home > column > detail
15 November 2013



Green Hypermarket, sebuah prespektif

diposting oleh: admin

“Green Hypermarket” adalah pengalaman saya dalam melihat praktik sederhana tetapi nyata di masyarakat Indonesia, yang kerap kali memanfaatkan dan menggunakan kembali kaleng atau kemasan bekas dari makanan dan minuman instant sebagai media tanam tanaman. Entah sadar atau tidak, masyarakat telah menyelamatkan ‘nilai komersial’ dari kemasan-kemasan yang terbuang tersebut sebagai elemen hijau di sekitar rumahnya.

Green Hypermarket mempunya dua tahapan dalam prosesnya:
Pertama. Proses yang saya alami sendiri sebagai bagian dari masyarakat yang peduli dengan lingkungan yaitu dengan menggunakan kemasan yang sudah terbuang tersebut menjadi media tanam dan menanam tumbuhan tumbuhan dari berbagai jenis. Kedua. Meminjam dari hasil yang telah masyarakat lakukan, sebagai wujud hubungan sosial dan perilaku yang sama yaitu sebagai penyelamat linkungan hidup dalam lingkup yang lebih kecil.Fotografi dalam proses ini menjadi alat untuk merekam atau mendokumentasikan sebuah proses olah kreatif dan inspiratif yang ada di masyarakat sekitar untuk menjadi pengetahuan sederhana tapi penting. Sebagai hasil akhirnya, Green Hypermarket menjadi salah satu dokumentasi fotografi yang besar tentang sebuah ‘pertemanan’ yang unik dan “intim” antara dunia instant/kemasan dengan alam/lingkungan hidup, sebagai tanda dan bukti bahwa keseimbangan alam akan sangat tergantung dari keputusan kita yang tinggal di bumi ini.Presentasi akhir dari proyek ini akan dicetak dengan 3 ukuran, diameter 100 cm berjumlah 30 pcs. Diameter 60 cm berjumlah 80 pcs dan diameter 40 cm berjumlah 40 pcs. Total jumlah serial ini adalah 150 pcs dengan format lingkaran sebagai simbol keseimbangan alam

Tahun 2011 konsep Green Hypermarket terpilih sebagai salah satu karya fotografi kontemporer dari Indonesia yang diundang untuk 7th Asian Pasific Triennale tahun 2012 di Australia. Karya-karya tersebut dipamerkan di Gallery of Modern Art & Queensland Art Gallery, Brisbane, Queensland, Australia pada bulan Desember 2012 sampai bulan April 2013.

EDWIN ROSENO
Membongkar ‘Hipermarket Hijau (Green Hypermarket)’

Oleh : Zoe De Luca*

Sebagai seorang fotografer di Yogyakarta, Indonesia. Edwin ‘Dolly’ Roseno sangat prihatin dengan konvergensi pedesaan, urban dan global dalam kehidupan sehari-hari. Pada proyek fotografi sebelumnya yang fokus pada interaksi antara orang, konteks dan tanda-tanda (secara harfiah) serta dokumen lingkungan lokal. Dalam seri “Green Hypermarket” 2011-2012 Roseno menyimpang dari pengamatan dan mengambil peran lebih aktif mengembangkan sebuah gambar relasional-proyek-gambar bank berskala besar. Kebutuhan dasar manusia -makan dan minum -¬ adalah titik awal; dari sana, lebih luas ide-ide yang berkaitan dengan ekologi dan pertumbuhan tanggung jawab lingkungan. Dalam Artis tersebut sendiri berkata :

Kebutuhan manusia yang paling mendasar di pyramid kebutuhan adalah untuk makan. Pada dasarnya...untuk bertahan hidup kita perlu makan dan minum ...pertumbuhan populasi yang cepat berarti permintaan yang untuk revolusi makanan yang berdampak pada degradasi tanah; pembangunan pertanian dan peternakan yang tidak memiliki prinsip pembangunan berkelanjutan. 1

Untuk ‘Hipermarket Hijau (Green Hypermarket)’ Roseno mengawinkan limbah konsumen dengan tanaman hidup, meminjam tanaman dari pembibit lokal dan tetangga serta menanamkannya kembali pada kaleng tua, botol, dan kontainer.
Proyek tersebut menghubungkan seniman dengan komunitas lokalnya, menghubungkan mereka dengan seni kontemporer. Pengunjung APT7 menemukan massa yang melingkar dari foto yang diambil di studio di Yogyakarta dan aluminium dicetak dan dipasang di Brisbane - disajikan dengan cekatan dalam kampanye iklan. Dalam setiap foto, Roseno menciptakan energi visual antara diproduksi dan alami.

...apa yang menarik saya untuk wadah adalah ikon global yang melekat pada mereka: sup Campbell, Absolut Vodka dan begitulah. Kemudian saya mencoba untuk menemukan kombinasi yang tepat. Sebagai contoh, saya selalu berpikir bahwa bunga aglonema sesuai dengan botol Absolut Vodka.2

Roseno menggambarkan proyek sebagai cara menemukan keindahan baru, tetapi pandangan kita secara naluriah digambarkan pada merek. Dalam budaya kontemporer sistem periklanan tanda-tanda visual mendominasi – hal tersebut dirancang. Roseno jelas mempertimbangkan kesesuaian proporsi, warna dan kepadatan, sementara beberapa kombinasinya memprovokasi perenungan yang lebih mendalam tentang asal dan sejarahnya dikawinkan dengan tanaman dan produk. Misalnya, gambar tanaman terikat dari kaleng coke, dengan slogan 125 tahun membuat teman baru mempunyai konotasi neo-liberal aneh dan seram.

Makanan kemasan adalah diantara globalisasi merupakan simbol-simbol paling nyaman. Sering dimiliki oleh multinatinational-multinasional besar, bahan makanan antar budaya dapat tumbuh dan dijual, dikirim untuk diproses, dikirim kembali lagi untuk dijual, sementara perusahaan dividen disebarluaskan kepada para pemegang saham di seluruh dunia. Beberapa merek di Green Hypermarket memiliki sejarah kolonial kompleks: Ayam dimulai dari Singapura (yang saat itu adalah bagian dari British Malaya) dan adalah salah satu merek yang paling dikenal di Asia hari ini. Merek Barat mendominasi keuntungan ekstra simbolis dari mata uang dalam konteks pameran regional tertentu seperti APT, sementara item seperti Serena telur gulung Longans Mili kurang akrab di luar Indonesia yang menawarkan wawasan ke dalam selera kuliner lokal.

Di luar referensi untuk kehidupan kontemporer global, dan jelas berhubungan pdengan kaleng-kaleng sup warhol dan Pop art. Roseno menggunakan merek dan kemasan berbicara kepada sejarah gerakan seni baru Indonesia, didirikan oleh seniman dari bandung dan Yogyakarta pada tahun 1970.3 Dalam tulisannya pada periode ini, Jim Supangkat, kurator terkemuka dan salah satu pendiri gerakan , mengingatkan:

Majalah-majalah, bahan-bahan cetakan, foto-foto, baliho-baliho, dan iklan-iklan muncul entah dari mana, merangsang sensasi visual dan mempengaruhi sensori orang-orang fakultas…..Di tengah-tengah kondisi ini, beberapa pelukis muda di Yogyakarta menjalani beberapa kejutan, menghadapi realitas visual seperti para remaja, seniman muda mengumpulan potongan sampul majalah, iklan gambar, t-shirt, foto, dan poster. Dan dalam situasi ini muncul ide untuk menggunakan koleksi ini untuk membuat hal-hal baru. 4

Dalam empat dekade mungkin telah terlalui kemudian, ‘Green Hypermarket’ menunjukkan bahwa subyek ini masih menarik untuk seniman muda di Yogyakarta. Seleksi sampah Roseno adalah bagian dari tren global dimana sisa-sisa hidup dan terbuang- budaya lalu dimunculkan kembali kedalam seni rupa kontemporer. Kurator Nicholas Chambers menunjukkan bahwa di masa krisis ekonomi dan meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan, improvisasi dan bentuk-bentuk contigent membuktikan kemahiran kendaraan dalam menangani kompleksitas, kecepatan dan kontradiksi kehidupan kontemporer.5 Disajikan secara massal, pada dinding kebun dengan 150 gambar dalam ’Green Hypermarket’ menampilkan sisa-sisa industri produksi pangan sebagai tontonan seni, menyarankkan hubungan metafora antara produksi dan siklus konsumsi, dan sirkuit politik dan ekonomi dari seni kontemporer. Pentingnya lagi, namun, proyek ini juga merupakan ide alami untuk mengatasi lingkungan pasca-konsumen.

*Zoe De Luca, Mantan Asisten Kuratorial, Pameran and Penelitian.
1. Pernyataan Seniman 2011 (diterjemahkan)
2. Edwin Roseno, email untuk penulis, September 2012
3. Gerakan seni rupa baru mendorong kerja sosial politik dan pameran-pameran dalam menanggapi liberal militeristik orde baru Presiden Soeharto dan pada umumnya disebut sebagai titik awal untuk seni kontemporer di Indonesia
4. Jim Supangkat, ‘Indonesia dalam wacana seni kontemporer‘ dalam melakukan Contemporaneity: seni kontemporer di Indonesia (Katalog Pameran), zona waktu 8, Hong Kong, 2010. hal.33.
5. Nicholas Chambers, “Abad ke-21 Resesi Seni’, diabad ke-21: Seni pada Dasawarsa pertama (Katalog Pameran), Galeri seni Queensland, Brisbane, 2012, hal 45.

Profil Seniman
Nama : Edwin Roseno Kurniawan
T.T.L : Banyuwangi, 29 November 1979
Email : eroseno@gmail.com
Website : www.edwinroseno.com

2001-2008
Bachelor of Fine Art, Department of Photography, Indonesia Institute of Art, Yogyakarta, Central Java, Indonesia
2013
Artjog13, Maritim Culture, Taman Budaya Yogyakarta, Indonesia
Faraway So Close, Semarang Contemporary Art Gallery, Semarang Indonesia
The Art 13 London, w/ 2902 Gallery, Singapore, at Olympia Grand Hall, London, UK
2012
The 7Th Asia Pacific Triennial Of Contemporary Art, at Queensland Art Gallery and Gallery of Modern Art, Queensland Brisbane, Australia
Saturation - Selection of Indonesian Contemporary Photography Post-2000s, at Element Art Space, Singapore
Archive Reclaimed.doc, Photo Book Project “Melawan Lupa” w/ Ruang Mes56, at National Gallery of Indonesia, Jakarta, Indonesia
2009
Frozen City, at Kedai Kebun Forum,Yogyakarta, Central Java, Indonesia
2005
Beyond Coca-Cola, at Ruang Mes56, Yogyakarta, Central Java, Indonesia