home about project archives id place




















LA ISOLA: Ingin Punya Rumah di Bandung

oleh: IACC ADMIN | Portofolio | 7 Bulan lalu

#2: 145x100cm, Bitumen on canvas, 2020 #3: 72x88 cm, Acrylic on canvas, 2020 #4: 72x88 cm, Acrylic on canvas, 2020 #7: 60x50 cm, Acrylic on canvas, 2021
#8: 40x50 cm, Acrylic on canvas, 2021 #9: 85x70 cm, Acrylic on canvas, 2021 #12: 62x80 cm, Acrylic on canvas, 2021 #13: 60x50 cm, Acrylic on canvas, 2021
#14: 60x50 cm, Acrylic on canvas, 2021 #17: 140x180 cm, Acrylic on canvas, 2021  

Tepat satu tahun lalu, Studio BODO menggelar pameran virtual bertajuk “TITIR: Warning!!!” karya Yaksa Agus. Kata ‘Titir’ diambil dari nama nada Kenthongan yang biasa dipukul dengan irama tertentu untuk menandai terjadinya Bencana--termasuk bila terjadi pagebluk atau pandemi. Saat Kenthong Titir dibunyikan maka yang mendengar wajib melanjutkan dengan memukul kenthongan dan kabarpun tersiar luas, dengan maksud agar masyarakat segera waspada dan melakukan sesuatu.

Pameran “TITIR: Warning!!!” digelar untuk merespon situasi kondisi saat terjadi Pandemi Covid-19. Saat pemerintah memberlakukan PSBB pertama kali pada 20 Maret 2020, banyak kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari dilakukan pembatasan. Aktifitas perkantoran bahkan aktifitas seni juga mendapat pembatasan, bahkan dilarang untuk diadakan.

Dari projek pameran perdana itu kemudian memunculkan sebuah ide pameran virtual kedua yang bertajuk “LA ISOLA: Ingin Punya Rumah di Bandung’, sebuah tajuk yang di ambil dari nama sebuah bangunan di Bandung, yang bernama Gedung ISOLA yang saat ini menjadi Kampus UPI Bandung. Dalam pameran ini, semua karya-karya Yaksa yang dipajang, diberi judul LA ISOLA (series) 1 sampai 17, dengan ukuran beragam.

Mengapa Yaksa mengambil tajuk LA ISOLA, ini masih dalam rangkaian respon situasi akibat pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini, dan istilah ‘ISOLASI’ dalam satu tahun ini begitu akrab di telinga kita. Hal inilah yang kemudian memancing ide Yaksa untuk meminjam istilah LA ISOLA--hingga meminjam semangat isolasi ala Barrety, sang pemilik gedung mewah yang futuristik di jamannya. Isolasi sesungguhnya adalah sebuah kemewahan dan tidak semua orang sanggup melakukannya dengan kesadaran sendiri. Isolasi diri (bukan dalam artian sebagai efek orang yang terjangkit penyakit) menjadi semacam sebuah jalan spiritual, untuk sejenak mundur ke belakang, mengambil waktu untuk mengenali diri sendiri dan kehidupan.

“ Durung isa ngrasaake urip sak tenane, yen durung isa ngrasake turu ing wayah esuk, awan, sore lan bengi” sepotong nasehat hidup orang Jawa yang artinya : belum bisa dianggap bisa merasakan hidup, jika belum bisa merasakan tidur di waktu pagi, siang , sore dan malam. Ini memiliki makna yang dalam dimana tidur di waktu pagi atau siang tentu berbeda rasanya, juga berbeda pula mimpi yang muncul dan maknanya, demikian juga tidur di waktu sore ataupun malam. Disini ketika Yaksa mencoba membuat imajinasi tentang isolasi, ia memaknai dimana saat sendiri , orang tidak akan tahu rasa kesendirian, tetapi ketika mencoba sejenak mundur untuk menyendiri, disanalah akan tahu apa itu Sendiri.

I Isolate My self and Live
La Isola,yang dipinjam Yaksa untuk memvisualisasikan akan sebuah pencariannya akan makna isolasi, adalah sebuah gedung berlokasi di Jl. Setiabudi km 15, Lembang, Bandung. Sekarang dipergunakan sebagai Gedung Rektorat UPI Bandung. Kata ‘Isola’ tertulis di dalam bagian gedung tersebut: M’isolo e Vivo.

Gedung ini dibangun tahun 1933, milik Willem Barrety dan diarsitekturi oleh C.P. Wolff Schoemaker. Sebuah gedung bernuansa Art Deco yang sangat khas. Gedung ini mulai dibangun pada Maret 1933 dan selesai pada Desember 1933. Gedung Isola menghadap ke Gunung Tangkuban Perahu di sisi Utara dan kota Bandung di sisi Selatan.

Barrety sebenarnya tidak lama menempati gedung ini, karena pada tanggal 20 Desember 1934 pesawat yang ditumpanginya dari Eropa jatuh di Gurun Suriah, tepatnya d Mersa Matru. Dan tidak ada yang selamat dalam kecelakaan itu. Barrety, seorang keturunan Indo-Eropa, Jawa-Itali tepatnya. Lahir pada 20 November 1890 di Yogyakarta. Pada 1 April 1917, Barrety mendirikan Algemene Nieuws en Telegraaf Agentschap (ANETA). Dengan kepiawaian dan kecerdasannya, Barrety berhasil memegang monopoli atas distribusi iklan dan siaran pers dari pemerintah Hidia Belanda. ANETA menjadi penyedia dan pengontrol berita-berita internasional lewat jaringan telegram, yang mana ANETA kemudian tumbuh menjadi kantor berita negara Hindia Belanda. Monopolinya atas jalur berita saat itu tentu saja mengganggu banyak wartawan dan juga politikus. Dan tahun 1920-an adalah tahun keemasannya. Selain kedekatannya dengan pemerintah Hindia Belanda, ternyata Barrety juga menjalin kedekatan dengan Jepang. Hal ini membuat pemerintah Hindia Belanda tidak senang dan marah.

Kehidupan Barrety sebagai pria flamboyan sangat terkenal. Ia senang mengadakan pesta dan banyak bergabung dengan para sosialita dan politikus. Yang paling menghebohkan adalah kedekatannya dengan putri Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, BC De Jonge. Dan kabarnya dari hubungan ini banyak rahasia Belanda yang bocor ke Jepang. Kesuksesan media milik Baretty meredup seiring berkembangnya teknologi dari Telegram ke Telepon Nirkabel. Sehingga permintaan berita melalui ANETA juga berkurang. Di tengah krisis ini dan juga tekanan yang dihadapi, Barrety memutuskan membuat sebuah rumah yang saat ini terkenal dengan La Isola ini. Sebuah keputusan yang membawa kesulitan juga untuk ANETA. Beberapa bulan setelah menempati gedung Isola tersebut, ia pergi ke Eropa untuk mencari investor yang bersedia membeli ANETA. Namun saat hendak kembali ke Bandung, pesawat Uiver yang ditumpanginya terjebak di badai pasir di Suriah dan jatuh. Banyak spekulasi mengenai sebab kecelakaan tersebut. Tak ada catatan yang tersisa mengenai Willem Barrety. Satu-satunya sumber tertulis hanya dari Letter of Hands, surat dari sekretaris Barrety—yang kemudian disimpan di arsip Sejarah Belanda—tentang kehidupan flamboyan nan glamour dari seorang The Great Gatsby dari Batavia.

Sepeninggal Barrety, keluarganya memutuskan untuk menjualnya ke Fr. J Van Es tahun 1936, dan menjadi bagian dari Hotel Savoy Homann--dan memakai nama Hotel Isola. Kemudian pada masa PD II digunakan sebagai markas Belanda. kemudian pada masa pendudukan Jepang dipergunakan sebagai Museum Kemenangan Jepang. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, pemerintah Indonesia menasionalisasikan semua aset termasuk Gedung Isola ini dan pada 20 Oktober 1954 oleh M. Yamin (Mentri Pendidikan saat itu), namanya diganti menjadi Bumi Siliwangi (masih terlihat nama ini di fasad gedung). Gedung ini kemudian digunakan sebagai Gedung IKIP Bandung, yang kemudian berubah menjadi UPI Bandung sampai saat ini.

---------------
Isolasi dalam projek pameran ini bukan berarti sendiri terisolir, terisolasi dan terputus dari semua akses komunikasi dengan masyarakat sosialnya . Isolasi pada hakikatnya adalah sebuah kemewahan, akan tetapi hanya milik mereka yang sadar dan memahami makna sebuah kesendirian. Jika melihat bangunan La Isola yang mewah, yang dibangun berdampingan dengan gunung seolah mengabarkan untuk kita, bahwa gunung dan hutan adalah pertapaan para pandita. Seolah kita diajak belajar mewarisi keperkasaan para pertapa dan mengujinya lewat pucuk-pucuk dedaunan. Dimana di atas pucuk-pucuk dedaunan tersimpan harapan bersama patah dan tumbuhnya tak pernah berhenti. Kita bisa merefleksi dan merenungkan akan apa yang telah dan akan kita lakukan untuk kehidupan yang lebih baik.

Dari pameran TITIR: Warning!!! yang kemudian di sambung dengan Pameran LA ISOLA: Ingin Punya Rumah di Bandung , yang digelar mulai tanggal 1 Maret – 1 Mei 2021 ini, merupakan sebuah perjalanan spiritual dalam mencari makna akan arti Sendiri. Sendiri adalah sebuah Kemewahan dan sekaligus sebuah kesederhanaan.

Karya-karya ini dapat dijumpai juga di laman FB: @ Yaksa / IG: @bodo_artstudio atau Youtube: Studio BODO.

Bantul, 1 Maret 2021
Nuryati Agustin Ssos


YAKSA AGUS
Lahir: Bantul, 23 Agustus 1975
Alamat: Bangmalang Cepit Rt 06 Pendowoharjo Sewon Bantul Yogyakarta
HP: 08122747816 / 081225715259
E-mail: yaksa.agus@gmail.com
Facebook: yaksa
IG: @yaksapedia, @bodo_artstudio
Twitter: Yaksapedia@studioBodo
Pendidikan: ISI Yogyakarta