home > column > detail
11 Agustus 2015



Pendidikan Karakter

diposting oleh: admin

Catatan Rudolf Puspa

Sepakbola ribut. Partai ribut. DPR ribut. Lalu seolah-olah siswapun harus belajar ribut dengan mengadakan kegiatan ekstra kurikuler yakni “tawuran”. Dalam hal ini aku ingat kembali teori using yang mengatakan bahwa seorang anak akan selalu meniru orang tuanya. Itulah pendidikan awal bagi anak sejak lahir bahkan kini sering dikatakan sejak masih dalam kandungan. Pendidikan awal tentu saja dari orang terdekat yakni kedua orang tuanya. Akan sangat beda pembicaraan ini bila melihat kenyataan bahwa betapa banyak anak lahir tidak diakui orang tuanya dan lalu dibuang atau dititipkan yayasan anak yatim.

Melalui catatan ini aku membatasi diri hanya mengulas pendidikan anak di sekolahan. Ada satu ungkapan dari guru yang perlu dikritisi yakni bahwa pendidikan karakter tidak hanya pihak sekolah yang bertanggung jawab tapi juga orang tua dan masyarakat. Aku kurang suka ungkapan ini karena ini hanya merupakan salah satu cara menghindari tanggung jawab. Kebetulan aku mengalami sekolah tingkat SD hingga SMA di zaman dimana sistem pendidikan masih terasa berfungsi sebagai pendidik karakter anak. Guru sangat dihargai dan dihormati orang tua dan juga tentu para siswa. Menjadi guru menjadi satu kebanggaan tersendiri zaman sebelum Suharto berkuasa. Banyak contoh untuk hal ini.

Masih teringat dengan jelas ketika sekolah rakyat (sekarang sekolah dasar), tiap pagi berdiri di pintu gerbang sekolah menanti guru datang. Ketika guru datang maka berebut membawakan sepedanya ke tempat penyimpanan sepeda, sebagian yang lain membawakan tas ke ruang guru. Bersalaman dengan guru tanpa lupa ucapkan selamat pagi. Bel berbunyi maka siswa berdiri rapi berbaris depan kelas dan ketua kelas menyiapkan para siswa dan menghormat guru lalu masuk kelas. Duduk rapi siap menerima pelajaran dari guru. Ajaran yang sangat bagus adalah menanamkan nilai melihat dan mendengar dengan seksama. Nilai disiplin diri untuk hormat kepada guru tanpa disadari akan mendidik anak memiliki rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Duduk rapi, membaca dengan jelas artikulasinya dan terdengar oleh semua murid , menulis dengan jarak mata ke kertas hingga 25 cm adalah pendidikan yang sangat bagus untuk memiliki nilai kedisplinan menjadi manusia yang sadar lingkungan.

Semua contoh diatas merupakan bukti bahwa lewat pendidikan di sekolah akan sangat besar pengaruhnya bagi pendidikan karakter siswa. Bukan berarti hormat pada orang tua lalu menjadi anak yang hanya menuruti apa yang dikatakan orang yang lebih tua. Guru juga memberi ruang murid bertanya. Bahkan guru yang pandai akan mengajarkan mata pelajaran yang merangsang murid untuk bertanya. Dari pertanyaan yang diajukan siswa maka guru akan mengetahui kemampuan siswa dalam menyerap mata pelajaran yang diberikan. Tentu masih banyak lagi cara lain untuk mengenal kemampuan anak didik.

Yang masih juga aku ingat adalah ajaran dari guru yang tidak membedakan mana murid dari orang tua kaya atau miskin. Semua mendapatkan porsi pendidikan yang sama. Justru ada pendidikan yang sangat bagus ketika anak orang kaya ulang tahun maka ia membawa makanan kesekolah untuk dibagikan ke seluruh teman sekelasnya. Rasa kebersamaan telah dilatih sejak dini dan itu akan meresap menjadi penguat dalam membentuk karakter anak. Arti berteman bukan melihat kedudukan sosialnya atau kekayaannya tapi sebagai sesama anak bangsa. Oleh karenanya sejak aku masih sekolah dulu yang namanya subsidi silang sudah terjadi. Ini dilakukan ketika ada acara untuk wisata ke candi atau tempat2 bersejarah lain maka yang mampu akan memberikan sejumlah dana yang mungkin lebih besar agar bisa sewa bis dan juga untuk makan siang bersama. Dalam hal ini guru harus mampu mengatur sehingga hal yang demikian ini akan melekat pada anak didik sehingga memiliki nilai kebersamaan yang kuat.

Sebagai anak tentu saja memiliki emosi yang sangat kuat. Maka tidak aneh bila ada yang muncul dengan lagak ingin menjadi anak yang perkasa dalam arti ditakuti secara fisik. Maka zaman itupun sudah ada muncul seperti geng kecil-kecilan di sekolah. Muncul juga pertikaian yang sering harus sampai adu jotos. Namun belum ada tawuran seperti sekarang. Masih dilakukan secara ksatria satu lawan satu. Kadang sekelas pun ikut rame rame ke alun-alun menyaksikan perkelahian satu lawan satu dengan tangan kosong. Kadang guru ada yang diam-diam mengikuti dan setelah selesai maka baru keduanya dibawa ke sekolah dan disanalah diselesaikan dengan dialog. Kadang memang selesai tapi juga ada yang masih mendendam. Namun guru dalam hal ini harus mampu melihatnya sehingga mampu mengawasi di hari-hari selanjutnya dan memberikan solusi. Misalnya sering keduanya diberi tugas yang harus dilakukan bersama.

Kerjasama antara guru dan orang tua memang terwujud dengan baik. Secara berkala guru datang kerumah siswanya dan berdialog dengan orang tua siswa. Ini satu kegiatan yang dilakukan diluar jam sekolah tentunya. Dengan cara seperti ini akan tecipta satu kesatuan atau kebersamaan dalam mendidik karakter anak. Guru dan orang tua saling tau apa yang dilakukan anak disekolah maupun dirumah. Akan lebih menyenangkan lagi jika dalam pertemuan tersebut si anak juga diajak ikut berbincang. Hal ini barangkali untuk zaman ini sangat sulit karena orang tua sibuk kerja hingga larut malam dan sekolah pun pulang sudah sore. Guru juga sibuk cari kegiatan tambahan untuk menambah penghasilan. Problem ekonomi kini tampaknya harus menjadi penghalang bagi guru dan orang tua untuk bersama sama membangun karakter anak.

Masih banyak contoh yang bisa menguatkan fakta bahwa pendidikan karakter di sekolah memang memegang peranan yang besar. Siswa harus mendapatkan keyakinan dan kepercayaan bahwa di sekolah mendapatkan ilmu dan juga pendidikan karakter yang nantinya akan bermanfaat ketika terjun ke masyarakat luas. Pendidikan karakter adalah suatu nilai yang abstrak namun implementasinya dapat dilihat secara nyata. Misalnya saja tentang penghormatan terhadap yang dituakan. Di zamanku sejak awal terdidik untuk tahu kegunaan barang. Misalnya kursi untuk duduk, meja makan untuk tempat sajian untuk makan. Nah bagi yang pernah mengalami pendidikan seperti ini sangat kentara akan selalu menjaga etiket dimanapun berada. Karena nilai-nilai etika telah melekat dan menjadi karakternya. Akan jarang ditemui misalnya duduk dengan angkat kaki ke kursi sementara orang yang lebih tua ada dihadapannya. Apalagi kursi model sofa maka akan sering enak saja duduk dengan kaki direntangkan kesofa atau sebelah kaki ditumpangkan ke lengan kursi; sementara yang lebih tua justru duduk dibawah. Taruh tas, jaket di kursi sehingga orang jadi bingung mau duduk dimana. Tak ada sedikitpun rasa risih karena memang tak memiliki nilai etika pergaulan yang saling menghormati. Kebebasan yang berarti semaunya sendiri justru kini yang menguat sejak hilangnya pendidikan budi pekerti di sekolah zaman orde baru. Kesan saya memang di sekolah kini tak ada lagi pendidikan nilai etika di sekolah.

Kesanku sejak orde baru hingga kini kita kehilangan tata nilai yang menyangkut karakter yang harusnya sudah diberikan sejak dini. Kini yang dikejar hanyalah menjadi pandai dalam hal ilmu pengetahuan dan soal karakter diabaikan. Akibatnya bangsa ini menjadi bangsa yang tak punya kepedulian terhadap lingkungannya. Yang dikejar adalah menyelamatkan kehidupan diri sendiri dan bukan kesejahteraan bangsa. Maka gejala menjadi orang rakus semakin subur dan menjadi warna karakter bangsa. Akibat terparah adalah maraknya jiwa korup yang merusak mental bangsa. Kegiatan yang tidak mendatangkan uang besar akan terpinggirkan. Paling nyata adalah bidang kesenian dan khusus teater adalah yang terparah. Bahkan pekerja teater sendiri juga akhirnya banyak meninggalkan.

Tidak heran jika di sekolahpun kegiatan seni jika ada ya asal ada saja. Banyak yang dihapus karena alasan tak ada dana. Yang pahit ada guru yag mengatakan bahwa seni tak ada gunanya. Jika pihak guru atau kepala sekolah tidak punya perhatian atau tidak tau nilai luhur dari berkesenian yakni pendidikan karakter maka tak heran jika tak ada perhatiannya. Jika pihak sekolah tidak punya perhatian ya akibatnya siswa juga tak begitu minat karena tak ada gunanya bagi penilaian di buku akhir tahun.

Kesimpulan yang aku dapatkan adalah sekolah belum punya kesadaran bahwa pendidikan karakter itu justru landasan yang paling penting. Maka harus ada revolusi untuk sistem pendidikan. Presiden harus memulai dan berani merubah dan sang menteri pendidikan dan kebudayaan lah yang harus mampu menterjemahkan sehingga ada perubahan mendasar pada sistem pendidikan. Salah satu contoh adalah soal UN yang katanya sudah tidak menjadi syarat kelulusan. Tapi kenapa masih dibuat suasananya luar biasa? Menteri hingga presiden melihat langsung ke sekolah. Penjagaan keamanan bahan UN masih ketat. Orang masih membocorkan soal UN dengan dijual mahal. Masih ada acara-acara untuk jelang UN. Masih ada perbedaan dengan ujian sekolah. Katanya UN akan dibuat biasa dan tidak menakutkan. Harus konsekuen kalau mau merubah sesuatu pak.

Satu hal yang memprihatinkan adalah hilangnya seni di sekolah. Maka seruan ku adalah kembalikan lagi pendidikan seni di sekolah seperti yang sudah dicanangkan bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara yakni “ Pendidikan seni adalah landasan bagi pendidikan menyeluruh”.

Salam pendidikan.

Jakarta 7 Mei 2015