home > column > detail
23 April 2015



Estetika Timur

diposting oleh: admin

Manifestasi Kualitas Ruang

Oleh:
Taufik Darwis dan Asep Holidin

Konsepsi ruang bagi orang Timur adalah ruang yang dipahami sebagai ruang fenomenologis, ruang yang didasarkan pada fenomena-fenomena tertentu. Ruang itu, sangat berpengaruh pada sikap mental para pekerja seninya dalam pertunjukan. Bagi orang Timur ruang dianggap sesuatu yang transformatif. Oleh karena itu, mengapa pertunjukan keseniannya lebih punya passion (hasrat, daya , energi). Mereka akan menggunakan seluruh aksi fisik, menciptakan pikiran sebagai manifestasi, dan selalu memberikan eksistensi rohani.

Konsepsi itu sangat berbeda dengan konsepsi ruang untuk orang-orang Barat yang mendasarkan ruang menjadi tempat yang fungsional, ruang sebagai instrumenasi tubuh, sehingga figur-figurnya selalu memiliki identitas tunggal. Potret karakter selalu menggambarkan profesinya, karena tubuh dieksplorasi hanya sebagai alat instrumental untuk mencapai kondisi yang paling sempurna. Estetika Barat selalu menggunakan logika Cartesian dengan hanya menggunakan satu perspektif pembacaan, perspektif inilah yang melahirkan flat karakter.

Teks pertunjukan Timur selalu menggunakan bentuk multi narasi. Teks tersebut jika di baca menggunakan estetika barat tentu akan menjadi sebuah teks yang non-sense, tapi jika dibaca dengan estetika Timur hal yang non-sense tersebut akan menjadi more-sense. Kelahiran teks bagi orang Timur bertujuan untuk memperkaya batin, itu sebabnya makna ruang estetika Timur berbeda dengan ruang estetika Barat. Ruang untuk estetika timur dibagi menjadi empat yaitu: ruang wadag, ruang halus, ruang magis, dan ruang kosmis. Perbedaan ruang tersebut dapat dilihat pada pertunjukan pertunjukan yang bersifat ritual

Ruang yang paling sempit adalah ruang wadag. Ruang untuk para rakyat jelata, goro-goro. Sifatnya lebih fisikal, kasar, jorok, cabul, eksplosif dsb. Ruang ini adalah ruang yang paling individual. Pada ruang inilah manusia melakukan apa yang dikehendaki oleh ketaksadarannya, tanpa menghiraukan segala peraturan yang ada.

Ruang berikutnya adalah ruang halus, ruang yang lebih besar dari ruang wadag, ruang ini adalah ruang untuk para raja, ksatria, punggawa, dan orang orang yang sedang mengaktualisasikan dirinya. Pada ruang ini pola gerak sudah mengalami stilisasi, gerakan yang sudah didasarkan pada adanya tenaga lebih besar yang mengatur, sehingga setiap laku diatur oleh pakem yang ketat.

Ruang yang ketiga adalah ruang magis, ruangnya para orang sakti, para guru, ruang tempat orang yang sudah menjalani ritualitas tertentu, sehingga di dalam ruang inilah segala nasehat dan petuah diungkapkan, ruang bagi orang-orang yang telah mengalami proses emanasi.

Ruang yang terakhir adalah ruang kosmis, ruang untuk tokoh-tokoh demonik, ruang tempatnya roh para nenek moyang, ruang asal usul, ruang untuk para siluman dan demit. Di ruang inilah kedua sisi yang berseberangan berada, antara pembangun dan penghancur, yang baik dan yang jahat, akan tetapi pada ruang ini juga tidak hanya hitam putih tetapi ada ruang abu abunya; ruang paradoks.

Selain itu, estetika Timur dalam perubahan ruangnya diikuti oleh perubahan jenis makanan yang dikonsumsi oleh para pelakunya, misalnya ketika di ruang wadag makannya adalah makanan yang biasa dikonsumsi setiap hari. Sedangkan di ruang halus lain lagi makannanya; makanan yang diatur secara ketat seperti yang berlaku pada makanan untuk para kaisar Cina yang mewajibkan mengkonsumsi dua puluh lima jenis makanan setiap hari. Pada fase berikutnya makanan untuk memasuki ruang magis adalah makan yang memiliki nilai magis tertentu seperti bubur merah bubur putih, rujak kelapa, kelapa muda, kopi pahit dan sebagainya. Makanan di ruang magis adalah makanan yang tak berbentuk lagi makanan seperti kemenyan dan barang yang fungsinya ke arah itu.

Dalam seni teater ruang fenomenologis ini nantinya akan membentuk ruang dan sikap mental, dan pola laku keaktoran. Keaktoran (karakter) tidak merupakan karakter yang flat akan tetapi karakter yang majemuk; geraknya seseorang dipahami melalui pembacaan terhadap realitas karakter dengan penubuhan yang berbeda. Karakter figur itu seperti kue lapis, maka figur akan menampakan sisi yang berbeda pada ruang dan situasi yang berbeda.

Kesadaran inilah yang harus diolah oleh para penggiat teater yang memanifestasikan estetika Timur, aktor harus mengidentifikasi di ruang manakah ia sedang berdiri untuk memanifestasikan ruang artistiknya. Apakah ia sedang berada di ruang wadag, halus, magis atau kosmis?

Eksplorasi pergantian karakter

Aktor harus menemukan satu benda simbolik, benda tersebut adalah benda kongkrit. Benda tersebut disimpan pada bagian tubuh aktor. Dengan kehadiran benda tersebut akan merubah struktur anatomi seorang aktor, dan aktor harus beradaptasi dengan benda baru yang ada di bagian tubuhnya. Sekaligus ada proses interaksi antara tubuh yang real dan tubuh yang simbolik. Proses interaksi ini merupakan migrasi fisik untuk melahirkan kita kembali.

Benda simbolik tersebut dapat dipahami juga sebagai the other; bayang-bayang halus dari kewadagan fisik. Usaha ini juga untuk membangkitkan magi yang dikuatkan oleh kekuatan internal aktor. Karena eksplorasi teater harus membangkitkan kembali hal yang paling fundamental dari teater. Fundamental teater akan didapat oleh aktor atau pegiat teater dengan cara berproses yang benar. Yang dimaksud berproses yang benar adalah proses yang didukung oleh disiplin ilmu.

Dengan berproses teater yang benar, teater akan menemukan kharismanya kembali. Dengan olah fisik teater akan menemukan kharisma visual. Kharisma disiplin ilmu akan meng-counter seni yang ada pada wilayah pemikiran.

Memahami struktur dramatik

Memahami struktur dramatik dari sebuah naskah drama dapat dilalui dengan cara membalikan struktur dramatik. Resolusi didahulukan kemudian berakhir pada eksposisi. Struktur dramatik tersebut dalam ekplorasi dapat dilakukan dengan menggunakan struktur dramatik yang linear. Dengan mencoba hal di atas, pelaku akan disadarkan pada permainan dengan tempo yang tidak benar. Dengan begitu, akan menambah pemahaman para pelakunya terhadap apa yang terjadi pada peristiwa tersebut, dan akan membina puncak-puncak ketegangan yang dibangun.

Eksplorasi yang lain dengan cara teknik cermin. Pelaku harus memainkan karakter lawan mainnya dengan segala perangkatnya; warna vokal kalau bisa, gestural, dan emosional. Dengan cara tersebut lawan main tersebut akan dapat menganalisa pencapaian pribadinya pada orang lain. Dengan kata lain, mereka bercermin pada benda hidup dihadapannya. Teknik cermin ini juga akan menciptakancross chek antara sesama pelaku. Proses ini menguntungkan untuk para pelaku untuk progres latihan.

Tahap yang lain adalah memahami kata sebagai mantra yang memiliki magi tertentu. Usaha ini akan menciptakan pelontaran kata-kata dari sebuah kalimat yang benar-benar dimaknai. Kata-kata atau kalimat yang benar-benar dimaknai oleh para pelaku teater akan memudahkan komunikasi, komunikasi inilah yang akan membentuk transformasi nilai dengan apresiatornya.

5 Juni 2009