home > column > detail
28 Maret 2015



Re : Memoar dalam cerita Waton Suloyo

diposting oleh: admin

Oleh: Tri Wahyudi

“ Waton Suloyo ”: adalah catatan sebuah event yang di selenggarakan beberapa bulan yang lalu di Rumah Seni Lokananta yang menurut saya perlu kita pertimbangkan lagi, mengingat sejauh mana kualitas wacana dan rasionalisasi tema yang di buat, akhirnya juga menggiring saya untuk melihat dan membandingkan seberapa jauh wacana dan eksekusi karya yang selalu di buat oleh gerakan-gerakan seni rupa yang ada di solo setelah ataupun sebelum event ini dibuat.

“Waton Suloyo” adalah Sebuah Event seni kontemporer yang di gagas oleh Steak Daging Kacang Ijo Yogyakarta, Studio Joho dan terorganisir oleh komunitas Garis Cakrawala Yang merespon Konsep lama Waton Suloyo( Bonyong Munnie Ardhie) yang sempat ia gunakan untuk membuat sebuah wacana dalam karya yang ia tampilkan beberapa puluh tahun yang lalu ketika seorang Bonyong banyak bergumul dengan seorang sastrawan sekaligus Budayawan Oemar Kayam.

Oleh seorang Bonyong sendiri konsep ini muncul pada tahun 1974 yang mana ketika itu banyak seniman-seniman muda yang sangat dekat dengan Oemar Kayam, begitu juga dengan ia. Yang banyak mengeksekusi segala macam karya dengan konsep-konsep semangat “pembebasannya” dari seni rupa modern yang steril dan jelas pada batasnya. Dan seorang Oemar kayam sendiri juga selalu memperhatikan semua “Kenakalan” yang selalu di lakukan oleh seorang Bonyong Munnie Ardhie, sampai pada suatu ketika ia melontarkan sebuah dukungan sambil menepuk-nepuk punggung Bonyong dan berkata: “ Terusno Le Perjuanganmu!Waton Suloyo!”. Maka terurailah kata-kata Waton Suloyo yang menyiratkan sebuah maksud tujuan “Kritik” mengusik bahkan teguran dengan pengertian dalam budaya Jawa.

Asal kata “Waton” / waton suloyo adalah sebuah pengertian yang berarti sesuatu yang asal-asalan, asal di kerjakan, ataupun asal seenaknya sendiri, dan ini di terjemahkan lagi oleh seorang Bonyong Munnie Ardhie menjadi sebuah Konsep Manifestasi “ Pembebasan “ dalam dunia seni, sebuah pembebasan dari suatu kungkungan dan keterbatasan pada sesuatu yang di anggap pas, tepat, steril, dan jelas pada batasnya.

Dan agaknya berdasarkan atas konsep ide yang di eksekusi oleh seorang Bonyong Munnie Ardhie inilah, yang akhirnya di “pinjam” Group Steak Daging Kacang Ijo yang beranggotakan S.Teddy D, Iwan Widjono, Bob Sick,Yustoni Volunteero, bersama Studio Joho, Tugitu Unite X Parkinsen dan beberapa kawan yang lainnya seperti Halo Tarzan, Choiri, Syalabi Asya, Erwin Domdom, Uret Pari, dan yang lainnya yang untuk mengadopsinya kembali dalam sebuah event di Rumah Seni Lokananta dengan tema besar Waton Suloyo, yang akhirnya dari pemahamannya pun juga berkembang dari yang bukan sekedar “Asal-asalan” tapi lebih jauh memahami waton suloyo menjadi sebuah gerakan sekaligus statement pendobrakan dari buah kesenian yang “Steril” tanpa wacana perubahan, tanpa adanya benturan, yang nantinya akan justru terlepas dari realitas yang ada di masyarakat sekarang ini.

Dan akhirnya kembali ke dalam ke”Seni Rupa”an yang ada di Solo, apakah event ini sekaligus dapat menjadi sebuah refleksi bagi kota ini untuk memberikan alternatif berani tidak “steril” terhadap situasi nyaman yang ada, dengan catatan bahwa dengan kondisi ini akan merubah pola pikir kita yang stabil, Sudah cukup panjang kesejarahan dari kota ini yang dapat menjadi nilai tawar bagi semua perupa untuk dapat berfikir lebih luas terhadap medan sosialnya sendiri, walaupun di kota yang lainnya dapat selalu kita bandingkan, akan tetapi tidak berarti kita menjadi diri mereka, agaknya identitas diri lebih dapat akan kita bisa dapatkan dengan membesarkan dan membuat”Gelisah” situasi yang ada di medan lingkungan sosial yang ada di Solo sendiri... Bravo dan Majulah Seni Rupa..!!