home about project archives id place




















MONOLOG SENI RUPA

oleh: IACC ADMIN | Seni Rupa | 3 Tahun lalu

‘DOSA AWAL’, KEGAMANGAN “ANAK PUNGUT” DALAM SEPUCUK SURATNYA


Dalam bangunan sejarah seni modern Indonesia, bidang seni rupa agaknya menempati peringkat teratas didalam membangun pengukuhan “identitas Nasional” atas keberadaannya sebagai bagian dari kehidupan budaya bangsa. Terutama apabila dibandingkan dengan bidang sastra, Teatre, dan film, yang setidaknya telah memiliki bahasa nasional Indonesia sebagai medium pengucapannya. Secara kronologis, diskurs tersebut bermula sejak pertentangan Mooi-Indie - Persagi, kontroversi pernyataan Oesman Effendi, pernyataan Desember Hitam yang disusul gerakan Seni Rupa baru, sampai di proklamirkannya seni rupa kontemporer di awal tahun 90 an. Dari seluruh rangkaian peristiwa tersebut, apabila dicermati secara teliti, masalah sesungguhnya adalah semacam letupan krisis identitas “anak Pungut”, yang terjepit dalam kondisi antara : “Penolakan” dan “Pengakuan`

Sekarang “anak Pungut” itu telah tumbuh dewasa. Setidaknya dilihat dari segi usia dan penampilan visualnya. Ia telah diasuh dan dibesarkan oleh proses persenyawaan antara kehendak sosio-piolitik dan hasrat artistik-estetik. Dengan masih di bayang-bayangi krisis identitas sejarah keberadaannya, kini ia mengembara. Dan kemarin entah dari dunia pengembaraannya yang mana, ia menulis sepucuk surat, sebagai berikut:

Saudara-saudariku,
Ditengah hasrat politik untuk membangun ‘MANUSIA INDONESIA SEUTUHNYA’ sekarang ini, betapa sulit bagiku untuk hadir sebagai subyek yang Bhineka, tanpa desakan untuk menjadi Tunggal Ika, Identitas Nasional yang telah diperjuangkan dan kusandang sejak tahun 30an dulu, hingga kini masih membayangiku, meskipun terkadang amat samar, terkadang lantang. Bayang bayang heroisme , pada tahun 1990 lalu, itulah yang membuat aku meradang ketika kehadiranku pada KIAS di Amerika, diragukan dan dilecehkan. Sebagai anak pungut pasca kolonialisme, keberadaanku kembali terjepit diantara penerimaan dan penolakan. Dengan kata lain, seperti ada semacam dosa awal yang melingkupi seutuhnya keberadaanku, yang menjadi sumber dari semua kemalangan tersebut. Didalamnya aku mengira aku telah mengakar, pada hal tercerabut dan tumbang, mengira telah sejajar, padahal tetap tertinggal nun jauh di belakang, mengira....mengira...

Ya, identitasku selama ini agaknya memang sebuah perkiraan, sebuah kehendak, sebuah harapan, Sebuah cita-cita..sebuah idealisme! Melalui seorang Sudjoyono, idealisme itu menjelma menjadi SENI RUPA BERCORAK NASIONAL sebagai pengukuhan keberadaanku dalam perjuangan bangsa. Sebuah aspirasi yang mengakar kuat pada kondisi dan semangat zamannya, Karena itu ia begitu kuat pula memberikan pengaruhnya pada pertumbuhan dan perkembanganku.Karena kekuatannya pula, maka ketika OESMAN EFFENDY melemparkan pernyataan MENIADAKANKU di tahun 70 an, ia menimbulkan luapan kemarahan. Dan Luapan kemarahan itu, agaknya lebih terdorong oleh terusiknya rasa kebangsaan ketimbang hasrat untuk memeriksa atau mendiskusikan kembali EKSISTENSI dan POSISI KEBERADAANKU. Terlebih lagi pernyataan tersebut disampaikan dalam ceramah di sebuah kedutaan asing. Begitu pula ketika aku memberontak dengan garang melalui SENI RUPA BARU INDONESIA pada tahun 1975, yang didahului pernyataan DESEMBER HITAM di Taman Ismail Marsuki pada tahun 1974. Terlepas dari kasus kasus interen antara guru dan murid yang terjadi di dua lembaga akademi (ASRI Yogyakarta dan departemen seni rupa ITB) pada masa itu, yang melatari sekaligus memicu timbulnya peristiwa kemarahan yang berkobar-kobar saat itu agaknya lebih merupakan tersulutnya peristiwa kebangsaan yang telah termanifestasi kedalam bentuk, corak nasional sebagai sebuah kekuatan. Karena itu bisa dipahami apabila predikat yang diberikan pada sisi pemberontakanku saat itu oleh seorang kritikus adalah gerombolan (sebelum menjadi gerakan) sebuah term yang berkonotasi pengacau stabilitas nasional dalam sejarah negeri ini.

Didalam rangkaian diskurs tersebut, untuk tidak mengatakannya sebagai kericuhan, keberadaanku kembali terjepit, tercabik, terombang ambing, diantara penerimaan dan penolakan.

Tak berhenti sampai disitu pada Bienniale Seni Rupa Jakarta IX, 1993-1994, seluruh bangunan sejarah keberadaanku kembali di gempur, didekonstruksi dengan seperangkat pemahaman post modernisme. Peristiwa yang cukup kontroversial dalam sejarah bienniale yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta ini, agaknya diisyaratkan sebagai sebuah momentum kelahiran sosokku yang baru yang mereka namakan seni rupa kontemporer dengan batasan periode era 80 an, Menurut Jim, salah satu kuratornya...seni rupa era 80an melihat masalah masyarakat dalam lingkup yang lebih luas:kontek Budaya.

Pada karya-karya ini prinsip-prinsip pasca modernisme bisa dikaji lebih jelas. Dalam garis besar, ciri kelompok ini :tidak lagi menampakkan wilayah artistik baru. Malah keluar dari wilayah artistik dengan code khusus (SENI PATUNG, SENI LUKIS) semua tradisi yang menandakan eksplorasi artistik yang menjadi ciri modernisme tidak lagi diutamakan. Pencarian orisinalitas, perburuan tehnik baru, pencarian essensi ekspresi, eksplorasi media, konstruksi elemen elemen seni rupa, tidak lagi di persoalkan...(katalog Bienniale Seni Rupa Jakarta IX, h. 34)

Dengan kata lain..terlepas dari niat baik Jim yang mencoba melakukan Subversi atau pencairan dari dalam pusat kebekuan dan kemapanan...tanpa dukungan prasarat berupa kesadaran, pemahaman serta wawasan serupa dari seluruh peserta bienniale atau setidaknya cukup memadai, peristiwa bienniale yang menghebohkan itu terjebak menjadi sebuah polarisasi. Pengertian bienniale sebagai tradisi modern , sebuah institusi dimana seperangkat standar kekuasaan dioperasikan, apapun bentuk dan visinya, sungguh terjadi. Dalam hal ini Kehadiranku yang spontan, lugas, nakal, cerdas dan segar pada peristiwa BINAL di Yogya pada tahun 1992...dari terminologi binal itu sendiri sudah merupakan pencairan sebongkah kebekuan dan kemapanan...barangkali lebih mewakili prinsip Difference Derrida, salah seorang bapak post modernisme, yang mencoba untuk merayakan perbedaan- keberagaman. Disitu aku hadir tidak sebagai rekayasa kekuasaan, karena itu tidak melembaga (menjadi bentuk kemapanan yang lain) yang rutin diselenggarakan dua tahun sekali.

Ditangan Jim, dalam posisinya sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta ketika itu, kehadiranku pada peristiwa bienniale yang menghebohkan itu dengan maksud mau merayakan keberagaman dalam kontek budaya , sebagai sebuah wacana perlawanan atas hegemoni arus besar modernisme yang berpegang pada prinsip universalnya, terjebak menjadi sebuah way out, rekayasa politik kebudayaan, ketimbang sebuah refleksi perubahan nilai yang mendasar dan alami.

Hal tersebut di perjelas oleh sebagian besar karya yang ditampilkan (keberadaanku juga) yang kelihatan teramat gagap dan gamang didalam menghayati arti keberagaman yang sedang di perjuangkan, sebagai langkah praktis dari prinsip-prinsip post modernisme. Antara seni yang menolak konversi dan makna sosial, mitos dan ideologis seni dan menjanjikan penjelajahan menuju pengalaman kebaruan dan transformasi abadi (baca:modernisme) dengan seni yang masuk kedalam konvensi dan makna sosial dan ideologis, namun menjadikannya sebagai ajang permainan , subversi, dekonstruksi dan ironi (baca: postmodernisme) memang gampang menimbulkan kerancuan. TERLALU GAMPANG DISARUKAN. Dan itulah yang terjadi dan menjadi trend, seperti terjadinya trend dalam fashion gaya dan model baju pada masyarakat kita yang gampang latah. Dalam acara diskusi yang mengiringi peristiwa bienniale tersebut, kegagapan dan kegamangan tersebut nampak kian nyata.

Agaknya penolakan dan pelecehan para kurator KIAS di tahun 1990 terhadap keberadaanku itulah menjadi motif perlawanan, yang membawaku pada jebakan klasik: begitu pentingnya Pengakuan . Dan para pelaku binal yogya, pada momentum ini di tarik dari posisi kebinalannya ke posisi Bienniale yang sesungguhnya (baca:sebuah bentuk pengakuan dalam tradisi modern) untuk dijadikan aktor-aktor bersama dengan aktor-aktor lainnya, sebagai pelestari hegemoni kekuasaan. KELUAR.. ..kian EKSPLISIT tampak pada kehadiranku dalam pameran seni rupa kontemporer negara2 non blok 1995 yang lalu. Kali ini polarisasi atas diriku dileburkan pula ke dalam polarisasi seni rupa kontemporer dunia. Artinya, kini aku disenyawakan pula dengan kebijakan Ekonomi --politik GNB, yakni utara-selatan, selatan-selatan, atau arus selatan. Alkisah betapa makin beratnya beban identitas yang kusandang. Ia tidak saja menampung perluasan ke bineka-tunggal-ikaan budaya, akan tetapi sekaligus perluasan dari Nasionalisme ke Internasionalisme, yang apabila dicermati, tampak sebagai wajah baru dari pertentangan TIMUR-BARAT pasca kolonialisme yang tak habis-habisnya, yang celakanya justru mengingkari konsep perbedaan dan keberagaman yang melandasinya, yang menjebabkan Jim merasa buta huruf ketika menyaksikan sebagian besar karya (baca: juga keberadaanku) pada bienniale seni lukis 1996 yang lalu di Taman Ismail Marzuki (kompas,?,1996)

Dengan demikian ‘dosa awal’ yang menghantui keberadaanku sebagai ‘anak pungut’, agaknya belum juga terampuni. Ia bukan saja sekedar sebagai sebuah trauma sejarah, akan tetapi sekaligus sebuah penaklukan yang tak berkesudahan.

Sementara disisi lain, tingkat pertumbuhan ekonomi yang terjadi dalam satu dasa warsa terakhir, dilihat sebagai bagian pembiakan kapitalisme muthahir dunia, tak bisa disangkal telah ikut pula menyeretku pada pusarannya.,..riuh rendah pasar. Didalamnya aku tidak saja mendapat semacam kehormatan baru sebagai produk yang bernilai jual tinggi, akan tetapi sekaligus dicurigai, dilecehkan, dicap sebagai tak bermutu, dan sebagainya. Dalam hal ini, sebagaimana diprediksikan secara jernih oleh Nirwan Dewanto maraknya pasar tersebut telah menciptakan kegelisahan (juga kegamangan dan kepanikan) Disatu pihak ia dianggap mengotori kesucianku, dipihak lain, ia setengah dirayakan sebagai penggerogot elitisme dan kemapanan yang dipelihara oleh sejarah keberadaanku (kesenian kita, kapitalisme muthahir dalam senjakala kebudayaan, bentang 1996).

Dari situ lengkaplah sudah segala kegamangan yang melingkupiku, sampai hari ini, dalam kepungan situasi serta kondisi tarik menarik antara semangat mempertahankan fanatisme sempit CITRA NASIONAL yang masih cukup menggebu, yang ironisnya masih di bayang-bayangi semacam sentimen primordial akademis (kubu bandung- kubu Yogya). Trauma sejarah pasca kolonialisme yang melahirkan hasrat dan semangat menggebu didalam merespon wacana persamaan hak atas keberagaman budaya yang ditawarkan post modernisme ditengah arus globalisasi dunia: Dan kepungan pasar yang oportunistik, yang umumnya tumbuh dari etos persilangan antara pedagang acung dan makelar.

Ditengah kegamangan yang teramat komplek itu, celakanya, secara literal dewasa ini aku lebih banyak dihadirkan hanya melalui resensi di halaman terbatas surat-surat kabar dan majalah, atau sekedar pengantar pada katalog pameran.

Pesimis??? Tidak! Sebab diluar segala kegamangan tersebut masih tersisa kedalaman wilayah personal yang nyaris terabaikan, yang membawaku pada makna “keberagaman “ yang sesungguhnya. Pada kedalaman wilayah “jiwa ketok” Sudjoyono di luar konteks sejarah citra nasional yang gamang, Kesanalah aku mengembara, memasuki kesenyapan yang amat menerawang pada landscape Abbas Alibasyah yang naturalistik, ke pejalan emosi dan daya kontrol yang berlapis-lapis, terkadang pecah pada jalinan geometris Sri widodo yang abstrak: kemuraman yang miris, magis dan purba pada bangunan intuisi dan imaginasi Fadli Rasyid yang ekspresif surealis di desa terpencil di jember sana: Kegalauan yang menghimpit-menekan pada landscapes kota Dede eri Supria yang hiper realist: Keriangan yang pahit dan mengejek pada figur-figur satir GM Sudarta yang karikaturis:Kekelaman yang mengumpul nanah, menganga luka, pada instalasi Semsar Siahaan yang kontemporis:

Pada wilayah personal pelukis muda yang menggebu Made Budiana yang abstrak ke kedalaman sufistik Yuno Delwizar Baswir, bercumbu dengan riangnya ke wilayah Eddie hara yang naiv, bermain di wilayah sarkastis Heri Dono yang karikaturistik ke wilayah personal Rudi anggoro yang ekspresif hingga ke kedalaman surealistik nan spirit javanis Moonear Khar. Dll, dlsb, dsb....


Didalam wilayah yang nyaris terabaikan tersebut, bahkan secara serampangan terkadang dianggap sudah mati, kehadiranku bukanlah semacam gerakan kaum feminis yang menuntut persamaan hak. Akan tetapi aku hadir justru merupakan manifestasi dari persamaan hak itu sendiri. Sebab disanalah prinsip keberagaman itu bekerja mendedah kan makna yang beragam pula.

Demikianlah, Usaha untuk menerima, mengukuhkan atau menolak sebahagian atau seluruh keberadaanku, barangkali hanya akan mengekalkan kegamangan sejarah, semacam kegamangan kaum borjuasi Eropa pada abad 19 yang meletakkan dan menentukan standar awal keberadaanku sebagai simbol status kelas sosial mereka, yang kemudian dengan kegamangan yang sama pula diadopsi oleh politik kebudayaan negara sebagai kriteria “universal -hirarkis”.: dosa awalku, yang menimbulkan banyak ketersisihan dan menjadikan begitu pentingnya “pengakuan`

Memang teramat sulit untuk lepas dari ‘kehormatan’ dan ‘kebesaran’ yang telah selama 2 abad dibangun dan dijanjikan untuk disombongkan....****


Ambar Bediaci Arini, penulis, kurator seni independent, mukim di yogyakarta
(note: Beberapa pikiran diambil dari catatan Aant S Kawisar)