home > column > detail
20 Maret 2015



IPPHOS Remastered

diposting oleh: admin

IPPHOS (Indonesia Press Photo Service Company) merupakan kantor berita foto "kiblik" yang paling penting di zaman Revolusi Indonesia. Merekalah pencipta foto-foto ikonik yang selama 70 tahun terakhir ini mengkonstruksikan bayangan kita tentang periode itu. Karya-karya mereka yang terkenal dan terus-menerus muncul di buku-buku sejarah termasuk foto Bung Karno membacakan teks proklamasi, foto Bung Tomo berpidato, atau Jenderal Sudirman yang ditandu.

Ironisnya, selama 70 tahun IPPHOS dan para pendirinya seperti dilupakan orang. Buku IPPHOS Remastered yang ditulis kurator fotografi, Yudhi Soerjoatmodjo, mengungkapkan bukan saja kisah perjuangan mereka selama revolusi tapi juga bagaimana sekelompok individu berbakat yang merupakan minoritas pangkat tiga --bekas pegawai Belanda yang berasal dari Minahasa dan Nasrani-- memilih berjuang membela Indonesia yang merdeka.

“…bagi pengamat yang jeli tentunya cerita IPPHOS bukan cuma sekadar tentang setumpuk arsip yang mendokumentasikan perang kemerdekaan… tersembunyi kisah lain yang tak kalah seru tentang berbagai strategi dan pilihan-pilihan yang diambil oleh kakak-beradik Mendur serta Umbas bersaudara dalam bertahan hidup sekaligus me-navigasi visi usaha dan karya mereka selama masa revolusi dan sesudahnya.

Dan itu, menurut penulis, menjadi kunci untuk menguak pandangan hidup para pendirinya yang menjadikan IPPHOS berbeda dari rekan-rekan sekaligus saingannya di Antara dan B.F.I. (Berita Film Indonesia).”
Revolusi yang telah selesai

“…pada tahun 1995 tim kurator GFJA (Galeri Foto Jurnalistik Antara) menemukan 253,014 negatif dalam berbagai ukuran dan bentuk (termasuk pelat kaca) dalam arsip IPPHOS. Termasuk di antaranya adalah 23,005 negatif dari rekaman gambar yang mereka buat sepanjang revolusi kemerdekaan dari pertengahan tahun 1945 hingga akhir 1949. Hanya 547 negatif atau 2.4% dari koleksi 1945-1950 yang ditemukan dalam kondisi “rusak”.

Dengan punahnya hampir semua rekaman gambar dari periode kemerdekaan RI --termasuk sketsa-sketsa wartawan-pelukis seperti Sudjana Kerton dan Srihadi yang dibakar tentara Republik saat mundur dari serangan Belanda pada 1948-- berarti arsip IPPHOS yang kini tercerai berai itu menjadi satu-satunya dokumen visual asli terlengkap yang masih kita miliki tentang peristiwa paling penting dan paling transformatif dalam sejarah bangsa.”

Juru Foto “Kiblik” bergerak

“Pada bulan Agustus dan September 1945, Republik Indonesia yang baru berdiri bukan cuma tak punya uang atau tentara. Mereka bahkan tidak memiliki sarana komunikasi yang memadai untuk menyebarluaskan berita kemerdekaan kecuali dengan menempelkan pamflet atau membawa bendera keliling Jakarta sembari naik mobil.

…bahwa kita sekarang bisa mengetahui tentang kejadian-kejadian itu tak bisa dilepaskan dari peran Alex Mendur dan rekan-rekan fotografer lainnya yang kemudian mendirikan Antara dan B.F.I. Hal itu yang tampaknya terlewatkan oleh para sejarawan: para juru kamera “kiblik” sudah lebih dahulu bergerak bahkan sebelum satu tembokpun ditulisi slogan oleh pemuda…Para juru foto “kiblik” mengambil inisiatif hanya dalam hitungan hari bahkan jam setelah Soekarno menyatakan bangsanya merdeka.”

“…pada pagi hari 29 September 1945 saat kakaknya sibuk memotret kedatangan kapal-kapal perang Inggris, Frans Mendur ambil bagian dalam perampasan percetakan De Unie di Molenvliet Oost 8 (kini Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat)…bersama Frans adalah Burhanuddin Mohammad Diah yang siap dengan pistol di pinggang dan Yap Kasar, dua rekannya dari Asia Raja yang baru saja keluar dari penjara Jepang.

Tengah hari, 1 Oktober 1945, edisi pertama Merdeka selesai dicetak dan didistribusikan…sampai 12 bulan ke depan ketika mereka akhirnya mendirikan IPPHOS bersama Umbas bersaudara, Alex dan Frans Mendur bergabung bersama Merdeka sebagai fotografer utama dari salah satu koran “kiblik” paling bergengsi pada zamannya.”

Menjadi Mandiri adalah Menjadi Merdeka

'…tanggal 2 Oktober 1946, kakak-beradik Mendur bersama sahabat lama mereka, Justus dan Frans “Nyong” Umbas, meresmikan berdirinya kantor berita foto IPPHOS --sebuah keputusan mencengangkan karena mereka membangun usaha baru di tengah-tengah krisis ekonomi terburuk sejak Republik setahun berdiri.

Yang paling mengagetkan, mereka bukan cuma berpihak pada RI tapi juga menjadikan kantor beritanya lembaga yang independen –tak terikat pada Kementrian sebagaimana Antara dan B.F.I… kemandirian IPPHOS malah memancing beberapa keraguan terhadap komitmen dan integritasnya sebagai pers pejuang. Mereka dituduh “komersial dan besar kepala serta “bermuka dua” karena melayani warga sipil dan militer Belanda.'

“…kita keliru kalau menggagap keunikan IPPHOS sekadar produk dari ketrampilan pendirinya. Bagaimana sekelompok kecil minoritas pangkat tiga –Kristen, Minahasa, mantan karyawan Belanda— sampai bisa berjuang untuk Republik, sementara ribuan orang lain di nusantara menyambut kembalinya penjajah, barangkali bukan cuma soal kecakapan atau strategi kerja.

Barangkali ia berakar pada sesuatu yang lebih dalam, yang bukan cuma berurusan dengan soal mendapatkan reportase eksklusif atau demi melindungi arsipnya dari rampasan musuh --tapi pada hal yang lebih hakiki: falsafah hidup.”

Dengan Dua Mata Terbuka

Ketika Alex Mendur pertama kali menapakkan kakinya di bumi Batavia, di usia 15 pada tahun 1922, ia beruntung memiliki bimbingan Anton Najoan, saudaranya yang berasal dari desa Tondegesan…seorang pribumi yang telah mengalami westernisasi. Sebagai mentor, Anton memperkenalkan Alex yang cuma lulusan Sekolah Rakjat pada fotografi, kerja profesional, dan para individu-individu yang bukan hanya akan menjadi pemimpin bangsa tapi juga rekan seperjuangannya.

Salah satunya adalah seorang pemuda Minahasa berusia 24 tahun di klub sepak bola pribumi, V.V.M (Vereneging Voetbalbond Minahasa), yang dimanajeri Anton. Justus Umbas bermain sebagai salah satu dari 5 penyerang utama dalam formasi piramida 2-3-5 yang mengalahkan B.V.C, klub Sepak Bola Batavia, dengan skor agregat 2-1 dan membawa V.V.M promosi ke kompetisi Kelas 1 stedenwedstrijden Nederlandsch-Indische Voebal Bond (Kompetesi Kota Liga Bola Hindia-Belanda).

“Selama 20 tahun kemudian –tahun-tahun di mana Alex remaja bertransformasi dari anak seorang petani Kawankoan menjadi Mendur dewasa yang kosmopolit dan fasih berbahasa dan bekerja dengan alat-alat Barat— ke manapun ia menjejak di sanalah ia menatap dua alam dan dua cara pandang yang tak selaras hidup sebelah-bersebelahan di Hindia-Belanda.

…dari dunia yang retak seperti Hindia-Belanda di awal abad ke-20, dan dari contoh hidup Anton Najoan, Alex dan Justus (dan “Nyong”) mulai membentuk falsafah hidup yang membuat mereka mampu mengarungi sekaligus memperjuangkan kemerdekaan dengan sikap yang khas: bahwa seseorang bisa bersikap, berpihak, dan berkepribadian tanpa harus menutup mata dan hati pada hal-hal yang baik dan manusiawi dari orang yang berseberangan dengannya.”

Rekaman Revolusi

“Tulisan ini dan foto-foto di halaman berikutnya yang dipilih dari arsip IPPHOS yang selama ini jarang atau belum pernah dipublikasikan menjadi upaya mengajak masyarakat untuk mulai melihat apa yang seharusnya kita bisa lihat seandainya kita bisa melepaskan kerangka perang kemerdekaan barang sekejap. Betul bahwa foto-foto ini dibuat pada zaman revolusi, tapi pada dasarnya ini bukan cuma dokumentasi tentang peristiwa sejarah itu.

Ini foto-foto tentang menjadi Indonesia dan manusia Indonesia. Bukan cuma pejuang Indonesia yang berikat kepala merah-putih, yang mengepalkan tinju ke langit, yang meneriakkan “ini dadaku, mana dadamu!”, dan yang maju merangsek melawan tank musuh hanya bersenjatakan bambu runcing. Tapi juga manusia Indonesia sebagaimana yang mungkin dibayangkan oleh para pendiri dan juru foto IPPHOS ketika mereka memotretnya dari sudut pandang sebuah kantor berita pro-Republik yang independen: manusia Indonesia yang cerdas, toleran, dan moderen yang berjuang di sisi kemerdekaan dan keadilan namun juga di sisi kemanusiaan, kebenaran, dan toleransi.”

Tatapan Revolusioner IPPHOS

Yang revolusioner dari IPPHOS bukan karena mereka mendokumentasikan perjuangan Republik Indonesia di tengah-tengah kecamuk perang kemerdekaan --hal yang selama ini didengang-dengungkan oleh para sejarawan, wartawan, dan politikus. IPPHOS menjadi revolusioner, pertama-tama karena pada detik kemerdekaan dikumandangkan di jalan Pegangsaan Timur nomor 46, Jakarta, mereka menghancurkan cara pandang yang telah menjadi praktek para fotografer Belanda dan Eropa sejak kamera pertama tiba di Hindia-Belanda hampir satu abad sebelumnya di tahun 1841.

Alex dan Frans Mendur menggunakan ketrampilan, pengetahuan, dan teknologi yang mereka pelajari dari penjajah Belanda dan Jepang di tahun-tahun 1920-an hingga awal 1940-an justru untuk merebut kembali apa yang menjadi hak setiap manusia: mencitrakan dan mengabadikan diri mereka sendiri sebagai insan merdeka. Sebuah pemandangan baru muncul berkat karya-karya mereka, yang memperlihatkan kesetaraan dan kebersamaan manusia. Untuk pertama kalinya, manusia Indonesia tak lagi digambarkan sebagaimana dalam potret “tempo doeloe” –sebagai bayang-bayang buram dan primitif yang selalu berjongkok di kaki tuan Belanda-nya. Foto-foto yang dibuat Mendur bersaudara dan “Nyong” Umbas penuh dengan penggambaran manusia biasa dan pemimpin mereka yang utuh, intim, dan bergelora.

Pilihan-Pilihan Revolusioner

Sementara ribuan orang lain di nusantara –bangsawan dan kawula, perwira dan seniman, orang Minahasa seperti mereka tapi juga orang Jawa, Sunda, dan Madura— menyambut kembali penjajah karena alasan ideologi, keamanan, keuangan, bahkan karir, para pendiri IPPHOS yang merupakan kelompok kecil minoritas Kristen, Minahasa, dan mantan karyawan Belanda justru memilih untuk berjuang di sisi sebuah republik yang di awal revolusi tak punya uang, tentara, apalagi sarana komunikasi.

Maka, hal kedua yang revolusioner dari IPPHOS adalah bagaimana mereka justru seringkali membuat pilihan-pilihan revolusioner di tengah situasi yang revolusioner. Alex Mendur si profesional mapan mencampakkan segala kenyamanan yang bisa ia capai sebagai pegawai Belanda demi membela sebuah republik kere. Frans Mendur si pelarian politik membangun ketrampilan melawan penjajah justru dengan bekerja untuk penjajah. Justus Umbas si akuntan serius yang diam-diam seorang aktivis yang ditakuti Belanda. Dan “Nyong” Umbas yang melawan Belanda dengan menjadikan Belanda kawannya.

Memimpin Revolusi

Alex dan Frans Mendur mengambil inisiatif hanya dalam hitungan hari bahkan jam setelah Soekarno menyatakan bangsanya merdeka. Mereka rebut lewat tipu daya, dan kalau perlu juga dengan kekerasan, segala yang mereka butuhkan untuk bekerja dan untuk revolusi --sebelum selembar koranpun terbit dan sebelum satupun sarana publik dikuasai pemuda.

Mereka turut melucuti Jepang, menerbitkan Merdeka, mendirikan KRIS, lantas membangun IPPHOS yang independen di tengah-tengah krisis ekonomi yang menerpa Republik yang baru setahun berdiri, tanpa menunggu adanya sumber dana yang pasti. Jelas bahwa Alex dan Frans telah menciptakan revolusinya sendiri dengan cara memadukan profesionalisme dan patriotisme dengan strategi kerja nan jitu.

Menjadi Independen Adalah Menjadi Revolusioner

IPPHOS kembali mengambil pilihan revolusioner ketika mereka memutuskan untuk mengelola dua kantor cabang di tahun ’46. Sikap ini bertolak belakang dengan Antara dan BFI yang turut hijrah bersama Republik ke Yogyakarta. Mereka juga memilih mandiri ketimbang menjadi pegawai Kementrian Penerangan RI --berdagang sayur atau melayani jasa pemotretan serdadu musuh demi bertahan hidup. Tak heran mereka dituduh “bermuka dua” oleh rekan sekaligus saingan seprofesinya.

Tapi karena keberanian pilihan itulah kita sekarang memiliki pandangan yang lebih lengkap dari apa yang selama ini digambarkan buku sejarah: bahwa perang tak hanya dimenangkan serdadu dan pemimpin tapi juga para diplomat dan rakyat jelata (hal. 100); dan bahwa, seperti dalam foto pemberontakan Madiun (hal. 98), revolusi tak hanya mengalahkan musuh tapi juga memakan anaknya sendiri.

(cuplikan “IPPHOS Remastered” karya Yudhi Soerjoatmodjo yang diterbitkan Galeri Foto Jurnalistik Antara, 2013)