home about project archives id place




















Ki Hajar Dewantara Milik Indonesia, Bukan Finland

oleh: IACC ADMIN | Sosial Budaya | 3 Tahun lalu

Oleh: Fadila M Apristajaya

Hm... Jadi ingat mengutip Ki Hadjar dan Taman Siswanya dalam beberapa tulisan ditugas-tugas dan diskusi perkuliahan. Dulu di kampus, di Finland, orang banyak bicarakan Freire, padahal ketika Freire baru menginjak usia setahun, Ki Hadjar sudah mendirikan Taman Siswa. Sebuah institusi pendidikan kritis yang sangat maju di zamannya, saking kritisnya sampai dikatakan liar oleh pemerintah Belanda, mampu membangkitkan 'merdeka', tapi kini dilupakan oleh bangsanya. Sekarang setelah orang ramai-ramai mengagungkan nilai PISA, mencoba mencontoh Finland (pemenang langganan PISA). Bahkan menteri pendidikan (-saat itu M.Nuh) menyandingkan nama besarnya dengan sistem pendidikan asing itu. Ah... semoga saja para calon-calon guru dan para guru kita jadi terdorong untuk tidak 'ahistoris' dan mau sejenak meletakan buku-buku pemikir barat Skiner, Kant, Dewey, Tolstoy, Montessori, Piaget, dan seterusnya, untuk sejenak memahami yang sesunguhnya telah Ki Hadjar Dewantara wariskan buat kita.

Finland tidak menerapkan konsepnya Ki Hadjar Dewantara. Mereka punya konsep dan situasinya sendiri yang menjadikan pendidikannya seperti sekarang ini. Soal bagus atau tidak itu relatif menurut saya. Sebenarnya agak miris karena yang membuat pak menteri bicara seperti ini mungkin saja karena hasil PISA Finland selalu mendapatkan rangking baik. Padahal proses standarirasi ini justru banyak dikritisi di kalangan akademisi pendidikan di Finland sendiri. Dan mohon maaf aku secara pribadi tidak mau mengiyakan “mengatakan Finland terbaik melalui proses standarisasi ini” yang nantinya malah mendorong menyetujui proses standarisasi yang dilakukan oleh OECD tersebut.

Melihat pendidikan di Finland juga harus melihat kultur dan demografinya. Apalagi membandingkannya dengan Indonesia harus hati-hati. Sekilas tentang demografi dan geografi, Finland secara bahasa dan budaya lebih homogenous ketimbang Indonesia. Kondisi sebagai one land country juga memberikan keuntungan tersendiri terhadap kondisi pendidikannya. Ditambah lagi jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak, jika dibandingkan dengan Indonesia. Dan jika bicara saat ini atau 10 tahun yang lalu sekalipun, ekonomi Finland jauh lebih maju ketimbang Indonesia. Apalagi dengan penduduk yang berkali-kali lipat dan daratan yang kerap dipisahkan oleh laut dan selat luas membentang.

Dan satu kultur di Finland yang membutuhkan waktu panjang untuk dicapai adalah, prestigious – nya posisi seorang guru di mata masyarakat, telah memberikan dampak signifikan pada pendidikan dan kualitas guru di Finland. Jadi guru di Finland sangat terhormat. Sehingga untuk masuk sekolah keguruan atau pendidikan untuk guru bukanlah hal yang mudah. Sehingga banyak yang ingin menjadi guru dan kapasitas terbatas, saringan yang dilakukan pun menjadi sangat ketat. Sedangkan di Indonesia saat ini orang lebih mengidolakan menjadi seorang dokter, insinyur bahkan ekonom sekalipun. Guru menjadi pilihan cadangan.

Menjalani pendidikan sebagai mahasiswa pendidikan di Finland sangat demokratis sekali. Guru dididik dengan cara yang kita sebut saat ini metode transformatif atau konstruktif. Seorang dosen tidak pernah mengatakan salah atau benar. Mahasiswa diajak untuk melihat sesuatu dari segala perspektif. Semua ujian dilakukan dalam bentuk essay. Bahkan kami mahasiswa pendidikan dapat mendiskusikan topik ujian semester. Mana yang aktual untuk diuji dan mana yang dapat dikesampingkan. Dan semua mahasiswa memberikan suaranya dengan penuh tanggung jawab, bukan asal mau dapat nilai bagus atau memudahkan proses ujian. Guru dididik bukan hanya menjadi kritis tetapi juga mampu membangun sikap kritis dikemudian hari.

Sedangkan di Indonesia ini masih jauh sekali. Contoh yang sangat kongkret, buku pedoman filsafat pendidikan yang digunakan di bangku kuliah pendidikan kita jauh dari yang bersifat kritis. Saya malah sangsi mahasiswa pendidikan di Indonesia pernah membedah pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang sesungguhnya, selain sebagai pendiri Taman siswa dan pencetus Tut Wuri Handayani. Apalagi membedah pemikir pendidikan kritis seperti Paulo Freire sampai Michael W. Apple (pemikir tua sampai pemikir muda). Karena jika memang mendalami pemikiran Ki Hadjar Dewantara, guru-guru lulusan dari sekolah keguruan tidak akan serentak seragam menyuruh anak-anak sekedar menghapal. Karena Ki Hadjar sendiri lebih menekankan pada proses bukan pada hasil akhir bahwa anak-anak mampu menghapal atau tidak, tapi bagaimana proses yang terjadi ketika seorang anak mencoba memahami sesuatu. Contoh kecil,jika kita minta anak SD kelas 6 disuruh melafalkan Pancasila sila 1sampai 5. Pasti Hapal! Tapi kalau ditanya: Kenapa harus Pancasila? Mungkin langka yang bisa menjawab.

Selain pendidikan keguruan yang demokratis dan kritis, guru juga didukung oleh beberapa aspek lain. Misalnya saja di Finland guru memiliki kebebasan penuh dalam menerapkan metodenya, dan kepala sekolah percaya penuh pada guru. Dan ujian negara dilakukan bukan untuk mengevaluasi seorang siswa, siswa tidak pernah mengalami ketertinggalan kelas. Justru sebaliknya ujian negara dilakukan untuk mengevaluasi system yang ada. Suasana pendidikan di tingkat sekolah dasar memang menyenangkan. Tapi banyak teman yang mengatakan masuk SMA tidak menyenangkan seperti halnya di sekolah dasar.

Soal libur, memang mereka punya libur yang cukup panjang. Bahkan buat di Eropa sendiri Finland termasuk memiliki waktu libur yang sangat panjang. Untuk brake summer bisa 3 bulan non-stop mereka libur. Libur panjang memungkinkan anak-anak untuk memperoleh banyak pengalaman yang sudah pasti memperkaya ilmu yang tidak akan mereka peroleh di sekolah. Banyak yang mengisi waktu liburnya dengan berkemah, bekerja dan lain-lain. Sehingga pada usia 18 tahun mereka sudah sangat mandiri.

Tapi menurut pengalaman berada dalam fakultas keguruan di Finland, justru nilai PISA (yang mengatakan Finland salah satu yang terbaik) dapat menjadi ancaman berbahaya di masa yang akan datang. Karena ketika standarisasi ini dipatuhi, guru-guru akan kehilangan kebebasannya dan memiliki beban tersendiri untuk mempertahankan nilai-nilai tersebut. Dan keterlibatan Finland di Uni Eropa juga mendorong keseragaman pendidikan di Uni Eropa. Finland pun akan terancam keunikannya.

Hm... tulisan ini bisa jadi akan mengalami perubahan dalam waktu cepat, karena Finland pun, termasuk pendidikan keguruannya berangsur-angsur kehilangan independensinya. Dulu semua universitas di Finland disubsidi pemerintah, sekarang tidak lagi. Dan ini tentunya akan membuat ketimpangan khususnya untuk bidang-bidang sosial yang berbeda dengan science yang dapat menjual hasil kerja lab-labnya. Apalagi bicara pendidikan, sebuah investasi yang panjang.

Akhir kata saya tidak mau mengatakan bahwa Finland memiliki sistem pendidikan yang harus ditiru. Seandainya pun dikatakan unik, bukan karena menerapkan konsep Ki Hadjar Dewantara. Tapi sekali lagi harus dilihat secara holistik kultur, demografi dan geografinya serta yang tidak kalah penting adalah sistem dan struktur yang menaunginya.

Jangan sampai kita berfikiran jika menerapkan pemikiran Ki Hadjar kita dapat meraih nilai PISA yang tinggi. Pertama tujuan utamanya haruslah bukan gengsi international yang harus dikejar, melalui PISA misalnya, tapi kedaulatan, seperti cita-cita Ki Hadjar sendiri, tujuan beliau bukanlah melahirkan lulusan memiliki nilai gemilang, tapi kedaulatan dalam pendidikan. Dan kedua hal yang tidak kalah pentingnya, harus didukung oleh sistem dan struktur yang baik serta kultur dari masyarakatnya.

Pemikiran Ki Hadjar, ada atau tidak ada PISA adalah salah satu hal terbaik yang 'pernah' dimiliki Indonesia. Dan sebenarnya jika Indonesia mau lebih terbuka dan manusianya, terutama para pengambil kebijakan, mau tidak melupakan sejarah, kita dapat 'memilikinya kembali' dengan cara yang jauh lebih baik. Karena sebenarnya kita dapat menjadikan jumlah populasi dan keberagaman sebagai sebuah kekayaan. Ah... sekali lagi semoga ucapan pak menteri menjadi penyemangat manusia indonesia, terutama guru, bahwa manusia yang maju adalah manuasia yang tidak 'ahistoris.'