home > column > detail
23 Februari 2014



Secangkir Kopi Yang Puitis

diposting oleh: admin

Ajeng Kusuma

Yang dilahirkan dari kerinduan adalah perjumpaan yang membahagiakan. Mungkin begitu tepatnya mengungkapkan rasa atas perjumpaan yang berlangsung dengan teman-teman pecinta sastra di Bogor petang tadi. Tidak banyak yang hadir, kami hanya ber-enam. Beberapa teman sedang sakit, beberapa lagi berhalangan karena sedang memiliki agenda lain. Tapi jumlah orang yang berjumpa bukanlah representasi dari rasa yang hadir saat perjumpaan. Dua orang yang berjumpa bukan berarti memiliki rasa yang lebih kecil dari sepuluh orang yang berjumpa. Bagi kami, perjumpaan petang tadi, cukuplah mendatangkan kebahagiaan dan meluruhkan kerinduan.

Petang tadi memang petang yang puitis. Hujan yang tumpah di sepanjang jalan menuju rumah kopi ranin tempat kami bertemu, senyum mengembang, tatapan yang dalam, jabatan tangan yang hangat dan percakapan yang menujah ke jiwa, adalah puisi yang sesungguhnya. Bahkah secangkir kopi dari tanah-tanah petani yang tersaji pun turut bertutur tentang perjalanannya lewat rasa yang puitis. Mungkin karena itu juga, sehingga tradisi membaca puisi yang kami lakukan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya tidak terlalu banyak kami lakukan. Hanya beberapa puisi saja, sebagai penutup perjumpaan.

Seorang teman, pemilik rumah kopi ranin mengaku tengah enggan membaca puisi karena perilaku Sitok sang penyair yang dikaguminya telah melukai hati. Kami pun mengerti, maka tiada permintaan berlebihan untuk mebacakan puisi. Kami lebih menikmati saat dia berkisah tentang kopi. Tidak hanya karena penguasaannya tentang kopi, tapi karena penggunaan diksi yang sangat indah saat ia bertutur, yang bagi kami, sesungguhnya ia sedang berpuisi melebihi seseorang membaca teks puisi.

Saya tertegun dan tersadarkan, tidakkah kita saat ini tengah kehilangan puisi dalam setiap kata-kata yang mengalir dari setiap ucapan…? Puisi yang tidak sekedar teks, tapi puisi yang mengalir dalam setiap percakapan dan tindakan. Puisi yang semestinya tidak sekedar melahirkan penyair terkenal, tapi puisi yang menumbuhkan jiwa, yang menjadi ruh bagi kehidupan.

Seperti halnya perempuan dengan rahim persemaian, biji kopi pun sesungguhnya adalah benih yang akan melangsungkan kehidupan. Begitu ia melanjutkan cerita perjalanannya ke kebun kopi dan bertemu dengan petani kopi di Takengon. Daerah penghasil kopi yang hingga kini, petaninya masih melafalkan mantra saat membantu proses penyerbukan. Dengan mantra menggunakan bahasa Aceh Gayo, sang petani meng-ijabkan serbuk sari kopi yang mereka sebut sebagai “siti kewe” (perempuan) untuk dinikahkan dengan angin. Mantra tersebut berbunyi (seperti yang juga pernah dituliskan oleh penyair Aceh; Fikar W. Eda pada Aceh Tribun);

Bismillah
Siti Kewe
kunikahen ko orom kuyu
wih kin walimu
tanoh kin saksimu
Lo kin saksi kalammu”

(Bismillah
Siti Kawa
Kunikahkan dikau dengan angin
Air walimu
Tanah saksimu
Matahari saksi kalam mu)

Mereka, petani, berpuisi tidak sekedar dalam kata-kata dan teks semata. Tapi mengejawantahkannya dalam kehidupan, karena begitulah cara mereka berbicara dengan alam, dengan semesta dan dengan Tuhan. Kita, masyarakat agraris secara kultural adalah masyarakat yang puitis. Masyarakat yang memiliki kekayaan sastra kuno. Yang kini kehilangan kemampuan puitisnya. Dan membiarkan begitu saja kosa kata indah tergerus oleh modernitas. Sehingga, berpuisi, bersastra terasa menjadi gaya usang. Hmmm..., tiba-tiba secangkir kopi yang ada di depan saya terlihat dan terasa begitu puitis.

Cerita mas Uji tentang kopi Takengon, tentang kebun kopi dan petani kopi disana melengkapi rasa petang tadi. Memperteguh keinginan kami untuk melakukan lebih dari sekedar membaca teks puisi seperti tradisi sebelumnya, karena keinginan terbesar yang saat ini hadir dalam percakapan adalah menumbuhkan kembali puisi dan tradisi bersastra dalam kehidupan. Cukup berangkat dari yang mampu dilakukan, menyapa anak-anak di bangku sekolah dengan mengajak mereka mencintai sastra. Belajar meraba setiap kondisi dengan rasa, lalu mengurainya dengan kata-kata. Mungkin akan menjadi puisi, mungkin juga cerpen atau sekedar menjadi sepenggal kalimat dalam status media sosial mereka. Atau menjadi gaya bahasa dalam percakapan mereka sehari-hari. Bagi kami itu sudah lebih baik. Dengan begitu, anak-anak di bangku sekolah mulai belajar menumbuhkan kepekaan mereka pada setiap situasi yang mereka lihat. Syukur-syukur bisa juga menjadi media pendidikan karakter dan pekerti yang akan menghantarkan mereka lebih kuat dari sekedar menjadi penyair dalam teks. Menjadikan sastra tidak untuk sekedar membahagian para sastrawan/sastrawati. Menempatkan puisi tidak sekedar menjadi pemuas hasrat para penyair. Tetapi mengembalikan sastra pada masyarakat, pada kehidupan. Semoga, bismillah….

Terimakasih untuk percakapan petang dan secangkir kopi yang puitis.