home about project archives id place




















Wong Asiu dan Ang Tong Hay, di Manakah Kalian Kini?

oleh: IACC ADMIN | Sosial Budaya | 4 Minggu lalu

Oleh Syukur Budiardjo

Wong Asiu dan Ang Tong Hay, di manakah kalian kini? Sudah sejak lama sebenarnya saya merindukan kalian. Bukan karena pada hati ini, Sabtu, 25 Januari 2020, bertepatan dengan Tahun Baru Cina, Imlek, buat kalian. Akan tetapi, kenangan itu yang tak terhapus di benak saya.


Agustus 1980. Sore hari. Jalan Pejagalan Raya No. 51. SMP Negeri 32 Jakarta. Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Saya memasuki kelas itu. Kelas satu. Kelas 1E atau 1.5. Ya di kelas itu saya mulai mengenal namamu. Wong Asiu, murid perempuan, tinggal di Jembatan Lima. Ang Tong Hay, murid laki-laki, tinggal di Pengukiran. Nama kalian tersua di buku absen.
***

Tak ada perbedaan bagi saya buat melayani kalian. Kalian adalah makhluk Allah. Meskipun kalian bukan pribumi asli, pikiran dan perasaan lugu saya melihat kalian sebagai bunga-bunga yang nanti akan semakin mekar dan menghiasi taman kehidupan ini. Yang harus senantiasa disiram dengan kasih sayang. Mungkin kalian masih ingat ketika saya mengajarkan imbuhan "bersemedikepeter", menulis kalimat aktif dan kalimat pasif, menulis paragraf, dan menulis surat. Mungkin kalian juga masih ingat bagaimana saya mengajarkan pasal-pasal dalam UUD 1945 melalui lagu "Samama Preunaslim" yang berbentuk jembatan keledai itu. Meski saat itu Imlek belum menjadi hari libur nasional, kalian pada saat Imlek tak masuk sekolah. Ketika saya mengabsen, saya tak menemukan kalian di kelas. Namun, kami -- para guru -- memakluminya.
***

Kue keranjang. Ya kue keranjang itu kalian berikan sebagai kenangan. Itu membuat saya tak dapat melupakan kalian. Kalian kini tentu sudah menjadi orang tua. Yang harus bertanggung jawab menghidupi dan membina keluarga. Saya tahu, selain kue keranjang, kalian pasti sangat mengharapkan pemberian angpao dari orang tua kalian. Keluarga kalian juga juga sudah mempersiapkan buah jeruk dan ikan bandeng. Pertunjukan barongsai pasti juga sangat ditunggu-tunggu. Sekolah kita berlokasi di kawasan niagai. Setelah menyeberangi Kali Jelakeng, saya tiba di Pasar Pagi. Dengan berjalan kaki saya bisa mencapai Jalan Asemka yang mengilhami Remy Sylado menulis puisi mbeling "Dua Jembatan: Merabeu & Asemka". Jika saya menurutkan langkah kaki, saya bisa menyusuri kawasan Pancoran dan Glodok yang sangat terkenal itu. Paa saat Imlek kawasan ini semarak dengan pernak-pernik Imlek. Sebagai kawasan Pecinan di Kota Tua, daerah ini tentu sangat ramai jika Tahun Baru China tiba. Lampion berwarna merah tergantung di setiap toko.
***

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan Tahun Baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama di penagggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh pada tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam Tahun Baru Imlek merupakan malam pergantian tahun. Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan tahun baru Imlek sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam tahun baru dan penyulutan kembang api. Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Di Daratan Tiongkok dan negara-negara lain , Tahun Baru Imlek juga dirayakan dan telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.
***

Sekarang, saya membayangkan kalian sebagai bocah atau anak baru gede (ABG) yang harus bergaul dengan Pak Guru yang selisih usianya tak seberapa. Tentu ada kata dan perbuatan saya yang mungkin menyakiti hati kalian ketika saya mengajar kalian. Maafkan saya, Wong Asiu dan Ang Tong Hay!

Di tahun yng baru ini semoga kebahagiaan, kedamaian, dan ketenteraman, senantiasa bertahta di dalam jiwa dan hatimu. Kesejahteraan juga semoga selalu berlabuh di dalam mahligai rumah tanggamu. Hidup semakin bermakna untuk meninggikan harkat, derajat, dan martabat kemanusiaan. Hidup kian berarti bagi sesama dan makhluk di dunia ini. Gong Xi Fat Cai.

Sebuah puisi saya ciptakan untuk kalian. Mudah-mudahan berkenan.

SING CUNG KYI HI
Berharap hujan melimpah ruah
Pada musim semi yang basah
Di awal musim tanam tahun ini
Bawa keberuntungan mendaki
Leleh peluh kian jadi menderas
Di bawah terik mentari melepas
Kerja senantiasa tanpa ragu
Seiring datangnya tahun baru
Sing Cung Kyi Hi untuk kawanku
Selamat merayakan musim baru
Gong Xi Fa Cai bagimu kukirim
Rezeki membuncah di awal musim

Cibinong, Januari 2020

*Illustrasi Edo Abdullah