home about project archives id place




















Meningkatkan Kesadaran tentang Planet Bumi Kita

oleh: IACC ADMIN | Seni Rupa | 4 Tahun lalu

Usaha Seni Oceu Apristiwijaya, Meningkatkan Kesadaran tentang Planet Bumi Kita

Oleh Amir Sidharta

Biarkan jejak menemukan tanahnya dan biarkan air menemukan alirannya (Oceu Apristawijaya)

Setelah lulus dari Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2002, Oceu Apristiwijaya menjadi relawan Warsi, Komunitas Konservasi Indonesia bekerja dengan orang-orang adat yang mendiami Bukit Dua Belas Taman Nasional di Jambi, Sumatra. Di sana ia bertemu Butet Manurung, yang sejak 1999 memiliki keberanian menjelajahi hutan bekerja dengan orang rimba (“masyarakat hutan”) suku nomaden yang menghuni hutan Jambi. Mereka memutuskan untuk mengajar di wilayah yang berbeda di hutan, sehingga anak-anak yang lain akan mendapatkan manfaat dari apa yang mereka lakukan.

Ketika Warsi mendiskusikan agenda kerja dengan perbedaan perspektif dari agenda pendidikan mereka, karena untuk beberapa masalah hukum Indonesia (yang tidak mengakui hak-hak kelompok berpindah dan melarang orang untuk tinggal di Taman Nasional). Butet memutuskan untuk mengundurkan diri dari Warsi. Oceu mengikuti beberapa bulan kemudian dan begitu juga dengan tiga guru-guru lain. Ingin tinggal untuk melindungi hak-hak adat dan pendekatan pemberdayaan, mereka mendirikan program Sokola yang mencoba untuk menjangkau masyarakat di Indonesia yang belum diakses oleh pendidikan formal, untuk membantu dan berbagi pengetahuan atau keterampilan hidup menghadapi masalah kehidupan nyata mereka sehari-hari khususnya untuk mengatasi dunia luar.

Sambil mengajar Anak Rimba (anak-anak dari masyarakat rimba), Oceu mengamati bahwa anak-anak tersebut menyenangkan dan menarik dapat mengungkapkan pikiran dan mimpi mereka melalui gambar-gambar dan lukisan-lukisan, dan itu juga mendorong mereka untuk mempelajari lebih lanjut terhadap apa yang dilakukan dalam program. Sebagai seni alternatif/ pendekatan pendikan visual dalam mengajar masyarakat adat hutan Jambi dan Bulukamba serta desa-desa nelayan miskin di Flores dan Makasar.

Pengalamannya hidup dan bekerja dengan masyarakat adat menginspirasi untuk mengekspresikan kekhawatiran mereka tentang lingkungan dalam karyanya sendiri. “ Saya telah belajar banyak dari Anak Rimba, “Ia mengatakan, Saya tidak mengharapkan bahwa seni mereka akan sangat berbeda dari karya-karya seni yang dibuat oleh anak-anak pada umumnya: landskap khas yang mencakup dua gunung dengan matahari terbenam di tengah. Mereka menunjukkan kepada saya gambar-gambar dari ‘pelindung dari pohon’ yang menampilkan pohon besar dengan banyak akar. Mereka menggambarkan kedekatan mereka dengan alam dan sekitarnya melalui lukisan hewan di sekitar mereka, dan bahkan para penebang ilegal dengan gergaji mereka”. Sering kali, ia harus memperbolehkan mereka untuk menggunakan berbagai teknik menggambar dan melukis dan bahan-bahan yang tidak konvensional. Anak-anak bebas untuk menggunakan metode selain satu titik atau perspektif ganda, proporsi, dan sebagainya. Juga, ketika perlengkapan-perlengkapan seni konvensional menjadi langka, mereka sering menggunakan tanah yang mereka bentuk seperti krayon atau pastel, atau bahkan berwarna getah tanaman tertentu untuk membuat karya seni mereka.

Belajar tentang perbedaan dan bagaimana menerima dan menghormati perbedaan itu telah menjadi pelajaran paling berharga bagi seniman. ”Anak Rimba memiliki perbedaan persepsi dari kebahagiaan. Anak Rimba menjadi tidak bahagia ketika sesuatu dari hutan mereka menghilang,“ katanya. Memang kita menjadi bahagia ketika kita mampu untuk mendapatkan barang-barang lebih pribadi. Sementara itu, masyarakat adat hutan-hutan di Jambi tidak memiliki harta-benda, dan tidak peduli tentang itu. Namun, jika pohon dipotong dan meninggalkan hewan-hewan, akan menyebabkan kesedihan mendalam dalam hati mereka, seperti yang kita lakukan jika barang-barang pribadi diambil dari kita. Mereka menganggap seluruh hutan dan lingkungan alam sebagai rumah komunal mereka dan sumber kebahagiaan dan kebanggaan.

Lukisan yang dipamerkan dalam Art Venture menggambarkan kehidupan masyarakat yang berinteraksi dengannya dalam tujuh tahun terakhir; suku-suku asli di berbagai bagian negara yang menganggap hutan tropis Indonesia sebagai rumah mereka, serta penduduk desa-desa nelayan yang miskin di negara ini, lingkungan dan penghidupan yang terganggu dan terancam oleh perkembangan berikutnya.
Karya-karya Oceu telah dikoleksi oleh penggemar seni dari Australia, Jerman, Amerika, Afrika Selatan dan Indonesia, dan setelah pameran dalam mengikuti residensinya di Rimbun Dahan di Malaysia, lukisannya menarik perhatian sekelompok bahkan yang lebih luas dari kolektor seni. Penggemar seni mengkoleksi seni yang menggambarkan orang-orang menghindari atau memiliki keduniawian dalam waktu yang lama. Itulah bagaimana menjadi ironis dunia kita, tapi kita belajar untuk hidup dengan perbedaan.

Diharapkan, lebih banyak seni kolektor akan tertarik dalam pembelian karya-karya Oceu, tidak hanya untuk koleksi, tetapi juga untuk membantu menyebarkan kesadaran keberadaan Orang RImba dan suku-suku asli dan masyarakat marjinal, menghormati cara hidup mereka, dan terpanggil untuk membantu pemberdayaan mereka. Oleh karena itu, dengan demikian, kami juga kabarkan dari hutan hujan kami, yang bukan milik pribadi atau perusahaan apapun, atau hanya milik negara atau bangsa, tapi harus dipertimbangkan sebagai milik semua orang di planet ini. Hutan ini tidak hanya rumah Anak Rimba, tetapi juga rumah yang kita perlu menghargai sebagai kepemilikan dan kebanggaan bersama.

Tulisan ini menjadi pengantar untuk katalog pameran solo (art) Venture, Juli, 2009

www.apristawijaya.wordpress.com" target=_blank >www.apristawijaya.wordpress.com