home > column > detail
12 Mei 2015



Eksplorasi Dartin Yudha yang tiada pernah terhenti

diposting oleh: admin

oleh: Sulebar M. Soekarman

Barang siapa yang menyembah Allah dengan kemurnian rasa takut, maka ia akan tenggelam di lautan pemikiran.
Barang siapa yang menyembah-Nya dengan kemurnian rasa harapan, maka ia akan tersesat di padang yang memperdaya.
Barang siapa yang menyembah-Nya dengan rasa takut dan harap, maka ia akan lurus menempuh jalan dzikirnya.
CAMBUK HATI, Siyaathul Quluub, Dr ‘Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni
(Penerbit: Irsyad Baitus Salam – IBS, 2004, Bandung) hal.94 – 96:

( 1 )
Dartin Yudha telah saya kenal sekitar tigapuluh tahunan yang lalu sewaktu menjadi mahasiswa Jurusan Seni Lukis IKJ-LPKJ di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Etos kerjanya yang luar biasa, terutama kalau sedang membuat sketsa dan melukis, apakah itu bersama-sama dengan rekan seangkatannya ataukah sendirian, di tempat-tempat dimana pak Nashar, pak OE (Oesman Effendi), pak Zaini, para pembimbing workshop melukis menentukan tempat-tempat workshop itu dilaksanakan sesuai jadwal mingguan yang telah ditentukan, atau di studio lukis ataupun di kamar kos-nya. Mengenal, mengamati dan menghayati lingkungan di sekitar kita atau pun yang ada di dalam diri kita sendiri selalu menjadi penekanan para pembimbing pada waktu itu pada saat-saat kita semua mengerjakan sketsa maupun melukis. Pada saat-saat pembahasan karya, dia selalu membawa setumpuk karya yang disebar atau dijejerkan satu persatu hampir memenuhi lantai ruangan studio ataupun ruangan kos-nya (saya mengomentari: wah, jangan-jangan tumpukan kertas karya-karyamu ini sudah kamu jadikan ‘kasur’ tempat tidurmu ya!), argumentasi-nya yang keras, nyerocos tiada henti diselingi tawanya yang khas itu selalu kita ingat sebagai salah satu cirinya. Pada saat banyak orang, kalau dia tidak berkenan, dia memilih untuk diam menjadi pendengar yang baik. Tetapi kalau sudah menyinggung tentang sikap dan keyakinan, susah untuk menghentikan ‘kicau’-annya. Sepertinya ada satu kekuatan di dalam dirinya yang harus dibuktikan bahwa tindakan melukis itu sudah menjadi pilihan dan akan melekat pada dirinya di sepanjang masa.

Beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba ia nongol begitu saya di rumah saya di Yogyakarta, bercerita kalau selama ini ia tetap melukis dan ‘bekerja’ sebagai anggota tim sukses pilkada di Indramayu. Sebelum ke rumah saya, ia telah berkunjung ke Rumah Seni Cemeti dan beberapa rekan pelukis di Yogyakarta. Ia juga telah mengunjungi rekan-rekan seniman di Jakarta dan Bandung. Seperti seorang jagoan silat yang sedang ‘turun gunung’ setelah melatih ilmu silat andalannya, ia mencoba mengukur kembali sejauh mana jalan menuju senilukis sejati yang sudah ditempuhnya. Inti kesimpulan perjalanananya itu: ia semakin yakin. Menjadi seorang pelukis bagi Dartin Yudha sudah tidak bisa ditawar lagi. Begitu saya tantang, kapan anda ber pameran tunggal, ia dengan tawanya yang khas itu menjawab, tunggu tanggal mainnya! Wah, kayak seorang politikus saja! Bikin janji-janji, apa benar nanti akan dipenuhi?

( 2 )
Apakah yang disebut SENI LUKIS itu? Umumnya masyarakat mengatakan bahwa karya seni lukis adalah ekspresi visual, ungkapan kasad mata dari suatu ide, gagasan dan pengalaman yang diciptakan oleh seorang pelukis dengan keahlian tertentu yang spesifik. Apa yang kita sebut sebagai “seni” (art) dalam pengertian yang umum tidak berbeda dengan “kria”(craft), di dalam persoalan bahan atau teknik, tetapi akan berbeda secara radikal dalam tujuan atau maksud penciptaannya. Seperti halnya pada setiap karya kria, sesuatu yang disebut “seni murni” (fine art) adalah pemanfaatan dari bahan atau materi seperti besi, batu, kayu, bambu, tanah liat, pigmen warna, kain, kertas dsb., atau (dengan suatu perluasan konsep tentang “bahan” iu sendiri) bunyi, cahaya, kata-kata, gerak, atau bahan lain, untuk kepentingan mengkonstruksikan suatu obyek yang diinginkan, yaitu suatu karya seni, sebuah benda buah hasil kecerdasan manusia. suatu karya yang dibuat untuk tujuan terakhir menuju keberhasilan efek kualitatif tertentu, yang memiliki nilai ekspresif.

Apa yang ingin diekspresikan oleh seni yang selama ini dicari? Pada dasarnya setiap karya seni mengungkapkan, kurang lebih kemurnian, kurang lebih kehalusan, bukannya perasaan dan emosi yang dimiliki si seniman, tetapi perasaan dan emosi si seniman yang diketahui; kesan dalam-nya terhadap perasaan yang alami, gambaran-nya terhadap pengalaman-pengalaman penting, secara fisik, emosi dan yang luar biasa. Pengetahuan seperti itu tidak begitu saja dapat diekspresikan dalam suatu wacana yang umum. Alasan untuk sesuatu yang tak terlukiskan ini bukanlah karena gagasan-gagasan yang akan diekspresikan itu terlalu tinggi, terlalu spiritual, atau terlalu yang lain-lain lagi, tetapi bahwa wujud dari perasaan dan wujud dari ekspresi yang tidak saling bersambungan itu secara logika tidak selaras, sehingga setiap konsep yang pasti dari perasaan dan emosi tidak bisa diproyeksikan ke dalam wujud yang logis dalam bahasa harafiah. Pernyataan lisan, yang telah menjadi makna komunikasi sehari-hari yang normal dan dapat dipercaya diantara kita semua, hampir menjadi sia-sia untuk menyampaikan pengetahuan tentang karakter yang tepat dan esensi pengalaman yang didapat setiap manusia dari kehidupannya masing-masing. Penandaan-penandaan normal seperti “cinta”, “kasih-sayang” “kegembiraan”, “kesedihan”, “ketakutan”, “cita-cita’, dsb, menceritakan kepada kita sedikit sekali tentang pengalaman yang penting dibanding dengan kata-kata umum seperti “benda”, “menjadi atau meng-ada”, dan “tempat” menceritakan kepada kita tentang dunia persepsi kita yang lebih luas.

Acuan yang lebih tepat yang berkaitan dengan perasaan pada umumnya dibuat dengan menyebutkan keadaan atau suasana lingkungan yang memberikan sugesti, seperti “suasana hati suatu malam di musim hujan”, atau “suatu perasaan liburan bersama sang pacar”. Permasalahan logika yang terlibat di sini adalah tidak ada satu orang luarpun yang bisa memasuki; cukup kita tinggal sementara orang lain mengatakan “wujud yang signifikan”, dan yang lain “sesuatu yang ekspresif”, “nilai plastis” di dalam seni visual atau “makna sekunder” di dalam puisi, “disain kreatif” atau “penafsiran” atau apa yang anda inginkan, adalah suatu tenaga dari efek kualitatif tertentu untuk mengekspresikan wujud-wujud yang besar dan seluk beluk keruwetan langka dari kehidupan perasaan.
Sebagian dari ini nampaknya mampu menemukan ekspresi langsung dalam wujud yang dapat didengar dan dilihat. Albert Barnes memberikan sugesti bahwa orientasi mental kita di dalam ruang, yang memberikan kebebasan dan kepastian pada tenaga-tenaga persepsi kita dan merupakan poros yang tak disadari dari kehidupan mental kita, adalah apa yang dimunculkan secara berarti dan murni pada disain geometris murni. Jean D'Udine, di dalam buku kecil nya yang menjelaskan hubungan seni dengan gestur, mengingatkan pada ekspresi langsung perasaan-perasaan penting dari semua wujud berirama, apakah itu yang bersifat musikal ataupun visual. Ini adalah unsur-unsur seni ekspresif yang sederhana, seperti halnya nama-nama dan pernyataan harafiah adalah unsur-unsur bahasa ekspresif yang sederhana.

Begitu cepatnya konsepsi manusia menemukan suatu perlambang atau simbol yang cukup, tumbuh seperti dongeng Jack dengan kacang buncisnya, dan membesar menjangkau puncak ketinggian dari apa yang nampak sebagai suatu wujud ekspresi yang cukup. Semakin baik simbolisme, semakin lebih cepat tumbuh, untuk memelihara pikiran-pikiran yang harus dilayani dan ditumbuh kembangkan. Hal itu dengan jelas dipertunjukkan oleh bahasa. Seorang anak dengan sepuluh kata-kata sebagai penghargaannya memiliki pasti lebih dari sepuluh konsep pada perintah nya, sebab setiap kata akan mendorong dengan segera ke generalisasi, perpindahan makna, memberi sugesti pada gagasan terkait, membuka kemungkinan variasi dan keteduhan halus yang sulit dipisahkan yang diciptakan sewaktu digunakan. Hal yang sama terjadi pada ekspresi artistik. Sama halnya dengan bahasa yang berkembang secara halus, di dalam bentuk-bentuk sintaksis dan idiom seperti halnya kosa kata, sehingga kekuatan artikulasi melalui kepekaan bentuk tumbuh sesuai dengan kebutuhan pemahaman pemikiran.

Kebanyakan orang-orang berhubungan dengan kata “abstraksi” hanya sebagai kata-kata teknis yang memberikan pengertian proses penyederhanan yang menimbulkan sesedikit mungkin gambaran, bahkan kalau bisa tidak ada. Tetapi kata-kata seperti itu selalu dijadikan sebagai suatu tempat penyimpanan abstraksi yang dibuat sejak dulu kala, yang sekarang ini digunakan sebagai salah satu kata umum, terutama oleh para intelektual spesialis yang memanipulasikan kata tersebut tanpa perasaan sama sekali terpana oleh setiap pemahaman baru yang mereka sampaikan. Pemahaman terhadap makna-makna itu, sesungguhnya, tidak baru. Ketika hal itu baru, kata-kata ini tidaklah digunakan untuk konsep itu; omongan orang-orang besar digunakan untuk mengekspresikan pengertian awal yang mendalam secara ilmiah. Sebuah lagu, ketika pertama kali dipahami sebagai sebuah gagasan ilmiah di bandingkan sebagai suatu keberadaan yang menentukan, yang mengalir dalam suatu arus satu-dimensional dari keberadaan Tuhan Yang Maha Pencipta.. Ruang adalah kekacauan dan sebuah jurang ngarai yang dalam sekali, abstraksi dari sisa keberadaan di dalam lambang-lambang mistik, sebelum abstraksi ini tumbuh cukup umum dikenal sebagai suatu nama dan didefinisikan oleh semua dalil ilmu ukur geometris.

Bagaimana, dan oleh siapa, abstraksi itu mula-mula dilakukan? Abstraksi ini dilakukan oleh orang-orang berpikiran ‘dalam’ dan ‘besar’ dari setiap zaman, oleh para pengguna bahasa yang kuat atau simbolisme lain, mereka yang dapat memaksa kita untuk melihat lebih dari makna yang diterima umum dalam simbol-simbol yang telah akrab dikenali. Abstraksi bahasa, yang telah menguasi kebanyakan dari pemikiran normal kita, terbangun dari suatu fenomena fundamental yang kokoh, tersebar luas, tetapi kurang dikenali seperti istilah metaphor.

Tentu saja, semua perumusan konseptual melibatkan beberapa abstraksi; bahkan ekspresi biasa seperti dalam kalimat ini: “Hari kemarin, saya berada di Denpasar” melibatkan suatu pilihan beberapa aspek situasi yang berkaitan, dan kaitan ini sendiri sudah disebutkan. Jutaan orang lain telah berada di Denpasar kemarin hari juga; namun keberadaan saya berbeda dengan mereka dibedakan dari aktivitas, perasaan, maksud dan tujuan, secara praktis segalanya kecuali fakta yang sangat diabstraksi seperti yang telah saya sebutkan. Bahasa mengabstraksi kenyataan atas pilihan bermacam hal dan keadaan yang memunculkan nama-nama, seperti kata-kata “hari kemarin”, ”Denpasar” dan “berada” seperti halnya orang-orang dan obyek-obyek fisik individual. Tanpa kita sadari pengenalan atas konsep-konsep abstraksi itu telah diwadahi dalam kata-kata yang kita tidak kita sendiri tidak bisa mengatakannya: setiap pengalaman seharusnya memiliki suatu nama yang tepat yang memiliki makna yang tak terdefinisikan, sejenis skema memori subyektif.

SENI, seperti halnya bahasa, adalah abstraksi dari pengalaman aspek-aspek tertentu untuk kontemplasi kita. Tetapi abstraksi seperti itu bukanlah konsep-konsep yang mempunyai nama-nama. Pembicaraan yang tidak berkesinambungan dapat menentukan konsep-konsep yang lebih baik dan lebih tepat. Ekspresi artistik mengabstraksi aspek-aspek kehidupan perasaan yang tidak mepunyai nama-nama, yang harus diperkenalkan untuk merasakan dan mengangkat intuisi dari pada lebih terikat pada kata, catatan kesadaran yang diperhatikan.

Bentuk dan warna, nada - tegangan dan irama, kontras dan kelembutan, istirahat dan gerakan, kesemuanya adalah unsur-unsur yang menghasilkan wujud simbolis yang dapat menyampaikan gagasan-gagasan untuk kenyataan-kenyataan seperti yang tak dikenal itu. Ketika kita mengatakan bahwa suatu karya mempunyai suatu perasaan terbatas tentang sesuatu, kita tidak bermaksud bahwa karya itu memberikan tanda bagi perasaan itu, seperti sebuah tangisan memberikan tanda adanya gangguan emosional bagi yang menangis, maupun bahwa karya itu merangsang kita untuk merasakan dalam suatu cara tertentu. Apa yang kita maksud adalah bahwa karya itu menyajikan suatu suatu perasaan untuk perenungan kita.

Bagaimanapun, sebuah tiruan, meskipun secara visual mematuhi dengan apa yang dilihat, tidak pernah akan menjadi kopi atau salinan dalam pengertian umum. Selalu ada bias perubahan, apa yang dicatat adalah apa yang dilihat dan dirasa penting; jika ia sangat asyik dengan model nya, yang disederhanakan atau bahkan versi yang diproyeksikan dari model itu adalah persis seperti apa yang ia lihat, dan semuanya yang ia lihat. Seni primitif, yang tidak dikacaukan oleh pelbagai teori, cenderung untuk lebih murni disederhanakan dan lebih ekspresif dibanding karya-karya yang lebih canggih; namun para penulis paling awal dari setiap cabang seni dengan naif diyakinkan bahwa apa yang kita sebut penciptaan wujud adalah sebuah proses peniruan yang patuh dan sangat hati-hati.
Peniruan dari suatu obyek dengan kesengajaan melakukan suatu perbedaan dari ‘keseluruhan’ yang penting, perbedaan yang ditafsirkan- adalah apa yang kita sebut sebagai perlakuan (treatment) terhadap obyek, dan semua perlakuan melayani kebutuhan dari penciptaan karya abstraksi yang memuaskan pancaindera kita dan mengandung nilai artistik yang tinggi. Model untuk lukisan, patung, atau syair kepahlawanan yang memberi tema pada karya itu, tetapi bukan maknanya; perlakuan dari tema adalah artikulasi atau pengucapan suatu wujud yang didatangkan dari miliknya sendiri.

Semua teknik dikembangkan demi kepentingan untuk perlakuan itu; dan karena perlakuan hanyalah cara(mode) peniruan, dan seorang seniman yang aktif dan betul-betul diserap akan sangat tidak menyadari cara-cara yang dia kembangkan, hampir semua teknisi yang naif membenarkan bahwa alat yang mereka pergunakan selama ini adalah semata-mata berawal dari cara peniruan. Dengan demikian garis kehidupan teknik yang panjang itu adalah hasil peniruan, dan asal muasalnya adalah formalisasi. Teknik adalah kekuatan untuk memproduksi suatu versi model, konkrit sebagaimana keberadaannya yang nyata- suatu keberadaan yang dapat diamati, suatu perwujudan pelbagai benda-benda di dunia. Tujuan nya selalu menghasilkan suatu efek (effect) emosional yang memuaskan panca indera (sensuous), yang dibawa kedalam persepsi.

Didalam pencapaian efek inilah terletak fungsi abstraksi seni. Efek dicari karena mampu menyampaikan sesuatu yang ada di dalamnya ke perasaan manusia, saya pikir, itulah tujuan semua seni. Karena itulah teknik adalah ketrampilan untuk mendapatkan efek-efek, dan di setiap seni kita mengembangkan makna-makna tradisional dari “peniruan” untuk meningkatkan efek-efek tertentu yang seniman amati pada model itu dan menyampaikan ke mereka yang dapat merasakan melalui seni. Makna-makna tradisional seperti itulah yang kita sebut sebagai “konvensi”. Konvensi ini bukanlah “hukum” atau kaidah kaku, karena itu tidak ada alasan di dunia ini untuk mengikutinya kecuali sang seniman yang dapat menggunakan hal itu untuk kebutuhan mewujudkan tujuannya. Ketika kebutuhan atau kegunaannya sudah tidak diinginkan lagi, konvensi itu dibuang jauh. Karena itulah mengapa konvensi berubah.

Konvensi-konvensi peniruan yang jelas nyata adalah semacam perlengkapan seperti warna lokal, penggelapan untuk bayang-bayang, pepohonan yang meliuk serta lurus gemulainya rambut untuk menandai desirnya angin, dan sikap tidak stabil untuk memberikan sugesti gerak tubuh. Hal terakhir ini dapat digunakan untuk mematung, walaupun patung sangat sensitip terhadap praktek-praktek peniruan seperti halnya mengecat patung atau bahkan pencampuran pelbagai material yang berbeda untuk efek-efek realistis.

Hampir setiap teknik yang terdahulu merasakan yang pertama kali sebagai penemuan peniruan yang lebih baik, dan baru kemudian dikenali sebagai suatu bentuk baru, suatu konvensi stilistis. Dan semakin banyak gaya presentasi yang dikondisikan oleh konsepsi-konsepsi para seniman, dengan efek-efek yang mereka inginkan lebih dari kandungan ilmiah dari setiap gaya, maka semakin siap gaya itu dapat diterima sebagai suatu “kebenaran” dari sebuah proses imajinasi.

Jenis perlakuan ekstrim yang dapat dirancang ini lebih tepat disebut sebagai transformasi (transformation) dari pada sebagai peniruan, perlakuan yang melakukan perubahan pada suatu penampilan yang diinginkan tanpa representasi nyata tentangnya, dengan menghasilkan suatu kesan perasaan yang setara bukannya semata-mata sesuatu yang harafiah, dalam kaitan sesuatu yang terbatas, material sah yang tidak bisa dengan naif mengkopi properti model yang diinginkan itu.

Untuk mengubah efek suatu bunyi tanpa peniruan nyata darinya; untuk menyampaikan suatu perasaan tentang gerakan dengan garis-garis dinamis, tanpa menggambarkan sikap atau peristiwa yang mengingatkannya; untuk menyampaikan suatu situasi dramatis dengan kesunyian-kesunyian yang tepat pada waktunya daripada dengan pernyataan yang mengasyikkan; perlakuan semacam itu membutuhkan suatu transformasi ide yang diperlengkapi oleh model (yang menjadi model bisa saja suatu benda, suatu peristiwa, atau suatu karakter), sebagai material plastis dimana karya itu dibuat. Untuk mendapatkan efek ruang melalui suatu medium bunyi, atau suatu perasaan dari sinar murni yang terang mempesonakan penuh kemegahan- melalui warna atau bentuk, tanpa memakai seberkas cahayapun- itulah yang saya maksud dengan proses transformasi penampilan model ke dalam struktur yang berhubungan dengan perasaan ataupun sejenisnya.

Sebagai contoh dapat ditemukan dalam semua bidang seni. Contoh diatas yang baru saya sebutkan – cara penyampaian efek cahaya melalui suatu medium yang tidak bisa secara langsung mengkopi cahaya – saya kutip dari Ching Hao, seorang teoritikus Cina abad kesepuluh: "Penguasaan tinta dapat mempertinggi atau menurunkan nada nya sesuka hati, untuk mengekspresikan kedalaman atau kedangkalan dari benda-benda (things), menciptakan apa yang nampak seperti suatu kilau alami, yang tidak diperoleh dari karya sapuan garis dan ingat bahwa terang dan gelap itu sendiri mengekspresikan kedalaman dan kedangkalan dari bednda-benda (things)” Dan sebelumnya, tentang “Harmoni”, ia mengatakan: “Harmoni, tanpa kontur yang dapat dilihat, memberikan sugesti akan wujud; mengabaikan tidak ada apa-apa, namun melepaskan diri dari kekasaran. Untuk menyampaikan wujud dengan alat bantu selain kontur atau garis batas, dalam kaitan dengan penggunaan tinta, adalah sebuah pencapaian efek halus yang saya sebut sebagai “transformasi” (transformation).

( 3 )
Dalam pameran tunggalnya kali ini perupa Dartin Yudha menampilkan karya-karya mutakhirnya dengan pelbagai macam teknik multi media yang hampir secara keseluruhan mengeksploitasi pengalaman batinnya dalam ‘bersetubuh’ dengan obyek atau subject-matter pelbagai jenis mata uang yang telah diakrabinya semenjak muda belia. Mata uang bukan saja sebagai kepanjangan tangannya untuk berkomunikasi dengan orang lain, masyarakat luas, tetapi juga dimaknainya sebagai ‘catatan harian’ untuk menyimak peristiwa, kenangan, petualangan ke masa lalu dan banyak hal lagi yang secara pribadi sama kuat dan nikmatnya seperti halnya ia memainkan warna, garis dan elemen-elemen estetis lainnya di atas permukaan kanvas atau kertas sebagai upaya menciptakan sebuah karya seni.

Misi penciptaan seni yang bermuara dari ‘dalam’ diri seorang seniman adalah bagaimana sang seniman itu memahami ‘kehidupan rasa’ nya yang paling esensial. Proses pemahaman ini tidaklah sederhana, umumnya membutuhkan suatu tindakan abstraksi. Tindakan penyederhanaan yang diikuti dengan perenungan dan sekaligus upaya pemaknaan dalam penalaran ataupun ‘penangkapan’ esensi secara subyektip. Tetapi semua pemahaman memerlukan abstraksi. Abstraksi yang dalam wacana harafiah terkadang memberikan pemahaman sia-sia untuk pokok gagasan ini, mereka mengaburkan dan memalsukan dari pada mengkomunikasikan gagasan kita tentang vitalitas dan perasaan dalam. Namun tidak ada pemahaman tanpa simbolisasi, dan tidak ada simbolisasi tanpa abstraksi. Segala sesuatu tentang kenyataan, yang akan diekspresikan dan disampaikan, harus diabstraksi dari kenyataan itu. Tidak ada alasan dalam upaya untuk menyampaikan kenyataan yang murni dan sederhana. Bahkan pengalaman itu sendiri tidak bisa melakukan hal itu.

Bagi Dartin Yudha, proses abstraksi yang dilakukan terhadap obyek-obyeknya penuh dengan pendalaman dan kecerdasan. Olah pikir dan olah rasanya dituangkan dalam suatu simfoni dengan pelbagai ragam lagu yang bergetar dari setiap karya yang tersaji Bentuk wujud pelbagai mata uang kertas yang segi empat ataupun mata uang logam yang lingkaran memancing impresinya dalam abstraksi geometris murni, suatu cerminan yang mungkin tidak disadari sebagai ungkapan irama kehidupan batinnya. Sementara penyederhanan/stilisasi bentuk-bentuk figur perempuan secara keseluruhan ataupun pelbagai wajah sebagai model telah sampai pada esensi raga dan garis yang memberikan perlambang kekuatan, kelembutan dan terkadang sensual. Perlakuan terhadap obyek-obyek itu telah mengembalikan dirinya untuk menciptakan seni ekspresif yang sederahana, sekaligus memaknai perlambang atau simbol pikiran, rasa dan inti kehidupan itu sendiri.

Produksi struktur ekspresif seperti itu yang menyajikan suatu perasaan untuk perenungan kita memerlukan lebih banyak konsepsi yang bersifat ke-‘benda’-an (tangible) dibanding gagasan yang masih tidak jelas, untuk memandu apa yang dimaksud si seniman itu. Tidak ada sesuatu yang begitu sulit untuk dipahami seperti konsepsi yang tidak memiliki simbol-simbol. Terasa berdenyut dan lenyap menghilang seperti bintang-bintang yang meredup, dan mengilhami dibanding sebagai ekspresi yang sudah pasti. Dengan demikian jangkar berlabuh yang biasanya untuk intuisi-intuisi seperti itu adalah suatu obyek di mana seniman melihat berbagai kemungkinan bagi wujud yang dapat dia kembangkan dan diciptakan dengan dorongan/gerakan hati meniru wujud-wujud alami yang mereka temukan bersifat ekspresif

Untuk mendapatkan efek ruang melalui suatu medium bunyi, atau suatu perasaan dari sinar murni yang terang mempesonakan penuh kemegahan- melalui warna atau bentuk, tanpa memakai seberkas cahayapun- itulah yang saya maksud dengan proses transformasi penampilan model ke dalam struktur yang berhubungan dengan perasaan ataupun sejenisnya. Karya-karya Dartin Yudha telah mengantar dirinya memasuki alam dimensi transformasi! Langkah berikutnya adalah menghayati laku hidup dalam arti proses perenungan tentang hakekat hidup itu sendiri serta perluasan wacana global yang akan memperkuat kesadaran dirinya sebagai seniman sejati Indonesia yang tiada berhenti untuk melakukan olah rasa, olah pikir/karsa dan tentu saja olah cipta.

Yogyakarta, 28 April 2014
*) Sulebar M. Soekarman -Pelukis Abstrak, sekarang tinggal menetap di Yogyakarta