home about project archives id place




















Seni Rupa Kuta: Sejarah, Ruang dan Kerja

oleh: IACC ADMIN | Seni Rupa | 4 Tahun lalu

Tatang B.Sp

Membaca seni rupa Kuta selalu punya perspektif yang berbeda dengan Sanur maupun Ubud sebagai dua pusat seni rupa di Bali. Memang terasa, bahwa wilayah ini sulit untuk melepas stereotipnya. Stereotip yang tidak saja berkait dengan kooptasai industri wisata tapi juga pilihan sikap seniman di wilayah yang terkenal keindahan pantai pasir putihnya itu. Karena situasi inilah, saya memahami seni rupa Kuta tidak dengan harapan atas perspektif yang lain. Bagi saya Kuta adalah realita.

Perjalanan seni rupa Kuta terasa lebih sulit ketimbang dua pusat seni rupa yang lahir dari sejarah yang relatif lebih tua itu. Mungkin, Kuta sudah kadung didefinisikan secara homogen, terutama oleh kepentingan di luar kesenian itu sendiri. Industri wisata terlampau perkasa menjadikan karya rupa sekadar komoditas, menjadi aksesoris bagi keindahan dunia pelancongan itu. Karya rupa dalam pelabelan : turun kelas menjadi sejenis souvenir.

Sementara itu, Sanur dan Ubud, dalam beberapa hal juga tak luput dari pelabelan semacam itu. Tapi, yang membedakan dengan Kuta, dua tempat ini dihidupkan sejarah dan tradisi kesenian yang membingkainya dari waktu ke waktu. Di Sanur, misalnya, Andrien Jean Lemayeur ikut andil membesarkan wilayah ini dengan museumnya yang tersohor itu. Keunggulan sejarah seni lukis tradisional mahzab Sanur semakin mengukuhkan Sanur dalam kemantapan dan kewibawaan seni rupa Bali. Sedangkan Ubud dalam perjalanan sejarahnya mengalami interaksi dan persentuhan dengan Walter Spies, Rudolf Bonnet, Antonio Blanco, Arie Smit, dan lain-lain. Di Ubud pulalah lahir Pita Maha, sebuah kelompok seni rupa yang kemudian hari menjadi tonggak sejarah seni rupa modern Bali. Bukankah seni lukis Young Artist dan gaya lukis Pengosekan berasal dari wilayah ini?

Sebagai destinasi wisata paling sibuk di Bali, Kuta sejak semula menjanjikan peluang ekonomi yang besar bagi para perupa yang datang dari penjuru Nusantara lewat penjualan karya kepada turis manca negara. Pertumbuhan art shop yang dimulai berpuluh tahun silam mengindikasikan betapa besar peluang itu. Lukisan Mooi Bali pernah menjadi gaya yang dominan pada rentang waktu 70-an hingga 90-an dalam bursa pasar lukisan yang biasa ditemui di tempat-tempat wisata di Bali, tak terkecuali Kuta, untuk dijajakan kepada turis-turis manca negara yang ingin mengabadikan kenangan atas perjalanannya di sebuah negeri tropis.

Industri wisata yang semakin berkembang dalam lingkup dunia global, seperti tak bisa menghindar, selalu mencoba menjual imajinasi keindahan, romantisme dan eksotisme wilayah ini. Sebagaimana layaknya imajinasi-imajinasi yang sering berkesan mengkilat di majalah, brosur pariwisata, dan kartu pos, begitu pulalah dalam lukisan digambarkan tentang pesona keindahan panorama lanskap Bali yang permai nan mistis, upacara pengabenan yang khas dan kemolekan perempuan Bali yang bertelanjang dada. Sebuah gambaran dunia stereotipikal yang memberi kesempatan pada penikmat untuk mengambil kacamata turisme dalam memandang Bali. Kendati demikian, di tengah hiruk-pikuk arus komersialisasi seni rupa Kuta, semestinya tetap bisa tampil sosok-sosok kreatif yang unggul. Pribadi soliter yang selalu mengintensifkan pencarian pada kecenderungan estetik yang diyakininya. Sesungguhnya kekuatan kreatif personal pada seniman unggul itulah yang turut memberi saham sejarah bagi perkembangan seni rupa Kuta.

Melacak tahun 80-an sampai 90-an dalam seni rupa Kuta, kita segera menemukan dinamika pertumbuhan dan perkembangan yang cukup mengagumkan. Wahyoe Wijaya, Martin Sitepu, Salim, Arifin, Bambang Uud, Si Hong dan kawan-kawan adalah pelukis yang tercatat ikut dalam arus sejarah itu. Karya-karya mereka memberi kesan yang mendalam. Setidaknya bisa dicatat, karya-karya itu lahir dari sosok-sosok seniman yang tak tertundukkan oleh eforia estetika yang dominan. Sebagai seniman-seniman yang cukup populer ketika itu, karya-karya mereka termasuk karya rupa modern. Mencari identitas dalam kerangka konsep “yang khas” dan “orisinal”, menemukan apa yang belum sempat digali oleh bentuk dan gagasan karya pada seniman-seniman yang lain. Karya-karya mereka tampak berbeda, karena hal itu menunjukkan apa yang mereka percayai. Kekhasan bahasa visual pada masing-masing telah menyempal dari dominasi Mooi Bali yang dilakukan secara massif dan bertahan hingga waktu yang lama. Pernahkah anda mengingat-ingat pameran Wahyoe Wijaya tahun 1994 di Balai Budaya Jakarta : topeng, anyaman bambu, sepatu, kuda lumping, wayang bahkan becak direkat di atas sebentang kanvas? Atau, tengok saja pelukisan perempuan dalam kanvas-kanvas Salim yang terhindar dari rasa bergula-gula. Pun pada karya Martin Sitepu, garis dan warna jalin-menjalin membentuk sebuah dunia enigma. Beranikah anda mengatakan karya-karya mereka lahir dari para pribadi yang gampang takluk pada estetika dominan di Kuta saat itu? Saya kira tidak. Karena, mereka adalah para penolak yang konstan terhadap ketundukan.

Dengan menengok sejarah yang lalu itu, kita bisa tahu bagaimana visi setiap perupa berkembang sesuai dengan pertumbuhan kapasitas individualnya, serta pada saat yang sama berpaut dengan dinamika wacana dan praktik seni rupa yang melingkunginya. Perkembangan seni rupa selalu ditentukan oleh situasi jalin-menjalin dan keterhubungan antara pertumbuhan personal seorang individu sebagai perupa dan pergeseran kehidupan sosial yang berlangsung di sekitar proses kreatif seniman itu sendiri dalam pembentukan dan pertumbuhan yang tak kunjung usai.

Saya selalu percaya, bahwa perjalanan seni rupa Kuta pada saatnya bukan hanya sekadar mentransfer satu peristiwa ke peristiwa lain dalam waktu sejarah, tapi juga sekaligus membawa masuk sejumlah konteks atas peristiwa itu agar tak kehilangan relevansi dalam dinamika ruangnya. Tanpa memberi makna baru dalam konteksnya yang lebih tepat hanya berakhir menatap tembok besar, yang membuat kita kehilangan perspektif (Dengan ini, diam-diam kita sedang memampatkan atau membekukan perkembangan seni rupa, bukan? ). Dan, yang saya maksud dengan konteks itu adalah sebuah proses “menjadi”: keberanian untuk memeriksa dan memperbaharui diri tiada henti, merumuskan kembali hubungan dengan sejarah maupun perkembangan masyarakat pendukungnya. Maka yang disambut bukanlah yang permanen, melainkan perubahan tak henti-hentinya sebagaimana seni menempatkan pertumbuhan dan perkembangan sedemikian penting. Dari situlah agaknya kita bisa berbicara tentang kesadaran relasional timbal-balik antara perupa dengan ruang yang menghidupinya. Jika ruang menjadi bermakna manakala melokalisasikan kenangan (inner space) seperti yang diungkap Gaston Bachelard, lalu di manakah sesungguhnya perupa menempatkan ruang dalam dirinya? Atau sebaliknya, di sisi manakah perupa menempatkan diri dalam ruang? Adakah memori atas ruang itu? Tanpa jawaban atas pertanyaan itu maka dislokasi terjadi : jangan-jangan para perupa hanya merasa tinggal di Kuta tapi tak melakukan perjalanan dan petualangan atas berbagai peristiwa yang berlarian tumpang-tindih di wilayah itu. Pada abad kini, pengalaman ruanglah yang menjadi kunci untuk memahami peradaban (seni) kita. Sejurus dengannya, sejarah adalah strategi penguasaan yang mengungkapkan diri secara spasial, demikian saya merujuk pendapat Michel Foucault.

Begitulah, sejarah telah mengantarkan kita pada masa kini dengan suara yang lain. Perubahan yang terjadi karena resistensi yang dibayangi prasangka-prasangka seputar Mooi Bali kini tidak lagi menjadi bagian yang relevan dalam diskursus. Pada masa kini perupa dituntut untuk mengolah kekayaan sumber artistik, melahap aneka bentuk visual apa saja demi menggencarkan produksi mereka. Tak bisa lain, perupa mestinya pelintas batas yang cekatan, siap meresapkan sekian khazanah ke dalam dirinya. Sebagaimana sudah lazim, seni rupa kiwari dimungkinkan untuk memproduksi, menginterpretasi, dan mengapropriasi kosa estetik yang menjadi bagian dari ikon budaya tradisional maupun budaya populer.

Saya mendambakan, semestinya generasi seniman Kuta terkini bisa melahirkan perupa yang menunjukkan kecenderungan kuat dalam karya yang berselancar dalam berbagai gagasan tentang, misalnya, ingar-bingar ruang kosmopolitan di tengah tarik-menarik budaya populer di satu sisi dengan nilai-nilai tradisi yang masih terus dijunjung tinggi oleh pelaku budayanya. Kuta adalah ruang dan waktu dimana tradisi dan kontemporer bisa dinikmati dan dirayakan sebagai keberadaan dan kenyataan bersama : kidung bersanding dengan alunan musik diskotik, dolar dan uang kepeng sarana upacara keagamaan beredar bersamaan, antara ritual dan profanitas wisata hadir berbarengan. Tapi di sisi lain, Kuta juga tumbuh dalam pola yang tak linear, di mana segalanya tampak serba mungkin tapi juga tak mungkin, serba bisa tapi dibatasi. Ketegangan dan hiruk-pikuk yang sesungguhnya sebuah gelanggang bisa dibayangkan menghasilkan gesekan-gesekan imajinasi yang tentu bisa manjadi spot penting bagi sumber gagas seniman Kuta. Di tengah kenyataan semacam itu, saya membayangkan akan lahirnya karya-karya yang berbicara sesuatu yang disebut sebagai persoalan dengan cara pandang yang kritis atau bisa juga menemukan karya-karya yang sepenuhnya bermain-main, parodi, melucu-lucu, tanpa beban, enjoy dan penuh kegembiraan dalam memotret paradoks wilayah ini. Atau, boleh juga hadir karya-karya tanpa beban kiblat apa pun, merayakan kebebasan dan menikmati keasyikan yang sia-sia sebagai usaha untuk meneguhkan diri di tengah realitas yang retak.

Pariwisata mengubah segalanya. Di sekeliling industri itu hiduplah pasar, uang dan massal : sebuah dunia yang efektif, efisien dan tertib. Hubungan seni dan industri (wisata) dalam batas-batas tertentu adalah pertunangan tak setia. Kesenian tumbuh dan runtuh dalam pusaran ideologi pasar. Lalu, apakah memasuki situasi itu bencana atau malah keberuntungan ? Memang sering dilematis dan memberi kesulitan yang cukup besar untuk menjawabnya. Dua sisi yang tampak berbeda. Di satu sisi, mereka membutuhkan indikator bahwa sebagai pencipta mereka mesti berkembang. Di sisi yang berbeda, tak ada pilihan selain kemapanan pasar turistik yang dominan itu. Karenanya, menurut hemat saya, penting bagi kita untuk melihat tumbuhnya galeri, art space, atau art event baru yang serius di tengah sedikitnya infrastrukkur semacam ini di wilayah Kuta. Munculnya galeri, art space, atau art event baru akan bisa merangsang dan membuka kesempatan bagi seniman untuk menghadirkan karya-karya yang menampilkan terobosan-terobosan baru yang menyegarkan. Sementara itu, galeri, art space, atau art event membuka kemungkinan pasar berbeda yang tak terbayangkan oleh pelaku pasar yang mapan itu.

Barangkali yang bisa dikatakan penting adalah mencari kembali makna dari transformasi, ketika status “ruang” berubah menjadi “tempat”. Dari sesuatu yang luas dan lapang menjadi sesuatu yang diberi sekat pembatas. Saya merasa bahagia, Kuta Art-Chromatic lahir di tengah kesadaran akan fungsi dan keberadaannya sebagai “tempat” untuk menfasilitasi “ruang“ kreatif para pekerja seni yang tak berbatas itu. Meski terasa banyak tantangan dalam menghadapi dunia seni rupa yang kian kompleks, Art Event ini setidaknya memberikan pengharapan bagi perupa untuk menemukan sebuah wadah di mana hasil etos kreatif dirayakan bersama. Sebuah etos yang menjelaskan: seniman menghidupkan oase keseniannya dan oase kesenian menghidupkan senimannya. Andai kita menyadari bahwa seni rupa Kuta adalah seni rupa dalam situasi paradoks, niscayalah pengharapan itu mengubah rasa was-was kita menjadi rasa gembira.

Saya sedang menanti kesungguhan Art Event ini untuk menyuguhkan karya-karya visual yang kuat mutunya dalam setiap pameran yang disajikan. Yakni, karya-karya rupa yang punya kesegaran bentuk dan gagasan, yang dikerjakan seniman serius sehingga publik tidak bosan dengan citra visual yang nyaris “itu-itu saja” dan “begitu-begitu saja”. Adakah sebuah peristiwa seni di ruang pamer mampu melahirkan satu momen pencerahan bagi publiknya, jika dikerjakan dengan tak memantapkan mutunya?

Dalam sejarah seni rupa Bali, seni rupa Kuta seringkali dikesankan sebagai “pinggiran”. Kata sifat “pinggiran” itu sendiri berlaku taksa. Kaum perupanya tidak memuja pusat dan tak terpenjara olehnya. Tak berbeban, itulah yang bisa dikatakan. Maka, tumbuhnya inisiatif di kalangan perupa Kuta untuk mengorganisasi diri dan menggagas berbagai aktivitas seni rupa – mulai dari penyelenggaraan pameran hingga hal yang berkait erat dengan sirkulasi produksi dan distribusi pengetahuan publik – yang digagas dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan intens setidaknya bisa dibaca sebagai gerilya rileks untuk memperpendek jarak antara pinggir dengan pusat. Jika tak pandai meracik dan merawatnya, kerja semacam itu sangat mungkin hanya akan menjadi masakan hambar yang segera basi. Kerja belum selesai, saudara !

*Penulis adalah pelukis yang tinggal di Denpasar