home about project archives id place




















Kesadaran Pada Alam

oleh: IACC ADMIN | Seni Rupa | 1 Bulan lalu

By AB Rahardja

"Orang-orang di Malay (Nusantara) ini lebih maju dalam kesehariannya; mereka mampu mengambil insight (pengetahuan yang dalam) dari alam. Apa sebenarnya yang menjadi standar sebutan keterbelakangan itu? Dan yang banyak dibicarakan oleh orang-orang di negara saya sendiri." - A.R. Wallace: The Malay Archipelago

Kepercayaan pada alam tidak bersangku paut dengan munculnya kesadaran lingkungan di masa-masa sekarang. Kesadaran lingkungan dimulai pada tahun 70-an bersamaan dengan culture criticism (kritik terhadap budaya) yang didorong oleh Frankfurt School di Jerman, yang menentang teknokrasi di kampus-kampus dan juga menentang kepercayaan pada perkembangan rasional, perkembangan industri. Kemudian muncul kelompok yang mencoba membangun ilmu baru yang disebut dengan istilah ilmu lingkungan atau ekologi. Jadi gejala itu baru muncul di tahun 70-an setelah gerakan mahasiswa pada tahun 1968 yang mencerminkan pergolakan menentang teknokrasi.

Sementara banyak seniman tradisi di Indonesia mempunyai kesadaran pada alam; kesadaran bahwa segala macam kehidupan terjadi karena keseimbangan alam. Sebuah keyakinan yang merupakan kontinuitas dari dulu bahkan jauh sebelum munculnya ilmu ekologi di barat, sejak dulu mereka telah percaya pada hubungan mikrokosmos dan makrokosmos. Dan pada karya-karya mereka cukup jelas bahwa walaupun bermacam-macam corak atau teknik perkembangannya, ada benang merah yang dapat ditarik yaitu kepercayaan kembali pada alam. Bahkan ketika melukiskan masyarakat (painting the people) selalu terlihat bahwa orang-orang yang tergambar di sana, berada dalam suatu kondisi kehidupan alam yang seimbang. Kehidupan tradisi banyak menunjukkan bahwa "spririt" atau energi itu berpangkal pada alam.

Di timur sejak dulu orang mulai dengan merasakan suasana dan gerak alam sebelum ia melukis, untuk mencapai hasil yang besuasana gerak. Apa yang dirasakan jiwanya itulah yang kemudian divisualkan, bukan sekedar menyalin bentuk luar dari objek atau alam saja. Inilah sebenarnya yang dimaksud insight (pengetahuan yang dalam) yang merupakan hasil dari penghayatan alam ataupun lingkungannya.