home about project archives id place




















Wawancara Yuanita Sawitri - Puri Art Gallery

oleh: IACC ADMIN | Lain-lain | 1 Minggu lalu

Pada masa pandemi ini Puri Art Gallery cukup aktif membuat acara lewat Instagram dan juga membuat virtual exhibition yang inovatif. Berikut petikan wawancara bersama Yuanita Sawitri, Founder Puri Art Gallery beberapa waktu lalu.


Bagaimana cerita membangun Puri Art Gallery pada masa awal, apa yang memotivasi anda?

Pada tahun 2000 belom banyak galeri Senirupa di area Jawa Timur yang memamerkan karya2 kontemporer. Sedangkan pada saat itu sebetulnya banyak seniman yang berpotensi namun tidak memiliki ruang pamer yang cukup dan memadai. Dan juga banyak kolektor yang hanya berkiblat ke perupa-perupa Jogja, Bandung, dan Bali.

Oleh dasar itu kita membuka galeri Senirupa di Malang dan mulai berpameran pertama kalinya pada tahun 2001. Saat itu pertukaran informasi belom semudah sekarang. Tujuan kami tentu selain membuka wawasan dari para perupa Jatim yang saat itu sangat minim interaksi dengan seniman di luar jatim, juga memperkenalkan seniman-seniman kita ke kolektor-kolektor di luar Jawa Timur. Dengan in house artists kita yang berjumlah 4 orang pada saat itu, kita melakukan residensi keliling ke area Jogja dan Bali dengan tujuan untuk menambah wawasan para perupa Jawa Timur kita sehingga terjadi penciptaan karya yang menarik.

Dalam konteks bisnis apa tantangan yang paling sulit dalam mengelola galeri seni, pasti ada proses yang berliku kan?

Banyak kendalanya, orang berpikir memiliki galeri adalah sesuatu yang gampang, namun tidak semudah itu. Kita harus bekerja keras mempromosikan seniman-seniman kita untuk dapat bersaing di dunia Senirupa kita baik secara lokal maupun internasional.

Membina mental dan attitude para seniman kita supaya bisa bekerja secara profesional adalah tantangan tersendiri. Perkembangan karir seorang seniman tidak bisa dibangun secara instan karena membutuhkan waktu dan kerja sama yang tidak selalu mudah, sehingga komitmen dari kedua belah pihak baik pihak galeri dan seniman sangat penting.

Jika melihat iklim ekosistem seni saat ini di Indonesia, faktor-faktor apa yang belum mendukung pasar seni di Indonesia?

Edukasi pasar. Edukasi seni sejak dini belum maksimal, minimnya pengenalan seni di sekolah-sekolah berakibat kurang terasahnya jiwa seni dan apreasiasi terhadap seni rupa kita.

Persepsi masyarakat yang belum mengkaitkan prestige dan luxury pada senirupa, sehingga ketertarikan individu untuk membeli karya seni juga masih minim. Istilahnya daripada membeli mobil dan tas mewah, mungkin sekali-sekali mereka bisa mengapresiasi dan membeli karya seni dari seniman lokal kita yang sebetulnya banyak memberikan pengetahuan pada kita secara tidak langsung.

Peran museum walaupun sudah hadir sejak puluhan tahun yang lalu, namun dampaknya baru kelihatan belakangan ini.

Government support. Untuk acara-acara seni kebanyakan di adakan secara swasta. Seperti galeri sendiri, kita berusaha secara individu tanpa bantuan pemerintah. Sedangkan kalau di luar negeri, pemerintah biasanya sangat support terhadap event-event seni.

Apa kiat-kiat bertahan pada saat pandemik seperti sekarang ini? Karena kemudian muncul pameran-pameran yang bersifat charity dan ditawarkan secara online?

Galeri harus terus berevolusi ya. Untuk saat pandemi seperti ini, pameran untuk karya 2 dimensi atau patung secara virtual masih bisa diakomodasi. Namun untuk karya instalasi ruang lingkupnya akan sedikit terbatas.

Membuat program-program tidak hanya pameran namun juga edukasi secara daring, meskipun dampaknya tidak langsung namun akan banyak memberikan manfaat.

Mempertajam marketing dan meningkatkan service terhadap kolektor yang mau membeli lukisan. Misalnya, ketika mereka takut keluar rumah, ya kita yang jemput bola, kita yang membawa karya tersebut ke rumah mereka atau personal kontak kepada beberapa kolektor untuk memperkenalkan karya-karya.

Seperti apa kondisi publik seni sekarang ini, terutama dengan kondisi ekonomi global yang melemah?

Memang sulit tapi tidak sedikit yang memanfaatkan waktu pandemi ini untuk mengetahui lebih dalam mengenai senirupa kita. Karena banyak yang WFH, mereka punya banyak waktu untuk belajar dan melihat beberapa pameran tanpa harus meluangkan waktu pergi ke tempat acara yang biasanya butuh waktu ya. Sehingga ada beberapa kolektor yang masih membeli karya-karya yang menarik untuk mereka. Tentu dengan kemampuan dan budget masing-masing ya.

Apa saran untuk seniman muda Indonesia?

Terus berkarya, gunakan waktu yang tenang ini untuk menambah ilmu atau pengetahuan kita, mencari ide-ide baru tanpa banyaknya gangguan, memperbaiki teknik dan skill, mempelajari hal baru.

Terus bereksperimen melahirkan karya yang baru dan siapa tahu bisa menjadi sejarah di dunia seni rupa kita.


......
https://www.puriartgallery.co.id/