulu setiap aku mengikuti berbagai kegiatan, mami tak pernah datang untuk melihatku dan men-supportku. Tapi sekarang, inilah waktu pertamaku mementaskan tarian Papua dihadapan orang banyak.
Mami melihatku dengan wajah bimbang dan penuh penyesalan “Maaf sayang, kayaknya mami nggak bisa. Tapi, mami akan coba usahakan.” Mami tersenyukm padaku. Senyum yang dipaksakan.
Aku tertunduk lesu sambil menghela nafas. Hingga hati kecilku berkata, ‘ya sudahlah...mau bagaimana lagi?’
“Ya sudahlah mi...nggak apa-apa. Kalau mami sibuk, selesaikan aja dulu tugas-tugasnya. Daripada nanti mami dimarahin GM pusat karena kerjanya terbengkalai gimana? Nanti kan aku juga yang sedih...nggak apa-apa mi. Lagipula ini cuma karnaval aja kok..” Aku mencoba tersenyum. Senyum yang dipaksakan.
Mami tersenyum, haru. Ia memelukku, dan hanya satu kalimat yang keluar dari mulutnya, “Terima kasih Al. Mami akan usahakan.”
Aku mengerti kondisi mami. Mami sebagai single parent, memang tak mengherankan kalau ia menjadi wanita karir yang selalu sibuk. Semenjak mami dan papi bercerai 4 tahun lalu, (berarti aku masih kelas 1 SD) mami menjadi wanita yang super sibuk yang sepertinya tak ada waktu untuk beristirahat dan menikmati hidup. Hingga saat ini karirnya memang semakin memuncak, tetapi sampai sekarang juga aku belum mendapatkan papi baru. Beliau itu wanita cantik yang awet muda. Badannya tinggi langsing, kulitnya kuning langsat, sekarang saja mami masih berumur 30 tahun...
Aku hanya berharap, semoga mami mendapatkan yang terbaik...
***
‘Inilah saatnya!’
Mungkin itulah kata yang diucapkan aku dan teman-temanku yang mengikuti karnaval. Kami sudah didandani habis-habisan. Kami memakai baju dari kulit kayu dengan torehan garis melengkung berwarna putih. Bawahan kami memakai kain yang berumbai-rumbai. Kami juga memakai ikat kepala yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan bulu dan burung Kasuari sintetis sebagai lambang dari Papua Barat. Rambut kami dikepang, wajah kami dilukis disana-sini hingga penuh warna putih. Di pergelangan tangan dan kaki kami diikatkan tali rafia yang sudah menjadi rumbai-rumbai. Kami siap jalan.
Kami berjalan kurang lebih sejauh 5 km. Menampilkan hasil dari usaha kami setelah latihan 2 minggu. Awalnya agak grogi juga, karena seluruh masyarakat dari segala penjuru Manokwari, berkumpul di sepanjang rute karnaval. Tapi lama-lama, kami sudah mulai terbiasa dan malah semakin percaya diri bahwa kami-lah yang terbaik.
Aku berkonsentrasi mengingat gerakan-gerakan yang telah kupelajari kemarin. Aku terus berjalan tanpa menghiraukan para penonton. Ketika sudah mau mencapai tempat tujuan, aku menangkap sebuah bayangan. Sesosok yang ku kenal. Setelah aku menoleh ke belakang, aku melihat mami melambaikan tangan padaku. Iya betul! Itu mami! Aku membalasnya dengan senyuman lebar. Rasanya setelah melihat mami, aku merasa kembali bersemangat. Semua rasa letih yang datang langsung lenyap begitu saja.
Setelah acara selesai, kami di bagikan makan dan foto-foto bersama, setelah itu kami diperbolehkan untuk pulang. Aku melihat mami menuju ke arahku. sebelum mami sampai, aku langsung berlari ke arah mami, lalu memeluknya. Mami berkata sambil tersenyum
“Tarianmu bagus Allita!” lalu memelukku semakin erat.
Aku mendekap mami. Dari tempatku berdiri sekarang, aku melihat Nia dan Insos yang tersenyum ke arahku. Ya, aku merasa sangat bersyukur memiliki orang-orang seperti mereka. Mami, Nia, Insos, adalah orang-orang yang sangaat aku sayangi. Karena Nia dan Insos pula, aku menjadi kerasan di sini. Aku jadi belajar banyak hal dari mereka. Aku jadi mampu untuk beradaptasi disini. Aku jadi tahu bagaimana caranya menikmati hidup yang penuh cobaan ini. Dan sekarang, hanya satu keinginanku...
"Mami, aku punya satu keinginan. Mau kabulin permintaanku nggak???"
"Apa itu sayang??" Mami melihat ke arahku sambil tersenyum manis. Aku tersenyum lebar dan berkata..
“Aku ingin tetap tinggal di Manokwari."
***


Oleh :
Bunga Nieta Putri Vidanska (Manokwari)
bunganieta@yahoo.com