home > column > detail
22 April 2014



EKSPERIMENTAL NANOQ

diposting oleh: admin

PENTAS DIKUJUR TUBUH, INSTAL TANPA KONEKSI
Catatan Pentas Parade Teater Indonesia-Sound Garden

Cok Sawitri

Hampir dipastikan penonton pasrah menerima pementasan Nanoq Da Kansas untuk memasuki situasi yang diperlukan yakni; situasi mau tak mau harus memilah dan memutuskan, bertanya dalam hati atau mengerutkan kening. Pentas Rek-lama-si(h) diawali oleh pidato Nanoq yang tentu berupaya keras tidak dimasukan dalam kaitan keutuhan pentas, tetapi dalam teater instalatif apapun yang terinstal dalam panggung; itu bagian pementasan. Nanoq bercerita berusaha untuk tidak naratif, berusaha untuk sedemikian hingga terganggu oleh lalu lalang para pemain yang usianya masih muda-muda, generasi kelima dalam Komunitas Bali Eksperimental Teater yang tahun ini berusia dua puluh, generasi yang ada dalam era-teknologi dan globalisasi; yang telah terbiasa menjadi penyampah; gerenasi yang rajin membeli dan rajin membuang; pabrik sampah itu adalah setiap orang, tidak siapa, kita semua.

Nanoq tidak akan membiarkan narasi pidatonya itu menjadi narasi menjelaskan kemana kisah akan bergulir; dan inilah bagian paling menarik dalam pentas ini, yakni bagaimana narasi dalam pentas itu dihindari namun kisah itu harus terjalin. Instal selanjutnya adalah dua anak remaja mengusung bendera merah putih diantara tali, baskom penuh cat putih, gelayutan kardus, karung, baju seragam hansip; mengucapkan kalimat yang sebenarnya kalimat kesukaan Nanoq; ‘dikujur tubuhku’…..kalimat ini juga ditemukan dalam pentas Nanoq dengan judul yang berbeda, begitu pula aksi menyiram tubuh, memandikan diri di panggung; sesuatu yang paling 'dikhaskan' oleh BET.

Namun kali ini digunakan untuk menjadi motif menggerakkan proses pembentukan simbol dari awalan sebuah lagu wajib dari radio kecil, pidato yang seharusnya aneh, kemudian manusia sebagai pabrik sampah dalam abad kemodernannya, dan merah putih yang berupaya tegak dalam upacara yang selalu kosong; kami bangsa udang…..(otak udang adalah perlambang kebodohan)…kemudian kami bangsa tempe…..dan kebiasaan mengenang kepada pahlawan, kekaguman kepada hero, terasa tepat diinstal dalam suara sumbang.

Penginstalan, meminjam istilah dalam ilmu tukang, dalam ilmu sosial berusaha ditandingkan dengan ‘doktrin’ dalam dunia tanaman; cangkokan. Dalam bahasa produk massal; instan! Nanoq berupaya memberikan gugahan mengenai penimbunan sumpah serapah; kebauran, jungkar jungkir, serta ketidakjelasan berbagai komunikasi; sesakral apapun dalam hubungan kemanusiaan, kini komunikasi adalah sebatas ucapan; gerakan mulut.

Selebihnya, pentas malam itu, 14 December 2013, pentas kedua dalam parade teater Indonesia di Sound Garden Denpasar Bali; menjelaskan mengenai jebakan kepada semua pemain mengira ‘pentas’ yang seolah tak peduli dialog, tak peduli gestur….dst; justru yang diperlukan Nanoq adalah para pemain yang memiliki kemampuan melewati rata-rata kebutuhan normal pementasan teater. Jika tak maka pentas instalatif ini tak akan menginstal tanpa koneksi istilah listriknya; korsleting; terutama kepada penonton; untuk berhak memilah, memilih dan mendebatkan gagasan itu; sebagaimana layaknya tujuan dari hampir semua pentas teater instalatif; penonton tahu dan berjarak, gagasan, ide, simbol…akan terpilah sepanjang durasi yang berupaya menginstalisasikan berbagai perenungan itu. Ruwet ataukah tidak tulisan ini, ini adalah tata krama dalam menonton instalasi, namun setidaknya warna teater di Bali sungguh masih penuh pukau, setidaknya sepanjang durasi 55 menit.

(*cok sawitri, agar tak putus semangat menulis soal teater, sebab menulis soal teater itu selalu semangatnya musiman)