home about project archives id place




















RE-SET CULTURE

oleh: IACC ADMIN | Lain-lain | 1 Bulan lalu

Oleh Suryaning Dewanti

Heritas Budaya Batak.

Toba adalah salah satu tempat yang menyimpan keagungan cerita negeri ini. Siapa yang tak tahu bahwa kehidupan di tanah Ibu Bumi Sejati ( SU - MA -TERA) telah membangun kebudayaan selama beribu-ribu tahun di wilayah Mandala- Hyang (Mandailing) mulai dari di daerah Ba-Ta-Ka-Ra (Batak Karo) sampai ke daerah Pa-Da-Hyang (Padang) di masa 100.000 – 74.000 SM.

Bercerita tentang jaman ini kita mengacu pada sebuah jaman, dimana paparan sunda belum terpisahkan oleh lautan. Pada masa itu leluhur kita sudah memiliki ajaran dan masyarakatnya memeluk ajaran Kemataharian, yang disebut SU-RA YANA.

Mungkin memang sudah siklusnya, jika setiap peradaban memiliki masanya sendiri, sampai pada sebuah letusan besar yang berasal dari Gunung Batara Guru dan meninggalkan Kaldera yang sekarang menjadi danau (Toba).

Jika dulu pernah ada yang bertanya bagaimana mungkin tanpa kitab leluhur kita bisa menciptakan manusia -manusia dewata disinilah awal mulanya hingga perjalanannya ke Timur. Mewariskan ilmu perngetahuan kepada turunan itu juga tidak mudah, tak banyak lagi orang-orang yang bisa membaca tulisan langit atau rekaman data angkasa atau Akhasic record yang di jaman sekarang lebih dikenal dengan : iCloud.

Agar para pewaris negeri ini tidak punah maka mereka pun meninggalkan catatan agar para pewarisnya masih bisa membaca petunjuk atau cara agar tidak salah arah. Oleh karena itu, masyarakat Nusantara jaman dulu tidak mengenal istilah SESAT karena ya memang mereka tahu betul dari mana asalnya, untuk apa dilahirkan dan kemana akan kembali. Tidak seperti sekarang, taunya hanya surga dan neraka.

Ajaran kemataharian tersebar ke segala penjuru, baik di jaman Swargantara, Dwipantara maupun Nusantara. Masyarakat kita sangat piawai dalam menguasai 4 hal ini:
1. TATA-SALIRA
2. TATA-NAGARA
3. TATA-BUANA dan
4. TATA-SURYA

Tak heran jika bangsa ini dahulu dianggap bangsa yang menakutkan, karena memiliki SISTEM HUKUM (TRISULA NAGARA) dan TATA NAGARA yang sangat baik. Tak hanya itu, negeri ini memiliki kepandaian dalam berbagai pengetahuan, mulai dari ilmu membela diri untuk mempertahankan wilayah, ilmu pengobatan, dan segala macam. Semua tertulis rapi dalam berbagai manuskrip, yang disebut Pustaha Lak-Lak.

Sedikit dari catatan dari wikipedia :
"Pustaha, biasanya dibuat dari kulit dalam pohon gaharu dipotong dan dihaluskan menjadi lembar panjang yang disebut laklak. Lembar laklak ini kemudian dilipat-lipat, dan kedua ujungnya dapat direkatkan pada sampul kayu bernama lampak yang seringkali memiliki ukiran kadal Boraspati (reptil). Meski pemahat kayu merupakan profesi yang tersendiri dalam masyarakat Batak tradisional, namun Datu memahat sendiri segala perkakas miliknya yang berhubungan dengan praktek hadatuan, termasuk sampul pustaha. Naskah pustaha ditulisi dengan tinta menggunakan pena dari rusuk daun aren (Arenga pinnata) yang disebut suligi atau pena dari tanduk kerbau yang disebut tahungan."

Sebagai pewaris negeri pertiwi, memiliki hak untuk menerima kembali ajaran yang sudah lama hilang. Dan sudah selayaknya kita menjaganya dengan baik agar tak mengulang kesalahan di masa yang lalu dan ini adalah salah satu manuskrip sangat kuno, yang juga disebut sebagai Pustaha lak - Lak, foto terlampir.

Horas ma di hita saluhutna, Butima Amang/Inang, mauliate ma di hamu, horas ma.
Sugeng siang