home > column > detail
09 April 2015



Pameran Sor Mejo Ono Ulone

diposting oleh: admin

Oleh : Wahyu Nugroho

Pembentukan komunitas perupa Pasuruan semata-mata atas kesadaran bersama, bahwa kemajuan seni rupa Pasuruan dapat diwujudkan melalui tanggung jawab dan kerja keras dari para pekerjan seninya sendiri. Komunitas ini bersifat independen; Tidak bernaung di bawah lembaga pemerintah atau swasta; Eksistensinya pun bukan karena instruksi serta ‘atas pentunjuk’ dari pejabat atau tokoh masyarakat; Bukan pula karena melaksanakan proyek dengan mengemban sejumlah titipan ‘pesan’.

Sebagaimana namanya, wadah ini merupakan media silarurahmi dan kerjasama bagi para pekerja seni rupa se-Pasuruan Raya. Tujuan utama dari komunitas ini adalah mengembangkan kesenian di Pasuruan Raya melalui kegiatan menggali, mengajak dan memotivasi insan-insan yang berminat di bidang seni. Yang kemudian dilanjutkan dengan mengadakan even-even seni sebagai media ekspresi dan untuk mengkomunikasikan karyanya ke masyarakat.

Komunitas perupa Pasuruan memulai kiprahnya sejak tahun 2008 telah banyak berbuat untuk meningkatkan kegairahan aktifitas seni rupa di Pasuruan Raya. Upaya-upaya yang dilakukan berupa pembinaan kepada para remaja dan generasi muda yang punya minat di dunia seni rupa; mengadakan even-even pameran; mengadakan berbagai sarasehan seni; maupun aktifitas lainnya. Upaya-upaya tersebut ternyata sedikit-banyak telah memberikan sumbangsih pada peningkatan kuantitas dan kualitas seni rupa di Pasuruan.

Dari segi peningkatan kuantitas dapat dicermati pada even-even pameran bersama dengan dukungan perupa yang semakin banyak. Mereka ini berasal dari dari berbagai sub kultur, latar belakang pendidikan, profesi dan usia yang cukup variatif. Berkembangnya jumlah perupa yang tergabung dalam wadah komunitas tentu akan memperkaya khasanah dunia seni rupa di dalamnya.

Selain bertambah secara kuantitas, secara kualitas pun juga mengalami peningkatan. Hal ini bisa dilihat dari semakin tingginya apresiasi yang diberikan oleh para pemerhati seni terhadap karya para perupa Pasuruan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Bisa jadi peningkatan kualitas ini salah satunya disebabkan oleh dialog dan gesekan yang berasal dari sub kultur dan latar belakang yang cukup variatif tersebut.

Pada 14-21 Februari 2015, Komunitas perupa Pasuruan akan menggelar pameran seni rupa untuk yang kesekian kalinya. Tema yang diusung kali ini adalah 'Sor Mejo Nok Ulane'. Adagium ini diambil dari sampiran parikan atau pantun yang sudah sangat populer di kalangan masyarakat Jawa Timur.
Parikan selengkapnya sebagai berikut :
Sor mejo nok ulane,
Jok gelo wis carane.

Maksud dari parikan ini adalah masing-masing daerah punya cara, tata laku, adat istiadat, atau budaya yang berbeda-beda. Tentunya perbedaan budaya ini akan membawa perbedaan pula terhadap pola pikir dan pola perilaku masyarakat pendukungnya. Adagium ini sangat erat kaitanya dengan falsafah Jawa “Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata", maksudnya dalam suatu masyarakat yang majemuk diperlukan sikap saling menghormati agar terjadi hubungan yang harmonis.

Mengapa tema 'SOR MEJO NOK ULANE' yang diusung dalam perhelatan kali ini ?
Pasuruan yang digolongkan dalam lingkungan Pantura; terdiri dari pemerintahan kota dengan 4 kecamatan dan pemerintahan kabupaten dengan 24 kecamatan, memiliki wilayah dan kultur yang cukup variatif, wilayah pesisir sampai pegunungan. Serta didominasi oleh dua macam kultur dari etnis mayoritas, Jawa dan Madura. Namun tidak bisa diabaikan juga pengaruh yang relatif kuat dari kultur etnis Arab, Cina, serta budaya Mataraman. Tentu saja tidak bisa diabaikan pengaruh budaya pop yang cukup digandrungi oleh anak muda saat ini. Perbedaan wilayah dan kultur berserta akulturasinya dari berbagai macam budaya serta dari beberapa etnis itu tentu akan membawa pengaruh tersendiri kepada anggota masyarakatnya, termasuk para perupanya.

Dari latar belakang seperti itulah tema 'SOR MEJO NOK ULANE' itu lahir pada pameran seni rupa GANDHENG-RENTENG #4. Pameran ini diikuti oleh para pekerja seni rupa dari kota dan kabupaten Pasuruan. Mulai dari perupa senior sampai perupa muda yang potensial dengan pencapaiannya masing-masing. Sengaja dalam even kali ini menampilkan perupa Pasuruan dengan jumlah peserta seoptimal mungkin, namun berhubung terbentur oleh sarana dan prasarana sehingga hanya bisa menampilkan karya-karya dari 76 orang perupa saja. Meskipun begitu, perhelatan ini setidaknya mampu mempresentasikan WAJAH SENI RUPA PASURUAN SAAT INI.

Harapan kami, semoga aktifitas yang kami gelar mendapat respons positif, sehingga keberadaan komunitas ini bermanfaat bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat yang ada di sekitar, serta membuat Pasuruan menjadi kantong seni rupa yang semakin diperhitungkan.
Terima kasih.

Pasuruan, 12 Desember 2014