home > column > detail
03 Maret 2014



Perlukah Seniman Belajar Meneliti?

diposting oleh: admin

Tia Pamungkas
Catatan Workshop 'Mengolah Data menjadi Karya' ArtJog

Hari ini, Jumat sore, 8 Februari, untuk kali pertamanya sejak pulang ke Yogyakarta saya ke Taman Budaya, menghadiri workshop 'mengolah data menjadi karya' dengan dua narasumber penting - seniman kawakan FX Harsono dan Titarubi, dimoderatori oleh Bambang Toko. Semuanya seniman keren dan beken (ini subyektif lho)

Yang menarik dari catatan saya, dan perlu dibagi disini adalah soal, "Perlukah seniman belajar meneliti?" Ada dua hal yang saya catat, pertama dari peserta dan kedua dari materi dan pemateri.

Pertama soal peserta. Peserta yang datang, cukup banyak, ruangan hampir 80-75 persen penuh karena peserta datang dan pergi tapi datang kembali selama workshop. Sebagian besar peserta menunjukkan antusias yang sangat besar di dalam kegiatan workshop ini. Dalam prasangka saya, semua ingin jadi 'seniman yang keren dan beken' maksudnya dengan karya yang mampu 'berbicara pada publik'. Saya menangkap itu sebagai pesan ART JOG 2014, sepertinya. Menarik!

Karena workshop itu menjadi sebuah 'pengantar' bagi para calon-calon seniman 'keren dan beken' yang mendorong minat mereka untuk mengeksplorasi segala potensi diluar 'ketrampilan atau skills fine arts' dengan memaksimalkan daya sensitivitas 'mereka' pada "lingkungan sosial, budaya, politik, ekonomi, geografi, alam - ekologis , gender" sehingga mampu mengasah kemampuan 'calon seniman keren dan beken' itu untuk berproses di dalam pengkaryaan dan menghasilkan 'karya' yang BERBICARA. Ini pembacaan saya sebagai 'peserta'. Saya kira hampir semua peserta punya harapan sama bahwa mereka ingin mengalami 'proses pengkaryaan' yang melibatkan kerja imajinatif yang secara kreatif berakar pada 'lingkungan' sehingga menghasilkan sebuah karya yang mampu 'berbicara'.

Kedua, soal materi dan pemateri. Dua nama besar dalam sejarah seni visual kontemporer Indonesia, FX Harsono (yang sudah lama terkenal dengan Gerakan Seni Rupa Baru-nya itu) dan Titarubi tak diragukan lagi karya-karya mereka memang selalu "berbicara" tentang "sesuatu". KARYA MEMILIKI NARASI, DAN NARASI ITU LAH YANG MEMBUAT SEBUAH KARYA MEMILIKI MAKNA DI LUAR SEKEDAR MAKNA SIMBOLIS (ini kalimat saya sendiri sebagai rangkuman "Hipotesis" pembacaan saya terhadap penjelasan Mas Harsono dan Tita tentang "pentingnya seniman belajar meneliti").

Ada persamaan diantara kedua seniman 'keren dan beken' ini, yakni baik mas Harsono maupun Titarubi sama-sama "selalu menggunakan RISET; penelitian" sebagai basis dari pengkaryaan mereka dan melahirkan sebuah 'NARRATED ARTS". Karya yang mampu "BERBICARA" tentang dirinya sendiri dan tentang apa yang menjadi proses kelahirannya dan tujuan dari eksistensi karya itu. TAK SEKEDAR pesan Artifisial! Jadi baik mas Harsono maupun Tita sama-sama dengan sukses memprovokasi peserta untuk BELAJAR dan MENELITI di dalam proses pengkaryaan mereka! Keduanya sama-sama memprovokasi bahwa kemampuan 'membaca dan menerjemahkan lingkungan' memberi kontribusi besar pada nilai estetis dari karya mereka. Mereka sukses memprovokasi pada level ini.

Lantas dimana letak perbedaan kedua 'seniman keren dan beken' ini, yakni pada 'metodologi' cara mendekati proses pengkaryaan di dalam penelitian mereka?

1. FX Harsono
Saya membaca proses pengkaryaan mas Harsono ditempuh dengan cara 'merekonstruksi sebuah sejarah, dan itu mengharuskannya melakukan pelacakan historis pada suatu konteks momentum tertentu yang memiliki 'arti khusus' di dalam pengetahuan publik. Arti khusus disini bisa dipahami sebagai suatu proses sejarah luar biasa yang terekam dalam keseharian yang biasa, bisa juga suatu proses sejarah yang cuma dianggap hal 'biasa' tetapi sesungguhnya mencerminkan suatu persoalan sosial, politik, ekonomi, ekologis, yang luar biasa. Dalam kajian mengenai 'visual arts as research' - yang dilakukan oleh Mas Harsono adalah suatu pendekatan elaborasi untuk menangkap kondisi 'hegemonik' yang berlangsung di dalam praktek sosial dan politik. Mas Harsono secara metodologis melakukan apa yang disebut sebagai "REKONSTRUKSI MEMORI" - sebuah penelitian historis berdasarkan metode ETNOGRAFI dan mengumpulkan kepingan-kepingan yang terpecah dari sebuah "puzzle" besar untuk mengisi yang "KOSONG" di dalam memori kita mengenai 'suatu momentum historis tertentu'. Ini yang dilakukan Mas Harsono, sebagaimana yang dipaparkannya lewat proses pengkaryaannya pada dua penelitian; merekonstruksi 'sejarah pembantaian etnis Tionghoa (Cina) di Jawa Timur' dan 'Sejarah Sinkretisme Islam di Cirebon'. Apa yang dilakukan Mas Harsono, sungguh suatu energi yang sangat besar menurut saya, melebihi energi seorang peneliti dan pengamat seperti saya. Pada dua penelitian tersebut, Mas Harsono mengumpulkan 'kepingan-kepingan' yang berserakan dan menjadikannya sebagai basis proses pengkaryaan, sehingga karyanya "berbicara" secara lantang. Sebuah 'advokasi' atas suatu momentum di dalam catatan sejarah kemanusiaan kita.

2. Titarubi
Saya membaca proses pengkaryaan Titarubi dijalani dengan keseriusan untuk melakukan 'eksplorasi imajinatif yang liar' tanpa mengabaikan pijakan ontologis (dasar atau pijakan filosofis yang melahirkan suatu disiplin ilmu) baik secara estetika seni maupun secara historis, sosiologis dan politis'. Karya-karya Tita selalu merepresentasikan 'kondisi BANALITAS' - ke NGEYEL-an yang mengguncang kesadaran psikologis kita dari sesuatu yang selama ini kita terima begitu saja sebagai 'normalitas'. Tita menggunakan pendekatan penelitian 'post strukturalis' di dalam proses pengkaryaannya. Ia misalnya membuat semacam 'PETA KOGNITIF' yang mengkaitkan suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya, yang seakan-akan 'tidak berhubungan' - menjadi suatu 'pertemuan yang penuh dengan kejutan-kejutan' sehingga menawarkan 'pembacaan alternatif pada suatu 'momentum historis' sebagai 'kesadaran lain' yang menyeruak diantara kesadaran keseharian kita yang dipenuhi oleh 'normalitas'.

Tita misalnya, di dalam penjelasan mengenai karya-'terbarunya', menjelaskan bagaimana ia membuat sebuah kaitan antara sejarah kolonialisme dan kuasa ideologi manipulatif yang menindas - dengan menghubungkan perbudakan di masa kolonial di Maluku dan misteri Alchemy di abad pertengahan. Keduanya nampak TAK BERHUBUNGAN, tetapi Tita mampu mengkaitkannya dengan sukses melalui suatu interpretasi atas 'DE-KONSTRUKSI MEMORI' atas pembacaan kita mengenai sejarah dan normalitas yang kita alami atas pembacaan sejarah maupun praktek keseharian kita. Yang dilakukan Tita Rubi bukan tak punya RESIKO. Keberanian Tita mengambil segala resiko atas 'pembacaan alternatif mengenai suatu sejarah dan konteks sosial-budaya' nya kira adalah kelebihan Tita karena ia mampu melahirkan suatu karya seni yang BANAL, yang selalu punya pembacaan 'TERBUKA' atas interpretasi yang beragam dan menyulut 'perdebatan'. Tita, dan karya-nya mengambil resiko besar, suatu karya seni yang SUBVERSIF, yang memiliki narasi politis di dalam ruang yang penuh sesak dengan kompetisi wacana mengenai apa yang 'paling benar' yang 'kau ketahui selama ini?' Tita dan karya-nya selalu hadir untuk "mengganggu kesadaran normal kita" yang adem ayem. Metode imajinasi liar pengkaryaan Tita bukan semata mengharuskannya untuk membaca buku-buku serius tapi juga bacaan 'kacang goreng' (dugaan saya) yang diremehkan orang, dan INTERPRETIF ETNOGRAFI, sebuah etnografi yang mensyaratkan 'KREATIVITAS' dan penjelajahan yang selalu TAK TERDUGA, IMPROMPTU, REAKSIONER, dan RESPONSIF. Itu karya Tita.

Kesimpulan saya mengikuti acara workshop 'mengolah data menjadi karya' yang menghadirkan seniman 'keren dan beken' FX Harsono dan Titarubi adalah bahwa keduanya sedang mewacanakan 'ketrampilan lain' yang seharusnya dimiliki oleh seniman. Kemampuan yang hanya melewati 'batasan-batasan estetis' - dan menjadikan pengalaman 'mental' subyektif dalam mendekati suatu 'topik' atau hal yang menarik, atau hal yang misterius, atau hal yang remeh temeh menjadi suatu manifestasi 'karya'. Karya yang mampu 'berbicara.

Pertanyaan saya sederhana, 'apakah semua seniman harus bisa belajar 'meneliti' seperti mereka?

Jawaban saya, tergantung sejauh mana ketrampilan 'meneliti' itu dibutuhkan sebagai basis pengKAYAAN dalam proses pengkaryaan mereka! Tak semua seniman harus bisa meneliti sih menurutku, tapi setidaknya, minimal punya KEMAMPUAN ANALITIS. Itu yang paling mendasar menurutku. Tanpa itu..seniman-seniman muda peserta workshop ini tak bisa merealisasikan mimpi mereka melahirkan 'KARYA YANG KEREN DAN BEKEN'*

Yogyakarta, 8 Februari 2014.