home > column > detail
30 Mei 2014



Ada apa dengan istilah seniman?

diposting oleh: admin

Oleh Jonkobet

Membaca esai Aminudin TH Siregar (Kompas minggu, 11 September 2011) Salah Kaprah Istilah “Seniman”. Beberapa pernyataan menarik dalam esai tersebut antara lain “Orang-orang biasa yang mungkin mampu mencapai “kualitas-kualitas seni”. Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua orang (otomatis/bisa menjadi) seniman”. Pernyataan hirarkis berbau struktural, dalam esai juga tidak sempat dijelaskan ‘siapa yang berhak disebut seniman, dan siapa pula yang berhak memberi gelar tersebut?’ Kejam rasanya bila ‘seniman’ hanya bagi lulusan sekolah-sekolah tinggi seni, untuk orang-orang yang mendapatkannya atas proses aturan tertentu atau karena kesepakatan, seharusnya hal itu tidak terjadi di wilayah alam estetika yang maha luas dan teramat halus ini. Bergelar sarjana seni bukanlah satu-satunya jalan untuk dapat disebut sebagai seniman, terlampau formal, bahkan begitu gelar sarjana seni tercapai terkadang orangnya belum terbukti mampu membuahkan karya seni. Yang jelas menjadi seorang seniman sejati tidak sama seperti profesi lain, semisal dokter, pengacara, insinyur, kiyai dll.

Adakah hukum lain pernah dipakai orang Indonesia untuk menentukan otoritas gelar seniman tersebut selain pernyataan S Sudjojono? Yang beliau adalah tokoh pelukis Indonesia terdepan. Seperti biasa, ucapan dan gagasan orang penting selalu lebih utama didengarkan atau diangguki. Bagaimana pula nasib takrif-takrif yang digunakan orang-orang sepeninggal beliau hingga sekarang? Terbukti istilah seniman ini dirasa sangat lezat bagi ramai orang dari beragam profesi, dalam kasus ini mestikah S.S. kita lihat sebagai pisau tunggal yang amat sangat tajam? untuk menebas semua yang lain, karena dianggap berbeda bau dan warnanya.

Adat pedagang biasanya risih saat melihat kedai-kedai dan gelaran jualan bermunculan di kiri dan kanannya, apalagi yang berdiri itu supermarket atau mall, atau adat orang sakit biasanya membangkitkan amarah tatkala mendengar suara-suara orang bergembira ria di sekitarnya. Ideosinkretik yang dianggap keterlaluan itu seberapa besar gangguannya terhadap wilayah seni dan berkesenian? Perilaku pesohor di layar kaca yang disebut Aminudin telah sembarangan mengoceh hendaknya difahami sebagai perilaku di wilayah populer yang tak peduli pada batas-batas hukum akademik, itu ruang besar yang hiruk pikuk dan penuh sarat dengan kekeliruan. Ocehan mereka menyebut dirinya seniman di tayangan televisi tidak membingungkan target audiens mereka!, malah pemirsa menikmati ocehan itu dengan santai atau tidak peduli sama-sekali. Sikap yang perlu diambil adalah tetap berada dalam kekuatan jati diri seniman yang sebenarnya, meskipun harus hidup dalam kondisi kekinian yang serba tak menentu. Begitu banyak masalah dalam dunia seni dan berkesenian kita, itu adalah hawa dan musim yang setiap saat selalu akan berubah dan berganti atau kembali lagi.

Ini adalah masalah bahasa, yang bersentuhan dengan wilayah profit atau ideal, antara pengguna bahasa dan penyusun tata bahasa, atau antara orang yang tidak tahu bahasa dengan orang yang memandang bahasa yang baik dan benar itu penting. “Siapakah seniman itu dan apa batas-batas yang bisa diberlakukan terhadapnya?” Pertanyaan yang dilontarkan Aminudin tersebut sudah sering kita dengar, dan telah pula dituai sedemikian banyak jawaban untuk itu. Menurut esainya defenisi seniman adalah “seorang yang mengerjakan, menciptakan karya-yang hasilnya nanti disebut-seni” ditambah pernyataan S.S. dalam bukunya Seni Loekis, Kesenian dan Seniman (1946) bahwa “syarat tambahan agar seseorang pantas disebut seniman atau tidak. Antara lain ia mengatakan bahwa kerja seorang seniman tidak semata-mata berurusan dengan soal kecakapan dalam soal teknis saja (misalnya menggambar atau melukis). Lebih dari itu, untuk menjadi seniman yang baik dan benar, kata S.S., seseorang itu harus memiliki watak dan jiwa besar (sebab seni adalah jiwa yang tampak, katanya)”, disebutkan Aminudin juga tentang “Menjadi seniman adalah proses. Dan, peran publik tak kalah penting dalam proses tersebut”. Bila S.S. mengatakan ke-‘pantas’-an berarti ini tentang sesuai atau tidak, bukan masalah salah atau benar, tentunya tidak ada kekeliruan di situ. S.S. mengatakan pentingnya ‘watak dan jiwa besar’ tentulah sulit untuk menentukan batasannya. Tujuan S.S. mungkin saja berupa pembinaan mental pelaku seni agar sesuai dengan kondisi (di masa dia hidup). Sehingga S.S. dan Affandi sangat memandang tinggi status seniman (menurut Aminudin), seolah-olah istilah ini sangat mulia dan jangan dinodai, jika demikian alat apa yang bisa dipakai untuk mempertahankan ikhwal status yang tinggi tersebut, perlukah aparat atau undang-undang seni dan berkesenian. Bila misalnya beban status tersebut dipikulkan lagi pada seniman itu sendiri, tentu saja sulit, karena Affandi saja tidak mengaku seniman, dia mengaku tukang gambar. Mengenai proses dan peran publik, ini juga sangat kompleks, bahwa proses itu tercakup waktu, cara, alat, aturan dll, sedangkan publik adalah wilayah yang luas sekaligus beruang-ruang batas.

Benarkah seniman adalah status yang tinggi, apa tolok ukurnya? keberhasilan mencapai jenjang popularitas, berpenghasilan dari karya-karyanya, telah menciptakan karya monumental, pengakuan komunal atau publik secara luas, telah mencapai gelar akademik dll? Tidak ada batasan pasti untuk sebutan itu, dan tidak ada badan hukum atau individu sekalipun boleh mencabut dan mengekangnya bila seseorang telah disebut seniman, yang tersisa adalah tanggung jawab si seniman terhadap diri, karya dan kehidupan berkeseniannya.

Untuk apa sekolah seni, perguruan tinggi seni, atau sanggar-sanggar seni didirikan, apakah untuk menjadikan mereka pelukis, penari, pelakon, penyanyi dll, tentunya tidak hanya itu, setiap pelaku seni berharap bisa sekaligus sanggup menjadi seniman, dan secara terstruktur diupayakan agar yang lulus berhak menyandang gelar seniman, dengan embel-embel sebagai S.Sn. (Sarjana Seni), M.Sn. (Master Seni) dll. Otomatis seorang sarjana seni diakui secara struktural sebagai seniman, ijazahnya berlaku untuk banyak hal dan keperluan, sistem ini telah berdiri sangat kokoh. Orang-orang yang tiada pernah sekalipun bersentuhan dengan hal-hal berbau akademik tentunya tidak bisa dinafikan begitu saja, bagi mereka yang kemudian berkarya dan hidup dengan karya-karyanya itu sudah sepatutnya disebut seniman, meskipun mereka tidak mengharapkan gelar, atau seniman kecil yang merasa dirinya tidak besar, seniman kampung yang tidak pernah diekspos, atau seniman-seniman dalam sebutan-sebutan lain yang ‘tidak sedang berada dalam jalur besar’. Affandi bila selalu menyebut dirinya tukang gambar, itu adalah cermin kerendahan hati beliau, fiiliyah Affandi tersebut bukan tolok ukur penentu yang muktamad. Istilah seniman yang diumumkan pertamakali oleh S.S. telah berhasil melaksanakan tugasnya sepanjang sejarah seni dan berkesenian kita, meskipun dicetus oleh seorang pelukis, namun istilah itu diminati banyak bidang lain.

Nah, bila pengoceh-pengoceh di layar kaca tersebut menganggap istilah seniman tersebut dapat mewakili eksistensi di bidang yang mereka geluti, apa yang salah? dan ini adalah istilah dalam bahasa Indonesia, penggunanya juga orang Indonesia di negara ini, apanya yang keliru?. Sebelum istilah seniman muncul, kita mengenal pelaku seni dengan menyebutkan pekerjaannya, misal istilah ‘tukang’ atau yang lebih setingkat diatasnya dengan sebutan ‘ahli’ atau ‘juru’, mereka ini adalah pencipta, pelaku atau pembuat. Misal tukang nyanyi (biduan), tukang gambus (pemetik alat musik gambus), tukang ukir (pengukir), tukang gambar (pelukis), tukang gesek piul (pemain bola) dll. Istilah tersebut sudah ditinggalkan dan kepunahannya semata-mata disebabkan karena istilah ‘tukang’ berkonotasi pekerjaan kasar, rendah, dimasukkan sebagai golongan pengrajin (pembuat karya masal) atau tukang gergaji kayu yang sekaligus bertugas menancapkan paku (tukang rumah). Alhasil istilah ‘seniman’ berhasil menggantikan istilah ‘tukang’, pelaku-pelaku seni mendapat tempat dan perlakuan terhormat, nyaman, dan senang disebabkan reka bahasa yang sukses ini.

Sebelum lanjut lebih jauh, mari kita telusuri mulai dari alif. Bahwa ‘seniman’ berasal dari kata ‘seni’ yang menurut Kamus Wilkinson (1956); Seni. Fine (in texture); Thin, clear or high-pitch (of a voice); graceful or lightly built (of men and animals). Bercelak s.: touched up delicately with antimony powder (to darken the eyes); Ind. Meng., Perb. Java, Put. Ak. 15. Putri yang s.: a princeS.S. delicately fair. Suara-nya terlalu s.: with a very high-pitched voice; Bost. Sal. Ii 88. Jarum yang s-s: needles worn very thin. Mal Annals 13. Cf. (Min) sani. Seni is used also politely of calls of nature, e.g.: ayer s. (urine). Ht. Hamz.; hajat s. (desire to relieve the bladder), Bost. Sal. I 44.

Secara umum Wilkinson menjelaskan seni ada dalam rupa, suara, bentuk, rasa dan kehalusan budi pekerti. Beberapa paparan Wilkinson yang dikumpulkannya; pertama; Bercelak seni (dengan sentuhan celak melebihi arti celak sebagai perbuatan zahir fungsional), kedua; putri yang seni (penampilan seorang putri yang menyenangkan dan mengairahkan untuk dilihat, bisa saja oleh sebab gaya, hiasan dan pakaiannya, serta ukuran tubuh ideal yang difahami semasa itu), ketiga; suaranya terlalu seni (suaranya yang diupayakan seindah mungkin oleh pelantunnya, biasanya yang disukai adalah suara yang halus dan tajam sanggup merubah perasaan pendengarnya), keempat; Jarum yang seni-seni (menyebutkan jarum yang halus kecil-kecil sehingga harus hati-hati menanganinya), bagian akhir ditutup dengan pengertian seni sebagai ungkapan sopan menggantikan bahasa yang dianggap kasar, bahwa air kencing disebut seni, dan buang air kecil disebut hajat seni.

Jakob Sumardjono dalam bukunya Filsafat Seni (2000) menyebutkan; "Kembali kepada asal kata 'seni' dalam bahasa Indonesia, pengertiannya tampak menjadi aneh. Pengertian 'kecil' (perasaan seni, burung seni) untuk mewakili pengertian 'tukang' atau 'perbuatan' kemudian tampak janggal membingungkan. Aktifitas keterampilan yang dikenakan kepada art atau kunst tak ada hubungannya sama sekali dengan pengertian 'kecil'. Mengapa R.D. dulu memilih kata itu untuk kunst?".

Tahukah sidang pembaca yang budiman, bahwa kata ‘seni’ sama dengan istilah ‘sonik’ yang hingga hari ini masih dipakai oleh masyarakat Melayu di sepanjang Sungai Rokan (Riau), mulai dari hulu hingga ke hilir muaranya. 'Sonik' sama benar artinya dengan kata 'seni' kamus Wilkinson tadi, hanya berbeda logat saja. Dialek orang Tamusai, Rambah, dan Kepenuhan menyebutnya sonik, atau sonit dalam dialek orang di bagian hilir Sungai Bokan seperti di kampung Sekeladi, Sintong, Sedinginan dll. Sonik berasal dari kata bilangan 'so' atau 'se' artinya adalah 'satu', berasal dari bahasa Sanskerta 'swa' (satu), digabung dengan kata 'nik' yang artinya sesuatu yang sangat kecil atau halus. Kata sonik/sonit/seni berarti suatu yang halus bentuk rupa maupun sifatnya. Dalam Wilkinson ada istilah 'ayer seni' dan 'hajat seni' sepadan makna dengan 'ayie sonik/ayie sonit' dan 'hajat sonik/hajat sonit', untuk menggantikan istilah 'kencing' atau ‘pipis’ agar menjadi lebih sopan. Sonik digunakan untuk menyebut ukuran kecil untuk banyak hal, misal; urang sonik (kate), paja sonik (anak kecil), sonik padek (sangat kecil), ula sonik (ular kecil), atau bermakna sifat, misal; ati sonik (hati sanubari), sonik ati (khawatir, takut, ciut) dll, selain itu untuk lebih lengkapnya 'sonik' dalam bahasa Melayu Sungai Rokan bermakna pula sebagai berikut;
1. Sonik (lahir); menyebutkan lahirnya seorang bayi, “Olah sònik anak si Anu?"(sudah lahir anak si Anu?). Mònyonikkan berarti; 1) melahirkan, 2) mengecilkan ukuran sesuatu, 3) menghilang-hilangkan perasaan risau, menghibur hati yang gundah.
2. Sonik (hati-hati); melakukan suatu perbuatan dengan gerakan hati-hati “Sonik carò mònanganinyo” (hati-hati menanganinya).
3. Sonik (elok); 1) upaya terbaik yang dilakukan untuk membuat sesuatu menjadi indah atau halus buatannya disebut juga dengan istilah sòabih elok, (memperhalus, finishing) disebut juga mònyonikkan. Orang Melayu menyukai benda berukuran kecil/ sonik, semisal korih sonik (keris berukuran kecil), kuraan sonik (alquran kecil), tepak sonik (tepak kecil), culicup (senjata tajam bermata sangat halus), serta benda-benda kecil yang disebut barang kòminan. Sonik tidaklah semata-mata berukuran kecil akan tetapi sonik adalah elok imbang sepadan (tidak prematur). Orang yang mampu membuat karya buatan ukuran sonik (halus) dianggap mempunyai keahlian tinggi. Sesuatu yang sonik teramat dihargai, dan upaya-upaya mònyonikkan (menyenikan/menghaluskan atau mengecilkan) dianggap sebagai pekerjaan yang memerlukan ketelitian dan keahlian.

Menjalin hubungan rahasia antar pemuda pemudi di kampung pada tahun 60-an ke belakang, masa itu hubungan percintaan tidak sebebas sekarang, ungkapan (dialog) percintaan mereka dibangun dengan cara sonik (cara yang halus), bisa menggunakan bahasa-bahasa ungkapan dan sindiran, dengan tanda-tanda khas, atau isyarat rahasia, sehingga tidak kòròmònan (tidak vulgar), perilaku sedemikian itu disebut dengan ungkapan 'rahasiò kitò bòduò' (rahasia kita berdua), disitulah seninya, halusnya, permainannya dan keahliannya. Biasa juga peniup bansi (sejenis seruling) memainkan bansi sonik (bansi ukuran sangat kecil) di malam hari dengan cara sonik (alunan suara bansi lirih) sengaja dilakukan agar sang gadis idaman merasakan kesyahduan bansi cintanya. Atas aktifitas-aktifitas tersebut dapat kita letakkan satu takrif bahwasa seni Melayu semasa mengutamakan sonik bentuk dan mengedepankan sonik perasaan serta gagasan, kehalusan tindakan dan perbuatan, untuk mencapai kepuasan atau tujuan tertentu yang lebih baik.

Kata seni telah masuk dalam deret lema KBBI, populer dan menjadi bahasa kajian akademik. Di tengah masyarakat luas diperbaharui maknanya dan terus-menerus berubah berkembang hingga hari ini, berguna untuk banyak hal, fungsi, keperluan, dan kepentingan. Bermula seni itu artinya ‘kecil' atau 'halus’ kemudian menjadi kosa kata utama dan sangat penting, mampu berdiri sendiri memikul tugasnya dengan baik. Dewasa ini perkembangan seni sangat luas dan beragam, kemungkinan perubahan makna atas kata seni sangat mungkin terjadi, oleh karena itu penafsiran atau penetapan baru yang baku atas kata seni dan seniman sebaiknya dilakukan segera, bila dianggap perlu.

Seniman identik dengan karya ciptaannya, tidak ada seniman tanpa karya. Selain acuan karya, perlu pengakuan yang bisa didapatkan dari orang lain secara individual, adapun pengakuan komunal sudah sangat memadai. Bila telah tergabung antara karya dan pengakuan dari orang lain baik individu maupun komunal berarti sebutan seniman itu objektip. Orang yang telah menempuh jenjang pendidikan seni, dia baru saja dan telah mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang seniman, sebagaimana ia sebelumnya dahulu memilih jenjang pendidikan seni berarti telah berhasil memilih jalan hidupnya agar suatu saat nanti menjadi orang yang berkarya. Ijazah seni dan gelar akademik hendaknya dimaknai sebagai aba-aba atau alaram pengingat agar ia harus berkarya! Maka seniman erat kaitannya dengan karya, selain jiwa seninya itu sendiri.

Berbicara tentang kualitas karya seni, maka setiap masa dan zaman mempunyai tolok ukur masing-masing, baik dalam kesepakatan maupun atas teori dan hukum berkesenian. Kita, di zaman kontemporer seharusnya bisa membuat pemaknaan mutakhir yang tidak kaku, menggunakan cara yang tepat saat melihat perubahan-perubahan terjadi dan melihatnya sebagai perilaku zaman yang terkadang tidak dapat dibendung oleh teori-teori yang dianggap mapan. Bila saja segala sesuatu dapat dibakukan menjadi satu saja, dan kekeliruan dianggap mutlak sebagai kejahatan dalam bentuk momok menyesatkan, tentulah peradaban manusia di muka bumi ini akan semakin memburuk. Seni dan berkesenian berada dalam wilayah ortodok manusia, lahir sebagaimana kondisi manusia itu eksis, maka manusia berpeluang berkarya sesuai dengan kondisi ketika itu. Seniman seperti apa yang kita maksud dan seniman seperti apa pula yang dimaksudkan orang? bila tepat penjelasannya tentu tidak akan dianggap keliru, dan tidak akan lagi membingungkan sebab pilihan kita atas satu definisi boleh dan bebas diletakkan pada takrif mana yang dianggap sesuai.

Seni kita (bila kita itu maksudnya Indonesia), berakar dari berbagai cabang yang penuh dengan perubahan-perubahan, baik dan buruk, halus dan kasar, sopan dan menyakitkan dll, itu bila dilihat dari sudut pandang zahir duniawi. Lain lagi bila dilihat dari sudut pandang norma dan agama, tentunya kita dituntut untuk berkesenian dengan aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar. Jiwa yang tampak menurut S.S. dapat ditafsirkan dalam dua golongan besar, yakni jiwa senimannya yang tercermin pada karya yang dibuatnya, maka silahkanlah (boleh-boleh saja) lihat seniman kita itu dari kegandrungan dan pengaruh fiiliyah, sifat yang dia miliki, itu berasal dari wilayah hati dan nafsu. Atau jiwa yang disebut kekuatan akal fikiran, dapat dilihat pada keahlian si seniman mengolah karya. Apa yang dapat kita ketahui misalnya dari karya-karya lukis yang menampilkan istri-istrinya yang telanjang, atau gambar-gambar tubuh-tubuh jalang, tampilan-tampilan visual aurat, tentulah bila tafsir ‘jiwa yang tampak’ kita gunakan adalah sudut pandang hati dan nafsu si seniman, kita sudah mengenalnya, dan sedikit banyak bisa dideskripsikan ‘jiwa tampak si seniman’ berdasarkan alat yang kita pakai.

Kegelisahan harus dimiliki oleh seorang seniman, terutama kegelisahan atas gelar sebutan seniman yang telah disandangnya, atau gelisah oleh sebab karena dia telah bergelar akademik seni. Kegelisahan itu seperti khouf yaitu ketakutan bila telah bergelar seniman namun akhirnya tidak melahirkan apa-apa, atau kemudian berhenti berkarya, dalam pepatah Melayu ada sindiran “Gelar sudah, malin tak jadi” maksudnya hanya membawa-bawa gelar hilir mudik ke sana ke mari tanpa bukti nyata kekaryaan. Kegelisahan seperti ini berpeluang menjadi mesin penggerak dan penggesa bagi seniman untuk segera berkarya dan tidak tergolong seniman mandul. Gelar yang disandang dapat pula berupa kewajiban moral seniman terhadap lingkungannya yang tidak harus diaplikasikan dalam bentuk karya rupa, tulisan, atau tontonan, bisa saja seseorang menjadi pusat pengaruh yang kuat dalam kehidupan berkesenian di lingkungannya, yang terakhir ini adalah bagian lain dari aspek eksistensi kehidupan seniman bagi orang lain. Perlu lagi dipahami secara baik dengan perasaan yang halus, bahwa seorang yang dahulunya seniman dan telah berhenti berkarya akan tetap seniman selamanya, dan tidak ada pemecatan.

Terlalu banyak berteori ke sana ke mari tanpa karya akan mengubah seniman menjadi seorang konseptor atau filsuf atau sastrawan. Saya suka dengan ucapan orang yang menyebutkan bahwa “Seniman itu harusnya menyelesaikan proses berfikir ini dan itu sebelum memulai proses karya, adapun karya adalah batang tubuh eksisitensi yang sebenarnya”. Silahkan lihat dan jelajahi karya para seniman, maka kita atau tuan-tuan dan pembaca budiman akan melihat apakah pembuat karya itu seorang seniman sejati, Seandainya ditemui kedalaman nilai dalam karyanya maka itu berasal dari kehalusan rasa, kepekaan, dan kejeniusannya, mudah-mudahan itulah makna seni yang sebenarnya dan merekalah seniman itu. Akal, halus dan peka ini (seni) menjadi modal bagi seniman itu dimanapun ia berada, mutlaklah demikian bila kita merujuk makna kata seni yang berasal dari bahasa Melayu. Hal-hal lain yang di luar itu, mungkin saja, boleh jadi, karena kita ini bergerak, dan terus menerus berubah.

Banyak orang yang berakal setuju bahwa “jangan sekali-kali mengaku seniman”, karena bila itu dilakukan, terkesan tinggi hati dan cendrung memuji diri sendiri, biar sajalah orang lain yang mengatakannya, namun bila ternyata ‘diri kita ini’ adalah seniman maka dengan istilah apa lagi kita menyebutnya?. Seandainya telah banyak menumpuk-numpuk jumlah seniman itu, tentu semakin banyak karya yang lahir, menjadi besarlah dunia seni dan berkesenian kita. Alih-alih cerita, bahwa gelar seniman itu tidak seharusnya dibangga-banggakan sebagaimana manusia selalu membangga-banggakan nasab keturunannya, akan tetapi seniman adalah nama sebutan untuk seseorang yang berkarya seni, terserah karyanya apa, mungkin kita bisa menganggap istilah seniman sebagai sebutan yang ringan tanpa beban. Ya sudahlah, relakan saja orang nak sebut kita sebagai seniman atau tukang? Tukang oceh atau yang sejenisnya, itulah tanda bahwa kita berada di alam kontemporer. (12.09.2011)

Jonkobet (nama saya dalam berkarya), nama sebenar saya Junaidi Syam, lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Fakultas Seni Rupa, Jurusan Disain Komunikasi Visual (lulus 2003).

Domisili sementara di Yogjakarta. Alamat; Asrama Putra Riau, Bintaran Tengah No. 02 Yogyakarta.