home > column > detail
07 Oktober 2015



Kuliah Kritik Seni

diposting oleh: admin

Dalam kuliah Kritik Seni di kampus dulu, kami diminta untuk berlatih membuat kritik dengan menggunakan model kritik Feldman (deskripsi, analisisa formal, interpretasi dan evaluasi). Menurut saya model ini kurang lengkap karena mengabaikan aspek penting yakni perupanya. Model yang lain ada apa lagi, ya? Ada yang tahu? Nah, untuk iseng-iseng, saya menawarkan sebuah model yang lebih sederhana yaitu model investigasi detektif àla film Hollywood.

Coba perhatikan tuturan film-film detektif Hollywood saat terjadi sebuah kasus pembunuhan. Para detektif akan berusaha mencari: Motif dan Metoda. Dua aspek inilah yang penting untuk dicari untuk menentukan siapa pelakunya.

Bagaimana kondisi si korban? Apakah dia mati dicekik? Atau ditembak? Matinya di dalam ruangan atau di jalanan? Ditembaknya dari jarak seberapa jauh? Ditembak dari depan, samping atau belakang? Ditembak dengan pistol atau senapan? Kaliber berapa pelurunya dan sebagainya. Ini adalah Metoda pembunuhan yang dilakukan pelakunya dan barang bukti akan diambil berdasarkan investasi ini.

Setelah semua diperiksa, para detektif akan berusaha mencari Motif untuk menemukan tersangka dalam penyidikan lebih lanjut sanpai mereka akhirnya bisa menemukan terdakwa: dia yang paling berkepentingan dengan matinya korban. Karena itulah pembunuhan berantai adalah kasus yang paling sulit untuk dipecahkan karena masuk dalam kategori "murder without apparent motive" walaupun metodanya jelas.

Kembali ke soal seni. Dengan model ini kita bisa melihat karya yang kasat mata sebagai Metoda. O, ini karya dua dimensi dengan cat minyak. Atau karya video, karya seni patung dengan resin, kolase, instalasi dan sebagainya. O, ini karya figuratif, ada tuturannya, tuturannya seperti anu dan anu dan anu. O, ini karya abstrak, dsb. Penilaian ini bisa dibuat sedalam mungkin tapi intinya semua yang nampak di mata pemirsa adalah materi "penyidikan perkata". Ini adalah Metoda.

Yang perlu diselidiki selanjutnya adalah Motif sang Perupa. Untuk alasan apa ia berkarya dengan menggunakan metoda seperti itu? Dimana sang Perupa lahir dan dibesarkan? Ingatan apa yang menempel dengan kuat di dalam kepalanya sehingga akhirnya ekspresi tertentu lahir dalam setiap karya? Konteks macam apa yang melatarbelakangi penciptaan karya tersebut? Apakah ia baru bercerai? Baru pindah tempat? Apakah di lingkungannya terjadi huru-hara dan sebagainya? Apa "zeitgeist" yang berlaku pada saat itu? Ini semua adalah Motif.

Metoda dan Motif sang Perupa biasanya berkaitan erat dan bila kita bisa menemukan kaitan antara keduanya, ada kemungkinan kita bisa memahami alasan penciptaan sebuah karya tertentu.

Orang sering terpana di hadapan sebuah karya abstrak. Tak mengerti, apa yang dimaksud oleh sang Perupa, apa maknanya? Di hadapan sebuah karya abstrak, saya pikir Motif menjadi sangat penting, lebih penting daripada Metodanya. Bila kita hanya melihat Metodanya saja, kita bisa tersesat dan tak menemukan makna apa-apa. Kita harus mencari Motif sang Perupa, pertama kali adalah dengan mengenali biografi hidupnya dan sejarah kekaryaannya.

Dimana ia lahir? Seperti apa sejarah hidupnya? Apakah ia belajar seni rupa secara formal? Atau belajar sendiri? Tidak ada orang yang benar-benar belajar sendiri, sedikit atau banyak pasti ada yang memberi petunjuk. Siapa mentornya? Seperti apa kondisi di rumahnya? Apakah ada banyak karya seni yang ia lihat sejak kecil? Bagaimana alur kekaryaannya, dari titik mana ia belajar? Apakah dari seni figuratif atau langsung ke abstrak? Atau, apakah ia sudah mengenal abstraksi dan stilasi sejak awal karena belajar membuat batik, patung kerajinan tradisional dan sebagainya?

Ini semua adalah Motif dan saya kira ini penting untuk dianalisis karena mempelajari seni dengan hanya melihat karyanya saja (hanya Metoda) tanpa memerhatikan penciptanya adalah seperti memisahkan seorang anak dari ibunya. Bagaimana menurut Anda? Terima kasih.

Klinik Rupa Dokter Rudolfo