home > column > detail
02 Agustus 2015



Pentingkah Dewan Kesenian Banten?

diposting oleh: admin

Oleh: Gol A Gong

Saya menulis ini sebagai kapasitas pribadi. Tadinya saya tidak tertarik mengurusi ini. Semua berawal ketika ada pameran foto di karesidenan Banten, yang mengatasnamakan satu komunitas saja. Kemudian dugaan Ali Fadilah, Kadisbudpar Banten yang mengatakan kepada Ibnu Megananda, bahwa sastrawan tidak memberikan kontribusi ke kas daerah dan "Skandal Tong Tong Fair". Kemudian kami membentuk Forum Seniman Banten (FSB) dimana Koordinatornya Firman Venayaksa. Kami sebagai seniman malu kepada rakyat, jika di antara kami secara profesi tidak memberikan kontribusi apa-apa pada Banten.

Maka kami merencakan dengan matang gerakan kebudayaan ini. Diskusi terbuka digelar di Rumah Dunia. Ali Fadilah sebagai Kadis datang, Asep Rachmatullah sebagai Ketua Dprd Banten oke, Rano Karno sebagai Gubernur Banten juga merespon cukup baik. Rano meminta DKB (Dewan Kesenian) dibentuk. Bahkan sekarang hampir 50 komunitas (bukan abal-abal) mendukung FSB.

Forum Seniman Banten tidak tertarik sembunyi-sembunyi mengangkat wacana DKB ini. Maka, step by step diwacanakan, diekspose ke publik, penting tidak DKB lewat diskusi. Jika tidak penting, tidak usah dipaksakan dibentuk. Jika penting, yuk datang halal bil halal di karnaval seni, Rumah Dunia, 1-5 Agustus 2015. Secara terbuka kita bangun dialektika kritis tanpa iri dengki. Tumpahkan segala unek-unek kita.

Saya sendiri tidak berminat jadi Ketua DKB. Tapi wacana ini harus dibangun secara terbuka. Rano Karno meminta agar dibentuk Dewan Seleksi untuk memilih Ketua DKB dengan kriteria yang disepakati bersama. Disbudpar menegaskan itu. Rohendi Pandeglang saksinya.

Secara pribadi, saya mengundang teman-teman ikut hadir di karnaval seni. Terutama Senin 3 Agustus 2015, pukul 15:30. Rano Karno yang secara pribadi menyumbang Rp 5 juta ke acara ini, akan hadir berdialog secara terbuka tentang DKB. Toto St Radik, Wowok Hesti Prabowo, dan Muhammad Rois Rinaldi juga sebagai pembicara. Ingat, diskusi ini tidak untuk membentuk apalagi memilih ketua DKB. Tapi justru mendiskusikanya dulu. Semua seniman (tentu yang datang nanti dan tidak senang sembunyi-sembunyi) diberi kesempatan mengemukakan gagasannya.

Mari kita benahi diri kita yang bergiat di kesenian sekarang. Cukup sudah kubu yang membelah kita seperti DKB vs FKB (Forum Kesenian Banten) dulu. Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi hanya untuk kepentingan satu kelompok.... (Catatan Harian Penulis)*.