home > column > detail
16 Oktober 2015



DENNY JA, PHD, TOKOH KONTROVERSIAL ITU...

diposting oleh: admin

Oleh Gol A Gong

Saya menemukan halaman Denny JA World di FB. Saya like dan langsung meminta 3 buku karyanya; Atas Nama Cinta, Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi, dan Surga di Bumi. Tidak memakan waktu sebulan, Sabtu 4 Juli 2015, ketiga buku itu datang. Tentu saya senang.

Saya buka buku Surga di Bumi (SdB). Sebuah ‪eShortPoem‬, puisi mini Multimedia. Hanya 4 baris. Seperti halnya haiku Dan sonian, eShortPoem ini menarik hati. "SurgaMu di langit tak terjangkau/ Karenanya kami bangun surga di bumi" Dua baris puitik di awal Kata Pengantar buku ini sangat relevan dengan sikon sekarang. Sebagai eShortPoem, klaim ini wajar saja. Ciri-ciri orang kreatif memang menemukan (inventory) dan berpikir diluar kelaziman (out of the box).

Saya sendiri setiap hari membangun surga di rumah sendiri, yaitu surga versi saya dan istri untuk anak-anak kami. Apa itu? Memilih lebih banyak rak buku ketimbang sofa. Kemudian surga itu kami bangun lebih besar lagi untuk masyarakat. Kita sekarang mengenalnya sebagai Rumah Dunia. Tentu Anda memiliki surga versi sendiri bukan?

Saya kemudian membuka halaman berikutnya SdB. Bagi saya ini idealisme Denny JA tentang cinta, kebahagiaan, diskriminasi, dan Tuhan. Di era digital ini, semua dirumuskan sesingkatnya. Kalau para remaja kata pun disingkat-singkat, para penulis juga mulai menulis status seefektif mungkin. Kalau status panjang, siapa mau baca?

Lahirlah eShortPoem ala Denny JA. Setiap halaman diberi ilustrasi full colour memanjakan mata. Simak "Cinta Terbesar" dengan gambar burung terbang:
Matahari paling besar
Tidak, alam semesta lebih besar
Sejak kau datang
Cinta yang terbesar

Membuka halaman buku yang lain; Atas Nama Cinta (ANC) Dan Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi, saya merasakan idealisme tentang cinta membuncah pada diri Denny JA. Seperti halnya juga saya dan Anda. Tentu untuk mewujudkannya butuh ongkos bukan?

Anda pikir, ketika saya dan istri beserta para sahabat membangun surga bernama Rumah Dunia tidak menggunakan ongkos? Banyak para penulis yang "kocar-kacir" mencari dana untuk sekadar menerbitkan idealismenya dalam bentuk puisi ke beberapa ratus eksemplar buku puisi. Bagi Denny JA, itu tidak masalah. Bahkan dia sering membantu para penyair dalam bentuk uang cash untuk mewujudkan gagasannya. Itu positif, saya kira.

Lihat saja buku ANC, yang glamour. Nama-nama besar seperti Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Colzoum Bachri menulis epilognya. Tentu tidak gratis. Bahkan Denny menyelenggarakan lomba review puisi esai ANC dengan hadiah total Rp 100 juta. Saya tahu, khalayak Unum, bahkan penyair antusias menyambutnya. Jarang ada lomba resensi dengan hadiah ratusan juta.

Dan muncul buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" (KPG, Jamal D. Rahman II dkk). Buku ini kontroversial. Ini gara-gara ada nama Denny JA di dalamnya. Nama itu bagai api. Siapa yang dekat dengannya, terbakar. Kawan jadi lawan. Kebencian menyebar. Saya yang tidak mengenal Denny JA pun terbakar, hanya gara-gara menawarkan diri menjadi penyelenggara diskusi buku itu, mempertemukan 2 kubu yang berseteru. Saya cukup heran dengan usulan yang membabi buta, agar buku itu ditarik dari peredaran. Ketika saya baca buku itu, ah, biasa saja. Dunia sastra Indonesia tidak akan hancur hanya gara-gara ada nama Denny JA.

Prof. Ayu Sutarto, aktivis literasi, pendiri sanggar belajar Untuk Si Kecil di Jember memberi pendapat, "Saya telah membaca lebih dari 30 buku puisi esai dan pikiran Denny JA yg melatarbelakanginya. Saya berkesimpulan: Denny JA memang punya duit, tetapi upayanya utk memartabatkan puisi dengan caranya merupakan upaya yg serius. Berbagai gejala sosial-politik yg tumbuh ia kemas dalam puisi agar menarik untuk dibaca berbagai kalangan. Dengan demikian puisi menjadi sebuah produk peradaban yang dapat dibaca dan diterima oleh banyak orang, siapa pun mereka."

Bagi saya sebagai sesama penulis, saya suka dengan kiprah kreatif Denny JA. Beruntung bagi orang-orang yang bertetangga dekat dengannya. Pasti bisa memperoleh banyak dari pikirannya, bahkan duitnya untuk mewujudkan idealisme. Coba hitung dengan jari di Indonesia ini, siapa saja orang kaya yang mau mengongkosi kesenian setelah Setiawan Djodi? Tanyakan ke Djaduk, Godi Suwarna, Iman Soleh II, Butet Kertarajasa, Emha Ainun Najib, dan Iwan Fals. Untuk menyanyikan idealismenya saja, Iwan Fals harus berjualan kopi. Jadi, untuk apa membenci Denny JA yang senang menulis puisi? (*)..