home > column > detail
22 September 2015



Kurator

diposting oleh: admin

Oleh Galam Zulkifli

Secara etimologis Istilah kurator (curator) berasal dari bahasa yunani, berati merawat dan menyembuhkan (cure) atau peduli (care). kemudian dalam The Consice Oxford Thesaurus (1995) mengacu pada keeper, custodian, conservation., guardian, caretaker, stewart yang dapat diartikan orang yang menangani pekerjaan yang berhubungan dengan memelihara, memperhatikan, menjaga, membenahi, sampai menyuguhkan kembali sesuatu artefak/ objek. Kegiatan kurasi pertama-tama dikenal di dunia barat (Eropa dan Amerika Utara) di museum-museum nonseni rupa seperti museum sejarah, museum biologi yang mengoleksi spesies-spesies binatang yang ada, perpustakaan, dan museum antroplogi.

Kurator Dalam Seni Rupa

Pada awal sejarahnya, Kurator bekerja untuk penataan koleksi museum. Entah itu koleksi barang bersejarah, atau artefak seni dan budaya. Seiring dengan perjalan waktu, pekerjaan kuratorial juga merambah ke ranah seni rupa.

Kurator dalam seni rupa ibarat manager atau supervisor yang bertugas mengamati dan menganalisis perkembangan seni rupa, mem-pertimbangkan dan men-seleksi, mengumpulkan, menata, bahkan menentukan barang apa saja yang boleh ditampilkan dalam museum atau pameran seni, membantu museum atau galeri untuk mengadakan pameran tetap, sistem pendokumentasian dan kebijakan pengelolaann koleksi, melakukan kerjasama, bimbingan, edukasi, dan apresiasi seni rupa melalui kegiatan-kegiatan galeri, jadi prisnsipnya dalam ruang lingkup seni rupa, Kurator bekerja ibarat seorang produser sekaligus sutradara di dunia film. Seniman bisa saja membuat karya yang menurutnya dia hebat. Tapi jika Kurator tidak menginginkan karya itu dalam pameran, maka karya itu tidak akan ditampilkan.

Adanya “diskriminasi” tentang penampilan karya seni, kemudian merangsang kemunculan Kurator independent. Tapi ternyata Kurator independent tidak memiliki jaringan yang luas dan terpaksa mengadopsi pola kerja Kurator mainstream. Hal ini memunculkan kekecewaan mendalam dan kemudian memunculkan istilah artist-curator, dimana sang seniman itu sendirilah yang berperan ganda sebagai Kurator.

Kurator asal Perancis Keren Detton memang mengakui kerja kuratorial di Eropa pun sampai sekarang sebenarnya berbeda-beda. Ketika praktik kuratorial berkembang begitu pesat, seni rupa tak bisa lagi hanya dipahami dari teori-teori tentang seni rupa an sich. Di Eropa kemudian berkembang apa yang disebut critical curatorial studies, yang mengadopsi kajian-kajian dalam filsafat seni dan juga cultural studies. Bahkan, belakangan, menurut Jim Supangkat, kerja kuratorial menjadi sangat interdisipliner dengan berkembangnya kajian-kajian feminisme, sosial-politik, dan kebudayaan. Kerja kurasi kemudian lebih berorientasi pada masalah-masalah multikulturalisme. “Zaman ini disebut sebagai curation on the move…,”

Kurator Seni Rupa Indonesia

Sementara mengenai kapan ada kurator di Indonesia beserta tikungan kuratorial dan ekspansi kuratornya, Agung Hujatnikajennong mengatakan bahwa hal itu sebenarnya adalah ranah yang sangat gelap. Berikutnya Agung mencoba menawarkan satu perspektif yang menurutnya juga masih harus diuji.

Dalam bukunya yang berjudul “Past Peripheral”, Patrick D. Flores mengatakan bahwa tahun 90-an adalah masa ketika pameran-pameran besar Internasional mulai melihat Indonesia dan banyak melibatkan seniman-seniman Indonesia. Seiring itu kemudian muncul orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai kurator pada masa ini. Salah satu pameran yang cukup penting untuk melihat munculnya kurator di Indonesia adalah pameran Asia Pacific Triennial (APT) yang melahirkan sosok Jim Supangkat pada tahun 1992. Namun sebelum Jim Supangkat, Patrick D. Flores juga menyebut nama Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo sebagai kurator serta menjelaskan kenapa ia memasukkan ke dua nama itu.

Jika melihat patokan Patrick D. Flores yang memposisikan Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo sebagai kurator pertama yang muncul di Indonesia pada tahun 1988, maka sejarah kekuratoran, menurut Agung, bisa dilihat dari sejarah ruang seni, dan ruang seni di Indonesia memiliki sejarah yang lebih panjang dari apa yang dituliskan oleh Patrick. Praktik pameran, kekuratoran sebagai exhibition making sudah ada sejak mulai ada pameran di Indonesia, mungkin sejak Sudjojono membuat pameran Persagi di Toko Buku Kolff pada tahun 1938, dan bisa dikategorikan ke dalam beberapa model.

Sebelum Kemerdekaan, Jeanne de Haaxman pernah membawa karya-karya Gauguin, Matisse, dan Van Gogh ke Indonesia untuk pertama kalinya dan dipamerkan di Bataviasche Kunstkring Jakarta pada tahun 1938. Kemudian pada tahun 50-an, seperti yang ditulis oleh Claire Holt dalam bukunya, disebutkan nama Dullah sebagai proto-kurator. Saat itu Indonesia tidak memiliki museum, namun koleksi yang dibangun oleh Soekarno dan ditempatkan dalam satu tempat serta ditata sedemikian rupa menunjukkan bahwa pengkoleksian sudah ada dan terlembaga. Saat itu Dullah bertindak sebagai penasihat untuk Soekarno dan juga sebagai konservator.

Menurut Kuss Indarto (httpa//news.indonesiakreatif.net/:::news.indonesiakreatif.net ) Banyak perhelatan pameran seni rupa yang memakai bingkai kuratorial dan bersifat kompetitif nyaris selalu direaksi oleh publik seni rupa sendiri dengan pandangan minor yang berbau penolakan. Seolah hadirnya kurator dan bingkai kuratorial yang ditawarkan dengan serta-merta hendak menjadi “algojo” yang sewenang-wenang meminggirkan (kelompok) seniman tertentu dan memunculkan (kelompok) seniman tertentu lainnya berlandaskan kedekatan emosional, kelekatan sosial, jaring-jaring koncoisme dan sebagainya. Dugaan adanya praktik nepotisme hampir selalu menjadi titik dasar persoalan dalam praktik kerja kurator(ial).

Asumsi ini tentu cenderung cukup menyesatkan, meski tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan. Minimalnya upaya mediasi serta sosialisasi akan pentingnya kurator berikut bingkai kuratorial dalam tiap perhelatan seni rupa-lah yang menjadi kunci atas asumsi-asumsi miring tersebut. Selama ini pemahaman atas praktik kerja kuratorial seolah sekadar dipahami sebagai EO (event organizer) seni rupa yang berorientasi sempit seperti hanya mengarah ke upaya komersialisasi seni(man) semata, atau kerja-kerja parsial sebatas menyeleksi karya pameran, bahkan diasumsikan hanya sebatas menulis kata pengantar dalam katalogus pameran.
Padahal, praktik kerja yang selalu diupayakan dibangun oleh kurator adalah mencoba membuat disain pameran secara komprehensif. Dalam disain ini seorang kurator menentukan intellectual framework (kerangka kerja intelektual), yakni gagasan dan basis pemikiran yang menjadi titik berangkat untuk memproyeksikan pameran terhadap target yang akan dituju. Intellectual framework itu berasal dari dua kemungkinan.

Pertama, berangkat dari riset, survei atau pembacaan kurator tentang tema dan problem tertentu (sosial, politik, budaya dan sebagainya) yang kemudian diimajinasikan untuk diturunkan (derivasikan) dalam praktik kerja visual seniman. Dari sinilah kemudian kurator memiliki hak sepenuhnya untuk memilih karya seni atau seniman yang sesuai dengan intellectual framework. Dalam tahap ini sangat dimungkinkan kurator menyeleksi karya yang tidak sekadar indah dan bagus dengan parameter estetik saja, melainkan juga menempatkan karya yang menarik sebagai subyek untuk menyuarakan persoalan tertentu. Teks visual diberi konteks persoalan. Atau dalam istilah Direktur Apexart-Curatorial Program, New York, Steven Rand (2002), dikatakan bahwa: “Seseorang bisa menunjukkan seniman dan karya seninya, sedang kurator (mestinya) bisa menunjukkan karya seni dan konteksnya”. Dalam level ini, pemahaman kurator terhadap teori dan sejarah seni, karya yang artistik, berikut kemampuannya dalam displaying karya diasumsikan telah cukup paripurna.
Kemungkinan kedua, berasal dari artefak karya seni yang sudah ada atau tersedia dengan kecenderungan tertentu untuk kemudian dibaca ulang oleh kurator dengan beragam kemungkinan modus, sistem dan perspektif pembacaannya. Pada titik inilah kreativitas seorang kurator diuji untuk lebih jauh menggaungkan artefak karya seni tersebut. Upaya membongkar dan mensubversi sistem (pe)makna(an) yang telah menjadi mainstream atas karya tersebut sangat dimungkinkan terjadi. Misalnya eksposisi tubuh-tubuh dan potret diri perupa Nurkholis atau Agus Suwage dalam kanvas-kanvasnya, tidak lagi hanya bisa sebagai sebungkah praktik narsisisme, melainkan dapat juga dikerangkai secara konseptual sebagai subyek perlawanan terhadap dominasi praktik kuasa konsumsi. Belum lagi ihwal pemajangan karya yang dilakukan tidak di galeri melainkan di kafe, misalnya, dimungkinkan akan mampu menciptakan ruang diskursif yang lebih kompleks.

Dalam proses implementasi atas modus kuratorial seperti ini, kurator tidak secara arbitrer (sewenang-wenang) melakukan kerja kuratorialnya, tetapi tetap mengedepankan seniman sebagai pokok soal (subject matter) dan sumber utama gagasan. Dengan demikian pola kerja yang simbiosis mutualistik kurator-perupa menjadi agenda terdepan. Proses komunikasi yang intens dan setara menjadi lebih penting – seperti diungkapkan oleh kurator Whitney Museum, AS, Lawrence Rinder (2002) – ketimbang bekal teori yang dipahami oleh kurator dari buku yang tidak akan banyak berguna tanpa inisiatif untuk terus-menerus melihat karya seni dan peka melihat ruang-ruang baru yang spesifik.Di sinilah ada titik temu yang relevan dari pandangan kurator Judith Tannenbaum yang memberi penegasan bahwa tiap pameran perlu nyali dari sang kuratornya untuk menghadirkan garis kuratorial yang penuh nilai curiosity, contradiction, collaboration, and challenge (dalam tulisan “C is for Contemporary Art Curator”, Art Journal, 1994). Curiosity (rasa ingin tahu) mengandaikan kegelisahan kurator untuk mendalami lebih lanjut karya dan praktik kerja seniman; contradiction (kontradiksi) mengandaikan pentingnya membenturkan nilai kontras antara yang mainstream dan yang hidden (tersembunyi), yang beredar dalam praksis dan teori; collaboration (kolaborasi) mengandaikan kerja kuratorial merupakan praktik kerja yang disemangati oleh praktik kolaborasi yang egaliter; dan challenge (tantangan) yang mengandaikan pentingnya progres yang dinamis sebagai sebuah tantangan utama.

Macam Kurator Seni Rupa

1. Kurator Independent
Kurator independen adalah seseorang yang bekerja menyelenggarakan suatu pameran baik di dalam atau luar negeri. Kurator ini karya seni atau desain yang secara utuh ia yang menentukan tema tertentu. Dengan ini kurator mengetengahkan satu realitas dari berbagai realitas kesenian atau desain yang menurutnya menarik. Misalnya seorang kurator independen mengadakan sebuah pameran dengan tema “Alam” maka karya-karya yang boleh ikut dalam pameran tersebut adalah karya yang bertema alam.

Seorang kurator independen secara secara administratif tidak masuk ke dalam suatu lembaga formal-museum seni atau galeri seni. Ia menyelenggarakan suatu pameran karena diundang atau atas inisatif sendiri. Dana pameran pameran ia proleh dari satu atau sejumlah perusahaan atau institusi yang sanggup mendukungnya. Tidak sedikit semula kurator independen bekerja di sebuah musium atau galeri seni, kemudian melepaskan diri menjadi kurator independen untuk mendapatkan kebebasan dalam kuratornya.

2. Kurator Pendamping
Istilah co curator atau kurator pendamping juga muncul dalam wacana seni kontemporer. kurator pendamping bertugas mendampingi seorang kurator memasuki suatu wilayah yang belum dikenalnya secara baik untuk memilih beberapa karya dari wilayah itu untuk sebuah pameran besar bersama yang berjangkauan internasional. Misalnya pameran seni rupa Asia pasifik yang mengikutkan beberapa negara di Asia. Ini perlu adanya kurator pendamping dari setiap wilayah. Kurator pendamping inilah nantinya yang mengusulkan kepada kurator karya mana yang layak untuk di pamerkan.

3. Kurator Negara
Istilah ini dipakai dalam satu perhelatan seni yang terdiri dar beberapa negara. Misalnya ketika ada sebuah perheltan besar seni yang menampilkan karya-karya dari sejumlah negara, semisal, pameran seni rupa kontenporer negara-negara ASEAN. Biasanya dalam forum ini ada seorang kurator kepala yang mengkoordinir kurator dari masing-masing negara. Dan kurator wakil negara inilah yang memilih serta membuat ulasan untuk karya-karya yang dipilih dari negaranya.

4. Kurator Kepala
Kurator kepala adalah kurator dalam kegiatan pameran besar, yang tidak bisa dikoordinir sendiri. Kurator kepala merupakan pimpinan dari kurator bagian dan kurator wakil negara. Ia memimpin segala kegiatan dalam suatu kegiatan besar. Meskipun yang memilih karya adalah kurator pendamping dan kurator wakil negara dalam sebuah pameran besar. Namun yang mengambil keputusan tertinggi adalah kurator kepala.

5. Kurator Museum
Kurator museum adalah kurator yang bekerja di sebuah museum, baik itu museum sejarah, seni rupa dan sebagainya. Tugas kurator ini adalah menjaga dan memelihara karya yang ada di museum serta menyelenggarakan pameran-pameran di museum tersebut. Kurator museum sifatnya tidak bebas, ia terikat dengan aturan dari museum tersebut, ia juga harus menjaga nama baik museum. Karena kualitas karya-karya yang ada di museum ditentukan oleh kurator museum tersebut.

6. Kurator Galeri
Kurator Galeri adalah kurator yang bekerja di sebuah galeri seni rupa baik itu galeri nasional maupun galeri internasional. Kurator galeri sifatnya sama dengan kurator museum, tidak dapat bebas sendiri. Ia terikat dengan aturan yang ada di galeri tersebut. Tugas kurator galeri adalah menjaga dan memelihara karya yang ada di galeri, menyelenggarakan pameran-pameran dari luar di Galeri, mempublikasikan dan memasarkan karya yang dipamerkan di galeri. Tidak semua galeri memiliki kurator, hanya galeri-galeri tertentu yang memiliki kurator khusus seperti Galeri nasional dan internasional. Sedangkan galeri daerah jarang memiliki kurator, walaupun ada kurator-nya bekerja sebagai kurator independen.

7. Artist Kurator
Dimana sang seniman itu sendirilah yang berperan ganda sebagai Kurator.

Beberapa Kurator Indonesia :
Hendro Wiyanto, M. Agus Burhan, Sindhunata, M. Dwi Marianto, Tommy F Awuy, Jim Supangkat, Jean Couteau, Agung Hujatnikajennong, Sudjud Dartanto, Asikin Hasan, Mella Jaarsma, Nindityo Adipurnomo, Rain Rosidi, Arif B Prasetyo, Citra Smara Dewi, Rizki A. Zaelani, Suwarno Wisetrotomo, Mike Susanto, Enin Supriyanto, Kuss Indarto, Taufik Rahzen, Djuli Djatiprambudi, Farah Pranitia Wardani, Alia Swastika, Wahyudin, Aminuddin MT Siregar, Nurdian Ichsan, Agus Darmawan T, Amir Sidharta, Asmudjo Jono Irianto

Tulisan ini di kutip dari sumber :
httpsa//5enibudaya.wordpress.com/…/05/kurasi-kurator-dan-kuratorian/
httpsa//jagatseni.wordpress.com/…/jagatseni.wordpress.c…/tag/kurasi/
httpa//galeri-nasional.or.id/…/galeri-nasiona…/halaman/911-curators
httpa//indonesiaartnews.or.id/artikeldetil.php…
httpa//news.indonesiakreatif.net/…/25-tahun-rumah-seni-cemeti-dis…/