home > column > detail
19 Agustus 2015



SISI SUNYI YANG MELEMBUTKAN HATI

diposting oleh: admin

Esai Apresiatif Atas Puisi SEPI Karya Novy Noorhayati Syahfida

Oleh Moh. Ghufron Cholid

Penyair selalu punya cara mengurai apa yang didengar atau dilngat menjadi lebih menarik untuk diperkenalkan dan dihayati khalayak.

Novy Noorhayati Syahfida
SEPI

kautanam sepi di teluk waktu
pada jantung yang lebam terbakar haru
kaulah sebab kujatuhkan segala
di samudra dadamu yang bidang
di bibir pantai tanpa gelombang
biar lara miliki muaranya yang tenang
dalam tubuh sunyi tak bernada
segalamu bukan apa-apa, selain rindu

Tangerang, 7 Agustus 2015 (E)

Novy dengan puisi berjudul SEPI telah mengambil peran untuk menjadikan sepi memiliki sisi yang mata umum tak terpikirkan untuk memperkenalkan dengan diksi-diksi yang dirias haru juga pertarungan yang kerap meminta sabar.

kautanam sepi di teluk waktu, Novy memulai pandangannya dengan latar suasana, kata tanam lebih bertenaga daripada menanam kendati menanam adalah kata kerja aktif, barangkali Novy terinspirasi dari surat al-fatihah yang lebih memilih menggunakan (الحمد لله) daripada (أحمدلله) barangkali yang dilakukan Novy adalah faktor kebetulan atau kata lainnya tak pernah terpikir alasannya menggunakan diksi kautanam daripada diksi kau menanam yang bisa dikaitkan dengan yang tertera pada dugaan saya di atas.

Novy seakan ingin lebih menghidupkan latar suasana dengan menghadirkan polemik yang menyulut haru dengan menghadirkan baris kedua puisinya yakni pada jantung yang lebam terbakar haru.

Secara sepintas jika kita membaca baris satu dan dua tanpa menyediakan jeda untuk merenung maka yang kita rasakan adanya benturan ide atau tak ada keterkaitan dan terkesan amburadul bangun ide yang telah dibuat. Berbeda halnya, setelah selesai membaca baris pertama lalu kita berhenti sejenak untuk merasakan efek yang timbul lalu meneruskan membaca baris kedua, maka kita mendapati adanya ide yang saling melengkapi.

Mengakrabi dua baris puisi Novy, paling tidak kita disuguhkan suatu keadaan yang lahir dari sepi yang ditanam di jantung yang lebam haru, tentu perih pedih dan goncangan jiwa bisa dirasakan kalau boleh diumpamakan serupa kekuatan yang dilahirkan oleh gempa bumi. Namun gempa tersebut bedanya terjadi dalam diri.

kaulah sebab kujatuhkan segala, barangkali aku lirik (penyair) telah menjadi orang yang sedang berperan menjadi seorang kekasih yang sedang ingin membahagiakan kekasihnya, tak peduli dengan segenap duka yang akan lahir di dalamnya. Baris ketiga berisi ketegasan sikap yang dibayar mahal dengan pengorbanan atau penyerahan secara total. Ia sudah tak lagi menghitung untung rugi yang akan didapat, yang ada dalam benaknya hanya memberikan yang terbaik.

Membaca puisi sepi secara berulang sampailah saya pada suatu tawaran untuk meletakkan baris-baris berikut di bait kedua, hal ini dikarenakan memiliki keterkaitan pembahasan.

kaulah sebab kujatuhkan segala
di samudra dadamu yang bidang
di bibir pantai tanpa gelombang
biar lara miliki muaranya yang tenang

Terdapat perjuangan dan pengorbanan yang begitu total untuk menjadikan kekasih berada dalam keadaan yang aman tanpa harus dihantui rasa takut. Bagian ini pula semacam mengandung ajaran bagaimana hakekat cinta itu diterapkan. Mencintai adalah memberikan rasa aman dan bahagia tanpa memberi rasa nyeri.

Sekali lagi empat baris ini saya jadikan bait kedua kepada penyairnya sekedar tawaran karena yang memegang hak penuh atas karya adalah penyairnya.

Dua baris berikut saya tawarkan jadi bait ketiga atau bait penutup puisi ini, mengingat keterkaitan ini dan bisa jadi pamungkas bait. Ada pun yang saya maksud adalah dalam tubuh sunyi tak bernada/segalamu bukan apa-apa, selain rindu//

Novy ingin menegaskan bahwa kekasih saat sunyi memiliki nama lain yakni rindu. Penyebutan yang tepat saya kira karena seseorang akan mengingat kekasihnya yang tak lagi ada di sisi dengan memberikan nama panggilan mesra yakni rindu.

Tiap manusia yang lahir ke bumi tentulah merasakan rindu, rindu pada seseorang yang istimewa saat tak lagi di sisi, baik karena sedang merantau atau karena telah pergi untuk selama-lamanya dan sepi selalu memiliki cara terbaik untuk mengasah sisi kelembutan manusia dengan memberikan ruang berekspresi agar lebih mesra. Rupanya Novy telah terasah sisi kelembutannya dengan memberikan nama panggilan mesra pada kekasihnya dengan sebutan rindu.

Dalam puisi ini Novy lebih memberikan energi sisi lembut dari sunyi daripada memunculkan rupa sunyi yang garang.

Junglorong, 8 Agustus 2015