home > column > detail
23 Juni 2015



N. Marewo – sebuah fenomena novelis Indonesia

diposting oleh: admin

Pada salah satu rak di TB Gramedia Yogyakarta saya memperhatikan beberapa karya sastra dipajang. Pandanganku tertuju novel bersampul unik yang ternyata digarap designer Indonesia yang cukup ternama Si Ong Harry Wahyu. Novel terbitan Pustaka Pelajar pada 2013 itu berjudul “Legian Kuta” dan penulisnya N. Marewo. Baik Si Ong maupun Legian Kuta keduanya kukenal baik, tapi siapa penulis ini? Buku setebal empat ratus lebih halaman itu membuatku penasaran. Tak hanya isi novel, tapi juga terhadap penulis yang namanya tak pernah kudengar. Semula saya berpikir karya terjemahan, sebab pilihan judul begitu untuk kategori karya sastra biasanya oleh penulis asing. Kubaca banyak karya, tapi kenapa luput membaca karya penulis ini? Saya bergaul dengan banyak komunitas seniman, tapi kenapa tak ada kawan-kawanku memperbincangkannya? Saat memutuskan membeli novel itu tentu saya berpikir kira-kira apa yang bisa kudapatkan dari membacanya, bahwa duit sekian yang kubelanjakan tak melayang percuma; dan waktuku yang tersita untuk membaca tak sia-sia. Saat membaca biodata penulis saya lebih terkejut lagi bahwa ternyata novelis kelahiran Bima yang sempat lama tinggal di Yogya dan Berlin dan senang mengembara itu sudah lama menulis dan begitu banyak berkarya baik novel, cerpen dan essai. Bahkan buah jemarinya telah diulas cendekiawan Eropa di jurnal internasional. Bagusnya mutu novel Legian Kuta membuatku ingin banyak tahu karya-karyanya yang lain. Tidak mudah memang mencarinya. Ada novelnya yang kudapat dari penerbit, juga pada rak-rak buku kawan-kawan Yogya. Kukaji dan ternyata, seperti yang diharapkan Dia tahu apa yang Dia lakukan. Gaya bertuturnya beda. Lompatan-lompatan pikiran, baik idiom maupun diksinya unik dan menarik; seperti membaca karya-karya terjemahan. Jujur, saya bangga bangsa ini punya penulis bertalenta siapapun itu senang atau tak senang, sebab tak mungkin berkutat menindih kualitas karena hanya akan memperlambat kemajuan bersama, membuat kita ketinggalan dan terbelakang. Dan semakin mendalami karya-karyanya terasa kian penasaran terhadap segala yang “hidden” dan apa-apa yang tak ia katakan. Sebab pria ini konon tak pernah terlihat di publik sastrawan dan hanya diceritakan segelintir teman-teman pelukis dari mulut ke mulut. Untuk itu saya berusaha mencari dan “menemuinya” untuk bergulat lebih lanjut dengan pemikirannya. Hasil perbincangan tertulis itu tertera di bawah ini:

Me: Saya sudah membaca banyak karya anda dan sangat tertarik. Bagaimana anda mengawalinya sehingga menjadi seperti sekarang?

N. M: Ibuku guru dan sering membawakan bacaan. Ayahku pelanggan banyak jenis bacaan dan senang menulis. Kedua paman (adik ibu) pun guru-guru yang memanjakan dengan menghadiahiku bacaan berbeda. Saat berlibur ke desa, saya punya tempat membaca di tepi telaga belakang rumah nenek. Pernah saya dibawakan buku bahasa asing dan itu tulisan Arnold Toynbee (padahal saat itu saya baru duduk di kelas satu SMP dan belum bisa membaca dalam bahasa Inggris). Ibu menyiapkan dana khusus dan membebaskanku menonton film-film bioskop. Saat SMU ke Yogya saya ikut masuk teater dan sering ke perpustakaan membaca buku yang tak ada hubungannya dengan pelajaran sekolah dan sempat menulis naskah drama. Saya pun sering bergaul dengan teman-teman asing dan banyak berdiskusi. Saat kuliah saya tetap senang membaca. Tak betah di kampus, saya menemui orangtua dan minta uang untuk ke luar negeri. Ibu memenuhi permintaanku, dan aku berkelana. Kadang saya menulis apa saja, terutama jenis cerpen. Kembali ke kampus saya menulis apa-apa yang kupikirkan selama perjalanan. Dan itulah cikal bakal novel “Jangan Menangis Bangsaku.” Saat pertama kali ke Berlin pada 1987 saya juga dapat teman yang senang membagi bacaan, mengenaliku loakan buku dan perpustakaan di sana hingga terlibat pergaulan dengan teman-teman seniman di Hochschule der Kuenste Berlin. Saya menulis apa saja dan banyak membaca karya-karya dianggap bagus. Saya memandang negara saya dari negeri orang lain sampai-sampai punya ambisi menulis bacaan yang baik bagi mereka. Mungkin novel saya berjudul “Pulang” yang diterbitkan Fajar Pustaka pada 2001 merupakan jawaban tertepat atas pertanyaan anda.

Me: Menurut anda, apa yang paling urgen dilakukan penulis sekarang?

N. M: Kukira memberi dampak yang baik terhadap masyarakat luas lewat membangun nation-character dan memotifasi pembaca untuk hal-hal yang dapat mengangkat dagu bangsa. Melihat kondisi sekarang mungkin bagusnya ramai-ramai memperbaiki diri terutama kualitas makanan dan minuman. Makanan dan minuman penting, tidak sepele sebab dari sana diperoleh energy untuk beraktivitas. Kalau itu beres, tentu yang lainnya juga beres. Tak punya arti berbicara kebersihan kalau kita pelihara kekotoran. Tak berguna bicara kebaikan kalau diri kita menjunjung kehinaaan. Kata-kata yang diketik penulis itu merembes, dan mesti dimulai dari enery yang baik.

Me: Di tengah hiruk pikuk kemelut bangsa, di mana kekuatan seni tulis / sastra Anda?

N. M: Saya tak memikirkan kekuatan tulisan sebab di situ sebab-akibat, tak bisa direkayasa. Saya hanya tanya diri sendiri mau apa saya menulis di samping terus belajar dan berpikir. Kalau sudah ada niat, tentu yang lain akan berjalan dengan sendirinya sesuai patron. Sekali lagi, energy tidak stagnan, namun bergerak karena ada yang menggerakkan, ke arah positif dan bisa juga negatif.

Me: Hidup adalah hadiah tak ternilai dari kosmik, bagaimana Anda menyikapinya?

N. M: Seperti pohon sawo dan batang kelapa, berbuah saja; tak menanyakan nantinya akan dimakan siapa. Kita bisa tengok, rumah yang ditempati dan tak ditempati berbeda. Justru yang cepat rusak dan roboh rumah yang tak ditempati. Peralatan dapur atau atau apapun, yang cepat aus dan karatan adalah yang tidak digunakan. Hidup juga begitu, dimaknai; sekecil apapun, bukan soal hasil. Tentu tidak dengan hanya menulis.

Me: Menulis anda anggap sebagai cara memberi makna pada kehidupan anda. Sejauh mana anda ingin dimaknai?

N.M: Seseorang dimaknai atau tidak, itu reward yang sifatnya alamiah. Terlalu banyak berekspektasi akhirnya juga akan banyak kecewa. Hidup kita kan maunya senang, dan untuk itu tak perlu punya ekspektasi, apa lagi muluk-muluk. Jalani saja seperti air mengalir dari gunung. Mungkin berguna buat lembah dan bagi pohon baik yang ditanam atau tidak, juga buat ikan-ikan beriak. Bila kita anggap ada kebaikan yang dilakukan untuk yang lain, bukankah baik buruk segala yang kita lakukan ternyata buat diri sendiri juga akhirnya.

Me: Kemanusiaan nampak jelas hadir di kehidupan anda, bagaimana anda mentransformasikan dalam tulisan-tulisan anda?

N.M: Saya tidak mencermati soal itu, mungkin alamiah saja. Tapi yang jelas (atau yang dapat saya bayangkan) kelak tulisan-tulisan saya akan ada yang membaca walau jumlahnya tidak banyak. Pendek kata manusia sama saja. Asalnya dari diri yang satu. Tak ada yang lahir dan menulis proposal ingin jadi bangsa mana atau ras apa. Semuanya makhluk, ciptaan. Itu yang saya fahami. Ambisi politik dan api nafsu terkadang menyimpang dari kemanusiaan, bukan manusianya.

Me: Bagaimana anda menghadapi dilema antara etika (pesan/amanat) dengan estetika penulisan?

N.M: Menarik. Saya sendiri terus terang tak memikirkan itu saat menulis. Kalau kita menulis untuk mendapatkan sanjungan, yang kita dapatkan hanya sanjungan – tak mendapatkan yang lainnya. Bila kita mendapatkan berkah; etika dan estetika menjadi dua hal yang tidak terpisah dan secara otomatis akan seiring sejalan sebab sama-sama bersemayam dalam jiwa penulis.

Me: Saya menangkap anda sebagai anak manusia yang masih memegang teguh pada filosofi dan kearifan adat istiadat dalam pandangan hidup anda, mengapa?

NM: Filosofi dan adat istiadat bukan soal geografis melainkan berlaku universal. Tak ada orang yang tak ingin senang. Saya pun demikian. Untuk itu saya kembali ke akar diri dan tak berpura-pura menjadi orang lain. That is my way!

Me: Apa yang menjembatani antara anda dan karya anda?
N.M: Mungkin keinginan berbagi yang terbersit dari rasa cinta. Dan boleh jadi bagian dari rasa syukur karena masih diberi kapasitas berbuat walau tak seberapa. Kegembiraan berbagi itulah membuatku sangat senang, merasa hidup dan eksistensi diri punya arti. Indah sekali, besar maknanya tak dapat diukur.

Me: Penulis hidup dari bakatnya sementara bakat. sesuatu yang melekat pada diri sendiri. Apakah tulisan dan penulis sepatutnya hidup untuk diri sendiri ataukah memikul tanggung jawab dan tugas kemaslahatan ummat?

NM: Penulis atau bukan, setiap orang perlu ambil bagian untuk apapun yang menyangkut kemaslahatan ummat. Bisa lewat apa saja. Kuli jalanan, nelayan dan pemulung pun telah mengambil bagiannya. Mengapa kita tidak?

Me: Karya anda seperti Filmbuehne am Steinplatz sangat menginspirasi. Bagaimana anda sampai punya pemahaman yang begitu dalam?

NM: Saat merantau di luar negeri semakin terang saya melihat melimpahnya sumber daya alam kita. Di lahan-lahan subur bisa menanam sepanjang tahun. Anehnya kita sering menganggap diri kere sehingga minder terhadap bangsa lain. Untuk itulah Filmbuehne am Steiplatz kugarap; berusaha mengenali sisi lain keseharian masyarakat Eropa sehingga dapat bercermin melihat diri. Dengan membaca novel itu saya berpikiran orang-orang kita merasa lebih bahagia karena berada di negeri ini, bersyukur hidup di negeri yang lembah, laut dan gunungnya terkandung limpahan kekayaan alam, sepanjang tahun disinari matahari. Saya tak berpikir menunjukkan diri apalagi unjuk kepintaran. Apa yang kubagi dalam tulisan hanya sedikit pengetahuan yang dikaruniakan dan menjunjung harkat orangtua yang telah mendidik dan membesarkanku.

Sejumput...tapi Cukup sudah.....

Ambar B Arini, Mei 2015